Sunan Kudus, Umat Hindu, dan Sapi Betina Sunan Kudus atau Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan. (Foto/metrojateng.com)

SUNAN Kudus membawa seekor Sapi ke halaman Masjid Menara (Masjid Kudus, kini). Ia membiarkan masyarakat Kudus, kebanyakan masih beragama Hindu, mendekat. Satu per satu di antara mereka masuk halaman masjid. Sunan Kudus pun memainkan peran.

"Setelah orang-orang Hindu datang ke halaman masjid, Sunan Kudus mengucapkan salam bahagia dan selamat datang lalu kemudian berceramah, berdakwah, dan saling berdialog," tulis Sri Indrahti dalam buku Kudus dan Islam: Nilai-Nilai Budaya Lokal dan Industri Wisata Ziarah.

Dalam ceramahnya, Sunan Kudus seringkali menggunakan potongan-potongan ayat suci Al-Quran, khususnya surat Al Baqarah, berarti sapi betina. Ia mengimbau kepada kaum muslim agar tidak menyembelih dan memakan dagi Sapi. Imbauan tersebut membuat masyarakat, umat Hindu, di halam masjid terperangah.

Bagi umat Hindu, Sapi merupakan hewan sakral. Dalam kitab Niti Sastra bagian Hitopadesa Sloka 39, tersua sebuah tradisi Hindu menyebutkan beberapa entitas Ibu dan harus dihormati, "Adau-mata guroh patni, brahmana raja-patnika, dhenur dhatri tatha prthivi, saptaita matarah smrtah". Berati, ibu kandung, istri guru (guru kerohanian), istri brahmana (varna-brahmana), istri raja, sapi, perawat dan ibu pertiwi (bumi).

Umat Hindu memuliakan Sapi, sehingga tidak menyembelih dan mengkonsumsinya. "Dengan metode seperti itu, akhirnya sebagian besar pemeluk agama Hindu menjadi simpati kepada Sunan Kudus dan bersedia masuk Islam," kata Sri Indrahti.

Sunan Kudus, merupakan satu di antara sembila wali penyebar Islam, memiliki pendekatan tasawuf dalam berdakwah. Sunan bernama lengkap Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan itu mampu mendudukkan bahwa akhlak itu jauh lebih tinggi di atas fiqih.

Menara azan yang menyerupai Pura di Kudus. (Foto/YouTube)
Menara azan yang menyerupai Pura di Kudus. (Foto/YouTube)

Tak hanya itu, Sunan makin menjadi-jadi dalam menghargai umat Hindu. Dengan misi awalnya untuk meng-Islamkan masyarakat Kudus, Ja'far membangun menara kudus untuk azan yang menyerupai Pura, Rumah Ibadah Umat Hindu.

Hingga kini, ketetapan dan peninggalan Sunan tersebut masih bisa kita jumpai di Kota Kudus. Tradisi tidak menyembelih sapi pada Hari Raya Idul Adha masih berjalan sampai sekarang. Selain itu, menara azan yang menyerupai Pura masih berdiri tegap di Kota tersebut.

Setidaknya, Sunan Kudus memiliki tiga metode luwesnya dalam penyebaran Islam di Kota Kudus. "Demi menghormati orang Hindu Kudus, ia menghimbau masyarakat untuk tidak berkurban sapi. Sering Mengutip surat Al-Baqarah yang artinya Sapi Betina. Membentuk menara kudus untuk azan yang menyerupai Pura," seperti dikutip dari buku Hanya 2 Menit Bisa Tahu Potensi Rezeki - Halaman 88.(*)

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH