Sudan Tuding Mesir Curi Kuota Air dari Sungai Nil Nelayan melaut dengan perahu saat air surut di Sungai Nil, Kairo, Mesir. (ANTARA FOTO/REUTERS/Amr Abdallah Dalsh)

MerahPutih.Com - Hubungan Mesir dan Sudan kembali tegang, setelah Sudan menuding Mesir mencuri kuota air dari Sungai Nil untuk negaranya selama bertahun-tahun. Otoritas Sudan menyebutkan bencana kekeringan dan kelaparan di negaranya merupakan dampak langsung jatah air Sudan yang diambil Mesir.

Sementara Mesir kelimpahan debit air dari Sungai Nil. Padahal dalam perjanjian negara-negara aliran Sungai Nil, bahwa setiap negara mendapat jatah kuota air yang sama.

Atas tuduhan Sudan tersebut, Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry pada Rabu (22/11) membantah pernyataan timpalannya dari Sudan bahwa Mesir menggunakan sebagian kuota air Sungai Nil milik Sudan selama bertahun-tahun.

Di dalam pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita resmi Mesir, MENA, Shoukry mengatakan kuota tahunan air Sungai Nil Sudan, selama beberapa waktu pada masa lalu, telah jauh lebih banyak dapat kapasitasnya, sehingga setiap kelebihan akan secara normal mengalir ke Mesir melalui sungai tersebut.

Menteri Luar Negeri Sudan Ibrahim Ghandour mengatakan selama wawancara baru-baru ini dengan media Rusia, Today, Mesir telah menggunakan sebagian kuota air Sudan selama bertahun-tahun.

Surplus "yang tak terduga ini" telah menjadi "beban pada dan ancaman buat" Bendungan Tinggi Aswan di Mesir, yang tak bisa menyimpan tambahan air terutama selama musim banjir, kata Shoukry, sebagaimana dilaporkan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis siang. Ia menambahkan Mesir harus dengan susah payah mengalirkan air yang tak di gunakan oleh Sudan tersebut ke Danau Toshka di belakang Bendungan Aswan.

Shoukry mengatakan ia terkejut bahwa Ghandour akan menempatkan kondisi itu sebagai hubungan "pemberi kredit dan pengutang", yang tak mungkin terkait sumber daya alam.

Menteri Luar Negeri Mesir tersebut mempertanyakan alasan dan motif di balik pernyataan "yang tidak akurat" semacam itu pada saat ini.

Pernyataan Menteri Luar Negeri Sudan tersebut dikeluarkan beberapa hari setelah perundingan Mesir dengan Ethiopia dan Sudan gagal menyetujui kajian awal mengenai dampak dari Bendungan Raksasas Renaissance Ethiopia (GERD) atas negara hilir.

Presiden Mesir Abdel-Fattah As-Sisi dan Perdana Menteri Ethiopia Hailemariam Desalegn dijadwalkan bertemu di Kairo pada Desember guna membahas kebuntuan itu.

Mesir mengkhawatirkan bagian tahunannya sebanyak 55,5 juta meter kubik air Sungai Nil di tengah pembangunan cepat GERD.(*)


Tags Artikel Ini

Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH