Sukarno Memilih Berdiplomasi, Soedirman Memutuskan Gerilya (20) Sukarno dan Soedirman duduk berdampingan.

PERJALANAN menuju Gedung Agung Yogyakarta bukan perkara mudah. Berulang kali mobil sedan beriring pick up berisi satu kompi pasukan pengawal harus menepi, berteduh di bawah gedung atau pohon besar menghindari manuver pesawat pemburu Belanda. Setelah keadaan aman, mobil kembali melaju.

Setiba di lokasi, para menteri dan tokoh penting seperti Sri Sultan Hamengku Buwana IX, Ir Juanda, Sutan Syahrir, juga Dokter Asikin, salah seorang tim dokter menangani operasi pengangkatan sebelah paru-paru Soedirman, tampak terkejut mendapati kehadiran sang panglima besar.

Dr. Asikin kemudian meminta Pak Dirman untuk beristirahat sebentar di sebuah kamar terletak di sebelah kanan Gedung Agung. Soedirman hanya sebentar rehat, lalu kembali duduk di ruang tamu. “Beliau lalu duduk di ruang tamu. Panglima terlihat tenang sekali”, ujar Tjokropranolo, salah seorang pengawal Soedirman, pada Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia.

Kehadiran Pak Dirman di Gedung Agung, menurut wartawan senior Kompas, Julius Pour pada Doorstoot naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil–Militer, terjadi saat berlangsung sidang kabinet. Begitu salah seorang pengawal Sukarno, Mangil, mengabarkan kedatangan sang panglima besar, sang presiden langsung keluar menemui.

Sukarno, menurut kesaksian Mangil sebagaimana nukilan Julius Pour, menganjurkan agar Soedirman bersembunyi di kota sembari melanjutkan pengobatan dan bila sudah sembuh bisa melanjutkan perjuangan.

Pak Dirman tentu menolak karena bila seorang panglima besar tertangkap akan menimbulkan efek psikologis terhadap prajurit akan sangat berat. “Sebaliknya, Pak Dirman mengajak Bung Karno ikut berangkat ke luar kota untuk melanjutkan perjuangan,” papar Mangil.

Bung Karno menolak. Dia memilih untuk menetap di Gedung Agung bersama Bung Hatta sambil berjuang melalui jalan diplomasi. “Dirman, engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan perang bersama pasukanmu. Tempatmu bukan tempat pelarianku. Aku haru tinggal di sini, dan mungkin bisa berunding untuk kita, serta memimpin rakyat kita,” ungkap Sukarno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.

“Jika Bung Karno tetap di sini, boleh jadi bung akan dibunuh,” ungkap Soedirman.

“... Dan kalau aku keluar dari sini? Belanda mungkin juga menambakku? Dalam kedua hal tersebut, aku bakal menghadapi kematian,” timpal si bung.

Tak ada kata sepakat. Soedirman undur diri melanjutkan perjuangan, dan Sukarno tetap di Gedung Agung.

Dengan kesehatan kembang-kempis, Soedirman mengajak para prajurit untuk masuk ke hutan meneruskan perang terhadap Belanda. (*)

Jangan lupa Broer-Broer Sahabat MP, simak artikel terkece terkait kisah Jenderal Soedirman lainnya berikut ini:

Lewat Secarik Kertas Bertulis Samar-Samar, Soedirman Mengeluarkan Perintah Kilat Nomor 1 (19)

Soedirman Memimpin Perjuangan Hanya Dengan Satu Paru-Paru (18)

Semrawutnya Seragam Prajurit Kawal Soedirman, Dari Baju Serdadu Inggris Hingga "Halflaars" Jepang (17)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH