Misteri di Balik Suara 'Penunggu Gunung' Saat naik gunung, pendaki kerap mendengar suara-suara misterius. (foto: pixabay/simon)

GUNUNG menjadi tempat dengan berbagai daya tarik. Keindahan alam, udara segar, hingga daya tarik mistis ialah beberapa alasan pendaki menjajal sebuah gunung.

Bagi para pendaki, ada saja pengalaman menarik saat menuju ke puncak gunung. Tak sedikit juga yang mengaku mendengar suara-suara misterius saat dalam perjalanan. Mitosnya, suara-suara itu berasal dari penunggu gunung.

Apa benar demikian?

Dr Hermann Burgger, pemimpin di Institute of Mountain Emergency Medicine di Eurac Research Italia, mengungkapkan kepada Live Science bahwa atmosfer dan ketinggian gunung dapat membuat orang mengalami fase ‘gila’ sesaat. Semakin tinggi posisi kamu di gunung, semakin mudah bagi kamu menangkap suara-suara misterius yang entah berasal dari mana.

alone
Gejala psikosis bikin pendaki berhalusinasi. (foto: pixabay/pexels)

Menurut para ahli, hal itu disebabkan psikosis. Psikosis adalah gangguan mental yang membuat seseorang sulit membedakan mana kenyataan dan mana yang hanya halusinasi. Orang yang mengalami psikosis cenderung tidak sadar dengan apa yang terjadi pada diri mereka pada saat itu. Dalam hal mendaki gunung, semakin tinggi kamu mendaki, semakin besar risiko mengalami psikosis

Hal itu dibuktikan pengalaman Dr Jeremy Windsor saat mendaki Gunung Everest pada 2008. Ketika mendaki gunung sendirian, ia merasa memiliki teman baru bernama Jimmy yang mengajaknya mengobrol selama di perjalanan. Namun lama kelamaan, teman barunya tersebut hilang tanpa bekas.

Selain karena efek psikosis, para ahli meyakini suara-suara misterius saat naik gunung juga berhubungan dengan penyakit ketinggian atau altitude sickness. Penyakit ketinggian adalah kondisi yang biasa menyerang pendaki gunung pada ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Altitude sickness umum terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen sehingga menyebabkan pusing, mual, dan gangguan keseimbangan.

Semakin tinggi posisi pendakian, semakin rentan pendaki terkena psikosis. (foto: pixabay/kanenori)

Kadar oksigen di ketinggian tertentu yang memang lebih rendah juga ikut andil. Saat tubuh kekurangan oksigen, aliran darah menuju otak jadi berkurang. Hal itu membuat seseorang kehilangan fokus. Hal itulah yang menyebabkan orang mengalami halusinasi.

Gejala psikosis dan penyakit ketinggian saat mendaki harus segera diatasi. Hal itu untuk mencegah risiko kecelakaan. Pasalnya, penyakit itu dapat menyebabkan seseorang berperilaku aneh dan melakukan hal-hal yang berbahaya. Sebagai contoh, psikosis bisa membuat kamu merasa mendengar suara yang menyuruh untuk keluar dari jalur pendakian sehingga akhirnya tersesat di gunung.

Dalam kasus yang paling parah, ada pula pendaki gunung yang merasa terpanggil untuk melompat ke bawah agar lebih cepat sampai ke posisi semula. Hal itu juga menjelaskan mengapa para pendaki rentan kehilangan arah dan hilang saat pendakian.

Pastikan melakukan persiapan matang sebelum mendaki gunung. (foto: pixabay/sirigel)

Meskipun demikian, gejala halusinasi ini biasanya akan berkurang setelah kamu mulai turun gunung. Ketika mulai menuruni gunung, kamu akan mendapatkan lebih banyak oksigen untuk bernapas. Akibatnya, tingkat kesadaran akan berangsur-angsur kembali normal.

Untuk mencegah gejala penyakit ketinggian, pastikan kamu sudah menyiapkan perbekalan yang cukup sebelum naik gunung. Jika kamu mulai merasakan pusing atau hilang fokus, istirahatlah sejenak dan segera minum air putih yang banyak. Hal itu dapat membantu memenuhi kebutuhan oksigen dalam tubuh dan menurunkan risiko halusinasi sesaat yang mungkin terjadi.(*)



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH