Studi Menemukan Penyebab Makan Lebih Banyak saat Karantina Makan bersama di dalam keluarga sebenarnya menyenangka. (Foto: Unsplash/Stefan Vladimirov)

MASA karantina akibat pandemi COVID-19 menyisakan berbagai tinjauan ilmiah. Bukan hanya masalah virus corona itu melainkan persoalan lainnya yang menyertai kehidupan manusia. Salah satunya adalah aktivitas makan bersama dalam keluarga.

Dalam kondisi normal, sebelum pandemi, bisa jadi merupakan aktivitas yang menyenangkan. Sayangnya justru menjadi bumerang yang membuat emosional anak mudah terbawa kearah negatif.


Baca Juga:

Bersepeda Kembali Tren, 5 Tips Ini akan Menjagamu Aman dari Virus

makan
Makan bersama bila memiliki tekanan emosional akan membuat orang makan lebih banyak. (Foto: Unsplash/Jaco Pretorius)


Laman The New York Times menuliskan, dalam kondisi pandemi aktivitas membuat orang melakukan hal yang sama setiap harinya. Keseharian hanya berulang dari A ke Z terus berulang, bangun, mandi, makan, nonton film dan tidur lagi. Salah satu yang ikut berulang adalah makan bersama. Yang bisa jadi tadinya kegiatan menyenangkan bercampur dengan kondisi emosional yang membludak akibat karantina.

Barbel Knauper, profesor psikologi kesehatan di Universitas McGill, menunjukan adanya keterkaitan antara tidur dan olahraga serta struktur dan kesehatan mental. Kondisi ini mempengaruhi semua rumah tangga meskipun dengan atnmosfer yang berbeda.

Knauper menyebutkan makan bersama kemudian menjadi lebih emosional yang sangat mempengaruhi anak-anak. Secara umum, dua hal besar yang membuat anak makan secara emosional adalah kebosanan dan stres. Anak-anak sangat mudah terpengaruh karena melihat banyak hal dan mudah mengikuti apa yang mereka lihat secara langsung. Kemudian mereka mencontohnya karena emosinya terpengaruh.

Umumnya orang akan makan lebih banyak karena pengaruh dari stres itu. Namun tak sedikit juga yang tidak mampu mengonsumsi makan lebih banyak atau dalam posi normal. Knauper mengatakan bahwa dengan stres yang lebih lama dan berkelanjutan, mayoritas cenderung makan lebih banyak.


Baca Juga:

Pentingnya Jaga Kebugaran di Tengah Pandemi

makan
Adanya kecenderungan orang menjadi gemuk saat karantin apndemi. (Foto: Unsplash/Pablo Merchán Montes)

Makan emosional dapat berarti makan berlebihan. Dr. Julie Lumeng, profesor di University of Michigan, mengatakan hal ini sebagai respons terhadap emosi negatif, kecemasan, kesedihan, kemarahan atau kebosanan. Mereka yang mempelajari obesitas membedakan makan emosional dari motivasi lain yang menentukan berapa banyak orang makan seperti reaksi mereka terhadap ketersediaan makanan, atau rasa kenyang.

Lumeng, kondisi ini lebih banyak dialami orang dewasa ketimbang anak-anak. Meskipun tidak menutup kemungkinan adanyaa tren kenaikan pada anak-anak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada kontribusi genetik untuk makan banyak karerna pengaruh emosional. Lumeng menunjuka bahwa makan emosional di masa anak-anak karena pengaruh lingkungan dan cara orangtua membesarkan anaknya.

Apakah anak-anak makan sebagai respons terhadap stres? Menurut Lumeng, beberapa anak da[pat melakukannya. Tapi ada baiknya melihat lebih dekat pada apa yang mengganggu mereka. Ketika kita berpikir mereka makan lebih banyak karena pandemi, apakah itu karena mereka sedang sedih secara emosional, atau kecemasan, depresi atau mereka bosan ? Itu adalah pertanyaan yang sebenarnya. (joe)


Baca Juga:

3 Kebiasaan Makan dan Minum Ini Bisa Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh



Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH