Suroboyo Wani! Jejak Jihad Arek Suroboyo Melawan Teror Pamflet digital Suroboyo Wani. (Jawapos.com)

SERANGAN bom meluluhlantahkan 3 gereja di Surabaya, pagi (13/05). Korban jiwa dan luka berjatuhan, mulai orang dewasa hingga anak-anak. Aksi teror tersebut mengundang reaksi keras beragam pihak, termasuk Arek-Arek Suroboyo.

"... Koen ngusik BOYO!!! Suroboyo GAK WEDI COK!!!," cicit akun Twitter klub sepakbola kebanggaan masyarakat Surabaya, Persebaya pada @persebayaupdate.

Persebaya
Cicitan akun resmi Twitter Persebaya Surabaya

Duka mendalam memang menghinggapi seluruh elemen masyarakat di 'Kota Pahlawan'. Tapi bukan Arek Suroboyo bila sekadar meratapi. Mereka memiliki tradisi panjang perlawanan terhadap beragam serangan teror. Mulai utimatum hingga bombardir bom pesawat Sekutu pada "Pertempuran Surabaya" 1945.

Tak Takut Mati

Pesawat Dakota Angkatan Udara Inggris meraung-raung di terik langit kota Surabaya, siang hari 27 Oktober 1945. Dari lambung pesawat, muntah beratus pamflet berisi permintaan penyerahan senjata hasil rampasan dari tangan tentara Jepang kepada Sekutu, sekaligus ancaman tembak di tempat bila tak mematuhi.

Pamflet tersebut bukannya menakut-nakuti, tapi justru membakar semangat rakyat Surabaya. Seluruh badan perjuangan berkoordinasi untuk berjuang sekuat tenaga.

Pertempuran pun pecah. Tembak-menembak kali pertama terjadi antara para anggota PRI Sulawesi (Perisai) dengan tentara Sekutu di muka Rumah Sakit Darmo.

“Tembak-menembak ini merembet ke seluruh kota di Kayoon, Simpang, Ketabang, Jembatan Merah, dan Bentengmiring di Ujung,” tulis Barlan Setiadijaya pada 10 November 1945, Gelora Kepahlawanan Indonesia.

Pertempuran Surabaya
Pasukan Angakatan Laut Kerajaan Inggris saat pertempuran di Surabaya. (imperial royal museum)

Konvoi kendaraan Inggris mandek karena barikade. Truk pengangkut logistik dicegat laskar. Pos-pos kecil di seluruh kota digempur badan-badan perjuangan. “Mereka diserang dengan senjata apa adanya. Aliran listrik, telepon, dan saluran air diputus, sehingga pasukan Inggris sangat menderita karena tidak menerima pasokan logistik dari luar” tulis Barlan.

Mayat-mayat pasukan India terombang-ambing di Kali Mas. Pasukan India Brigade ke-49 sebanyak 6.000 personel hancur lebur dan diambang kekalahan. Markas mereka di Darmo, Gubeng, Ketabang, Sawahan, Bubutan, dan daerah pelabuhan serta lapangan terbang Morokrembangan dikepung arek-arek Suroboyo.

Pertempuran 3 hari, 28-30 Oktober 1945, seturut Letkol Doulton pada The Fighting Cock, sangat menguras tenaga pasukan Inggris. Tiap pos Inggris terkepung. Pertempuran berlangsung hingga tengah malam. “Waktu sangat lamban, dan setiap jam, posisi pertahanan kita terus memburuk,” ungkapnya.

Doulton terheran-heran dengan semangat juang arek-arek Suroboyo. Mereka, lanjut Doulton, tak memperhitungkan nyawa. “Bila seorang gugur, lainnya tampil ke depan, seperti orang mabuk dan menggila melihat darah,” imbuh Doulton.

Jihad Melawan Teror

Kondisi pertempuran semakin kritis bagi Inggris. Komandan Pasukan India Brigade ke-49 AWS Mallaby kemudian mengambil jalan perundingan untuk keluar dari pertempuran. Mallaby mengirim kawat SOS kepada atasannya di Jakarta.

Pada pertempuran selanjutnya bahkan Mallaby meregang nyawa. Kematian sang komandan lantas membuat murka pihak Sukutu. Mereka mengirim seluruh sumberdaya pasukan untuk menggempur Surabaya.

Lagi-lagi Arek-Arek Suroboyo tak pernah sedia menyerah. Mereka terus melawan meski korban semakin banyak berjatuhan. Organisasi Islam terbesar di Jawa Timur, Nahdlatul Ulama, mlantas mengeluarkan Resolusi Jihad untuk berjuang mempertahankan tanah air.

"Bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum AGAMA ISLAM, termasuk sebagai suatu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam," bubuh salah satu poin pada Resolusi Jihad NU.

Jihad NU
Resolusi Jihad NU. (nu.or.id)

Seluruh pemuda semakin menggila di palagan. Mereka tak takut mati. Beberapa pemuda bahkan nekat menabrakan diri selagi menarik pelatuk bom pada tank-tank Sekutu.

Pertempuran Surabaya menjadi saksi perjuangan sekuat tenaga Arek Suroboyo berjihad melawan teror Sekutu. Suroboyo Wani! (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH