Surabaya Sabet Tiga Penghargaan Sekaligus, Wapres JK Akan Serahkan Langsung ke Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana. (kanan). (Foto Facebook Whisnu Sakti Buana)

Merahputih.com - Kota Surabaya akan menerima tiga penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yaitu Adipura Kencana, Kinerja Pengurangan Sampah, dan Nirwasita Tantra.

"Surabaya menerima tiga penghargaan sekaligus dari KLHK pada 14 Januari 2019," kata Kabag Humas Pemkot Surabaya, M. Fikser di Surabaya, Minggu (13/1).

Rencananya tiga penghargaan itu akan diterima langsung oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini di Auditorium Dr. Soedjarwo, Gedung Manggala Wanabakti, Gatot Subroto Jakarta Pusat, Senin, (14/1).

Tiga penghargaan dari KLHK itu akan diserahkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada Wali Kota Surabaya. Ia menjelaskan, sejak kepemimpinan Wali Kota Risma, Surabaya tercatat sudah delapan kali berturut-turut menerima penghargaan Adipura.

Hal ini, lanjut dia, dikarenakan Surabaya dinilai konsisten mewujudkan kebersihan dan keindahan kota. "Tujuan utamanya bukanlah mendapat sebuah penghargaan atau piala, namun bagaimana mewujudkan supaya Surabaya tetap menjadi kota yang bersih dan nyaman," katanya.

Surabaya yang cantik dan indah dengan bunga tabebuya. (Foto: instagram@norumrifky)

Terakhir, Surabaya menjadi kota favorit di ajang penghargaan bergengsi dunia "The 4th Guangzhou International Award for Urban Innovation" yang digelar di Guangzhou, China pada 7 Desember 2018.

Sebelumnya, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan keberhasilan Surabaya dalam hal kebersihan lingkungan tidak lepas dari partisipasi masyarakatnya. Pada 2003, lanjut dia, Surabaya mengalami masalah besar sampah. Saat itu, Surabaya dikenal sebagai kota yang panas, kering, dan sering banjir selama musim hujan.

Hampir 50 persen dari total wilayah Surabaya banjir pada waktu itu. Untuk mengatasi masalah ini, Risma mengajak partisipasi masyarakat yang kuat untuk bekerja bahu membahu dengan pemerintah kota dalam melakukan pengelolaan limbah.

Alasan mengajak partisipasi masyarakat, menurut Risma, karena Kota Surabaya memiliki masalah besar untuk diselesaikan, tetapi dengan anggaran terbatas yang tersedia.

Oleh karena itu, pihaknya kemudian menciptakan berbagai macam program dan kebijakan untuk menyelesaikan masalah ini, agar tidak membebani anggaran lokal, di antaranya yakni mengajak masyarakat untuk ikut berperan serta bersama pemerintah mengatasi permasalahan sampah.

surabaya bunga tabebuya
Bunga tabebuya membuat Surabaya lebih adem. (Foto: instagram@sun.adventure28)

Warga mulai diajarkan bagaimana mengelolah sampah secara mandiri, yang berkonsep pada 3R. Partisipasi publik yang kuat menjadi faktor utama keberhasilan Kota Surabaya dalam mengatasi permasalahan sampah.

Metode pengomposan sederhana dengan biaya rendah, sebagaimana dikutip Antara, juga diperkenalkan kepada masyarakat dengan menggunakan keranjang Takakura di setiap rumah. Bahkan, warga mulai diajak mendirikan bank sampah, di mana orang dapat menjual sampah anorganik mereka secara teratur dan menarik uang ketika mereka membutuhkannya.

Banyak bahan dari sampah yang digunakan kembali sebagai dekorasi kampung, pot bunga, pohon natal, dan sebagainya. Orang-orang juga mendaur ulang sampah anorganik menjadi produk yang bernilai ekonomis untuk dijual dan mendapatkan penghasilan tambahan.

Ia mengatakan, Surabaya juga bekerja sama dengan mitra internasional dalam metode pengelolaan limbah, termasuk Kota Kitakyushu untuk pengomposan dan pemilahan sampah, serta Swiss untuk penggunaan lalat hitam dengan tujuan mengurangi sampah organik. (*)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH