'Susi Susanti: Love All', Kisah Dedikasi Mengharukan untuk Indonesia Film 'Susi Susanti: Love All' mulai tayang 24 Oktober. (foto: IMDB)

SOSOK Susi Susanti dikenal sebagai legenda dan pahlawan bangsa. Berkali-kali ia berhasil membuat lagu Indonesia Raya berkumandang di seantero dunia berkat kepiawaiannya dalam bermain bulu tangkis.

Namun, hal tersebut tak ia dapat dengan mudah. Dalam perjalanannya menjadi legenda, selain berlatih bulu tangkis dengan amat keras, Susi muda juga harus berhadapan dengan situasi politik yang tak menentu.

BACA JUGA: Produseri Film 'Susi Susanti: Love All', Daniel Mananta Deg-Degan

Kecintaannya kepada bangsa ini harus berhadapan dengan problematika dirinya sebagai sosok peranakan.

Di satu sisi, ia begitu mencintai Indonesia. Di sisi lain, eksistensinya sebagai peranakan Tionghoa membuat ruang geraknya tak bebas.

susi susanti: love all
Laura Basuki memerankan Susi Susanti. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

Kisah heroik itulah yang kemudian membuat Laura Basuki terkesan dan bersedia memerankan sosok Susi Susanti dalam film Susi Susanti: Love All yang mulai tayang Kamis (24/10). "Film ini bukan hanya mengangkat perjalanan Susi Susanti menjadi atlet bulu tangkis di negeri ini, melainkan juga membicarakan kecintaan Susi Susanti akan Indonesia yang begitu besar," ujar Laura Basuki.

Laura menuturkan hal yang membuat ia terharu dari sosok legenda bulu tangkis tersebut, yaitu kala mengikuti Olimpiade Barcelona. Ketika itu, Susi belum dapat kewarganegaraan, tapi justru menjadi ujung tombak bagi bangsa ini. "Kecintaannya akan Indonesia, membuat dia ditawari ke luar negeri pun tidak mau," jelas Laura.

Dalam film tersebut, potret kehidupan yang berliku sebagai anak peranakan bukan hanya dihadapi Susi Susanti.

Kita juga bisa melihat sulitnya kehidupan etnis Tionghoa di periode 80-an hingga 90-an melalui sosok Liang Chiu Sia.

Ia merupakan pelatih Susi Susanti yang berhasil mengantarnya menjadi juara di Olimpiade Barcelona 1992 hingga juara dunia 1993.

Susi susanti: Love all
Susi Susanti: Love All menyoroti kecintaan Susi akan Indonesia. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

Sama seperti Susi, perempuan yang akrab disapa Ci Sia tersebut juga harus bentrok dengan masalah kewarganegaraan. Persoalan yang dialami olehnya bahkan jauh lebih pelik. Ia sulit mengurus SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia) yang biasanya dimiliki warga keturunan dan harus puas dengan KITAS
(Kartu Izin Tinggal Terbatas).

Meskipun perpanjangan KITAS-nya tak mudah, Sia didesak pemerintah Indonesia kala itu untuk melatih tim bulu tangkis Indonesia. Kecintaannya akan Indonesia membuat ia mau melatih putra dan putri terbaik Indonesia. Dari tangan dinginnya, lahirlah sejumlah nama pemain bulu tangkis tersohor, seperti Sarwendah Kusumawardhani, Ardy Wiranata, Allan Budikusuma hingga Susi Susanti.

"Yang disoroti di film tersebut bukan hanya tentang dia dan badminton, melainkan
juga kecintaan Susi Susanti akan negara ini," tukas Laura.(avia)

BACA JUGA: Gelar Nobar, INTI Ajak Masyarakat Nonton Film Susi Susanti Love All



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH