Sultan Keraton Kasepuhan Kunjungi Tiongkok, Ada Apa ? Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan, PRA Arief Natadiningrat. (MP/Mauritz)

Hubungan Cirebon dengan Tiongkok sudah terjalin erat sejak ratusan tahun lalu. Bersandarnya kapal Laksamana Cheng Ho di Pelabuhan Muarajati, Cirebon pada abad 14 lalu menjadi tonggak persahabatan kedua wilayah. Bahkan, hingga kini sejumlah peninggalan negeri tirai bambu tersebut masih banyak ditemukan di Cirebon.

Tak heran Pemerintah pun menetapkan jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia sebanyak 10 juta pada tahun 2019 mendatang. Namun, target tersebut tidak akan tercapai jika promosinya tidak dipersiapkan dengan baik.

Belum lama ini, Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat melakukan kunjungan ke sejumlah kota di Tiongkok. Tentu tujuannya untuk mempromosikan Indonesia sebagai tujuan wisata yang wajib dikunjungi wisatawan negeri panda itu.

"Bertemu dengan delapan pimpinan daerah di Tiongkok, antara lain Fuzhou, Tianjin dan Guangzhou. Kami membahas untuk membuat jalur wisata Cheng Ho di Indonesia yang meliputi sembilan daerah meliputi Batam, Aceh, Palembang, Jambi, Banten, Cirebon, Semarang, Surabaya dan Bali," kata Arief di Cirebon, Minggu (22/1).

Sultan Arief yang juga Presiden Internasional Cheng Ho Chapter Cirebon tersebut juga mengatakan, dengan pembangunan kawasan wisata Cheng Ho tersebut, akan semakin menarik pelancong Tiongkok ke Indonesia, khususnya Cirebon.

Saat ini, menurutnya, jumlah turis Tiongkok ke Cirebon masih sedikit. Padahal, warisan sejarah Tiongkok paling banyak terdapat di Cirebon dibanding delapan daerah lain yang pernah dikunjungi Cheng Ho.

"Keramik yang terdapat di area keraton dan komplek makam Sunan Gunung Jati itu asli dari Tiongkok yang dibawa Cheng Ho dan Putri Ong Tien Nio. Ada keramik yang berusia 1.000 tahun peninggalan Dinasti Tang dan keramik berusia 700 tahun dari Dinasti Ming. Bahkan, di Tiongkok sendiri keramik-keramik tersebut sudah tidak ada tapi di Cirebon masih ada," ujarnya.

Ia juga mengatakan, melalui pembangunan kawasan Laksamana Cheng Ho, masyarakat kedua bangsa dapat saling belajar bagaimana hubungan sejarah Indonesia-Tiongkok. Bahkan, Arief juga sudah mengajukan ke Pemprov Jabar untuk membuka jalur penerbangan Cirebon-Tianjin dan sebaliknya di Bandara Internasional Kertajati.

"Melalui pembangunan kawasan wisata Cheng Ho kita bisa saling belajar tentang perdamaian, persahabatan, dan kekeluargaan antara masyarakat kedua bangsa. Seperti saat Cheng Ho melakukan persinggahan selama ekspedisinya," ujarnya.

Berita ini berdasarkan laporan Mauritz, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Cirebon dan sekitarnya. Dapatkan informasi lainnya dari Cirebon dalam artikel: Cicipi Dessert Kekinian dari Olahan Greentea di Eatboss Cafe.



Selvi Purwanti

LAINNYA DARI MERAH PUTIH