Suara Nusantara dalam Acara Temu Musik 6.1 Acara Temu Musik 6.1 Skena Nusantara. (Foto/Zaimul Haq)

SUARA gaung gong seolah membunuh bisik di ruang Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM). Bunyinya terdengar 3 kali. Pada pukulan ketiga lampu mulai meredup. Sekejap kemudian, di atas panggung tampak 9 pemuda dengan formasi setengah lingkaran duduk sambil memeluk erat gitar masing-masing.

Di depan mereka tampak pula seorang Komponis beraksi.

Acara Temu Musik 6.1 Skena Nusantara. (Foto/Zaimul Haq)
Acara Temu Musik 6.1 Skena Nusantara. (Foto/Zaimul Haq)

Tangan sang komponis mulai meliuk-liuk seakan menyusun riuhnya denting gitar. Berurutan, nada-nada itu terus berjalan hingga bar ke-24. "Komposisi ini diberi judul Minangmalis," kata sang Komponis yang tergabung dalam grub Jakarta Enam Senar (JES). Penampilan ini mereka sajikan untuk membuka acara 'Temu Musik 6.1 Skena Nusantara' di Jakarta.

Acara yang digagas Komunitas Pertemuan Musik ini bertujuan untuk merayakan tahun ke-61 hari jadi mereka. "Tema skena Nusantara ini diambil bertujuan untuk menggali kekayaan Nusantara lewat ekplorasi-eksplorasi musik yang lebih bebas," jelas Direktur Pertemuan Musik, Gema Swaratyagita.

JES bukan satu-satunya grup yang tampil dalam acara ini. Beberapa grup lain setelahnya mulai bergantian memperagakan musik dengan tema-tema Nusantara karya masing-masing. "Mereka ada yang menjadi bintang tamu dan ada juga yang lolos pemilihan untuk tampil di acara ini," Jelas Gema.

Penampilan Daniel Milan, komponis asal Mexico misalkan. Karyanya yang berjudul Melaras Gitar tersebut merupakan hasil pemilihan. Dalam komposisinya,Daniel mengambil tema suara persawahan dengan latar belakang kokok ayam jantan.

Selain Daniel, ada juga komposisi karya Nurendra Nasharudin yang berjudul Nyong Eling. Musik beraroma perjalanan spiritual ini sengaja diciptakannya untuk mengingatkan dirinya akan kampung halaman. "Ini diciptakan murni untuk pengingat saya sendiri," jelas Nurendra usai penampilannya.

Hili Mahardika juga tampil dengan karya terpilihnya. Alunan musik sedikit seram yang ia mainkan diberi judul Aritme, sebuah nama penyakit jantung. "Ide itu tak lepas dari judul yang telah dibuat," jelasnya.

Setelah penampilan komponis-komponis terpilih, acara ini dilanjutkan dengan penampilan bintang tamu seperti, Arham Hariadi. Ia menampilkan komposisi dengan judul Perangko Madura. Bersama dengan kelompok musiknya, Arham dengan penuh penghayatan memukul gamelannya. Ia mengaku, komposisi hasil ciptaannya terinspirasi dari gamelan yang berumur 500 tahun di Madura.

"Nada yang saya sajikan ada juga yang diambil dari pengrajin gamelan di Madura. Waktu itu saya rekam dan masukkan sedikit ke dalam komposisi saya," jelas Arham.

Selain Arham sebagai bintang tamu, ada juga penampilan Ubeit Raseuki dan Presentasi Lokakarya Suara Nusantara. Penampilan ini adalah hasil workshop selama 6 jam Ubeit dan grubnya. Ia mengakui, dalam workshop tersebut ia menemukan titik temu perbedaan lewat nyanyian.

"Kami mengindentifikasi, ada bentuk-bentuk khas dari nyanyian Nusantara. Mulai dari upacara adat yang dipimpin kepala adat dan masyarakat," jelasnya.

Penampilan itu dilakukan oleh 14 orang yang dikelompokkan menjadi empat. Kemudian menyanyikan suara-suara yang mereka temukan seputar Nusantata.

Taufiq Adam dan Adra Karim tampil sebagai penutup acara dengan karyanya berjudul Awak Don't Know. Musik bernuansa Minangkabau lagi-lagi disajikan dalam penampilan ini. (Zai)

Baca Juga:Band Perkusi Ini Kenalkan Musik Nusantara ke Dunia



Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH