Strategi Perang 'Supit Urang' Jenderal Soedirman yang Bikin Pasukan Sekutu Kewalahan (11) Panglima Besar Jenderal Soedirman disambut para pasukan.

MEMASUKI Desember 1945, kekuatan pasukan sekutu di Ambarawa berkurang. Sebagian besar sudah beralih di Semarang. Hanya tersisa beberapa peleton Gurkha dan tentara India. Peluang merebut kembali Ambarawa pun terbuka.

Para pengatur strategi perang pun berpikir merebut posisi strategis Ambarawa. Bukan dengan serangan-serangan sporadis, seperti saat Pertempuran Magelang sebelumnya, melainkan dengan satu serangan terencana. Serangan ini tentu melibatkan laskar-laskar rakyat.

Jenderal Soedirman, sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) definitif karena menunggu waktu pelantikan, membentuk Markas Pusat Koordinasi Pertempuran (MPKP) untuk menghadapi konsentrasi pertahanan Sekutu-Belanda di Ambarawa.

MPKP bertugas mengatur siasat dan pengerahan dari beberapa daerah, seperti Banyumas pimpinan Isdiman; Kedu di bawah Soerjosumpeno; Kedu Selatan dikomandoi Sroehardoyo. Sementara itu, Soedirman memilih Letkol Isdiman (komandan BKR Purwokerto) menjadi komandan MPKP.

Mobilisasi kekuatan tersebut berhasil mengerahkan sekira 20 batalyon TKR. Dari para anggota TKR ini membawa persenjataan dengan rasio 5 orang1 senjata, dan 10 orang anggota laskar atau Tentara Pelajar memegang 1 senjata.

Baca Juga: Kericuhan Saat Pemilihan Panglima Besar, Soedirman Kalahkan Oerip Soemohardjo (10)

Baca Juga: Aksi Soedirman Melucuti Senjata Jepang Tanpa Kontak Senjata (9)

Baca Juga: Sekolah Ditutup Tak Lagi Jadi Guru, Soedirman Beroleh Didikan Militer Jepang (8)

Ambarawa dibagi menjadi beberapa sektor guna memudahkan pengaturan serangan. Isdiman bersama pasukannya ditempatkan di sektor selatan Ambarawa, menggantikan posisi mayor Imam Handrongi di desa Kalurahan.

“Sekutu rupanya mengetahui pergerakan ini melalui mata-matanya,” tulis Tjokropranolo dalam Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia.

Senin, 26 Nopember 1945, berlangsung acara serah terima di gedung sekolah desa Kalurahan, Ambarawa. Tetiba pesawat Mustang milik RAF Inggris melakukan serangan udara ke arah lokasi gedung sekolah. Kavaleri tank-tank Inggris pun turut menyerang melalui jalan darat. Korban berjatuhan di pihak Indonesia. Letkol Isdiman, salah satunya.

Dia tiba-tiba tersungkur ketika berlindung di bawah sebuah pohon waru untuk memberi aba-aba pasukannya menyerang balik lawan. Peluru-peluru pesawat RAF mengoyak tubuhnya.

“Pak Isdiman masih sempat dibawa ke RSU Magelang dengan mobil milik Imam Handrongi. Namun pada hari rabu 28 Nopember 1945, ia meninggal dan jenazahnya dibawa ke Yogyakarta untuk dimakamkan,” tulis Tjokropranolo.

Soedirman lalu menunjuk Gatot Subroto sebaga pengganti Isdiman. Bahkan Pak Dirman, panggilan akrab lazimnya kala itu tanpa menyebut pangkat, ikut turun ke front.

Dari Markas Pimpinan Pertempuran di Magelang, Soedirman menyusun serangan terhadap Ambarawa. 11 Desember 1945. Dia mengumpulkan seluruh komandan sektor. Dalam rapat itu dihasilkan 4 keputusan:

“Pertama, dijalankan siasat menjepit seperti Supit Udang atau dalam istilah bahasa Belanda disebut Nijptang dengan menguasai jalan raya Semarang-Yogya dengan cara sergapan mendadak; Kedua, serangan dimulai tanggal 12 Desember 1945 pukul 04.30 WIB jelang fajar; Ketiga, serangan dilakukan serentak di semua sektor dibawah komando sektor TKR masing-masing; Keempat, komando penyerangan dibunyikan tepat 04.30 WIB dengan isyarat tembakan pistol,” tulis Tjokropranolo, mantan pengawal Soedirman, juga pernah menjabat gubernur DKI Jakarta periode 1977-1982.

Demi memutus dukungan lawan dari Semarang, Batalyon Ahmad Yani diperintahkan merebut Bandara Kalibanteng, Semarang.

“Kompi saya mendapatkan tugas melakukan penghadangan dan menghancurkan pengiriman logistik atau bala bantuan dari Semarang keAmbarawa. Dan untuk tugas ini, kompi saya harus membuat pertahanan di LemahAbang,” tulis Soedardjo dalam buku Kenangan dari Medan Barat.

Suasana Ambarawa cukup tenang. Pasukan TKR tak ingin kecolongan dengan masuknya mata-mata lawan. Para pasukan bersiap di masing-masing sektor terjaga semalaman, meskipun ada pula sampai terlelap. Namun menjelang pukul 04.30, mereka sudah bersiap, dan tanda isyarat dari letupan pistol pun terdengar.

Tepat pukul 04.30, tembakan mitraliur membuka serangan terhadap Ambarawa. Bersama rentetan tembakan itu, pasukan-pasukan di bawah pimpinan Sroehardoyo, Soerjo Soempeno, dan Soeharto merangsek mendekati pusat pertahanan lawan.

Tanpa berhenti, kedua belah pasukan saling baku tembak. Pada hari keempat, pasukan Inggris dengan susah payah akhirnya berhasil mundur ke Semarang.

Kemenangan pasukan Indonesia semakin melambungkan nama Soedirman sebagai Pemimpin Besar TKR.

28 tahun kemudian, setelah keberhasilan penyergapan di Ambarawa, didirikan sebuah monumen dikenal sebagai PalaganAmbarawa, di DesaPanjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Bagian depan tugu terdapat 3 prajurit dan relief-relief. Di kanan dan kirinya terdapat 2 buah patung, Jenderal Soedirman dan Gatot Subroto. Bahan tugu terbuat dari beton bertulang. Tinggi tugu 17 meter, panjang 35,50 meter, lebar 15 meter.(*) Vishal Rand


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH