Strategi Jitu Seimbangkan Pekerjaan dan Keluarga Selama Pandemi Cara tetap santai saat harus bekerja dari rumah selama COVID-19. (Sumber: Pexels/Lisa Fotios)

BANYAK orang tua berjuang menyeimbangkan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. Mereka sering kali merasa bersalah jika pekerjaan menghalangi mereka untuk menghabiskan waktu dengan keluarga.

Tak sedikit pula orang tua juga berjuang tetap bekerja ketika mereka ditarik oleh kewajiban keluarga, seperti merawat anak yang sakit.

Baca juga:

Facebook Perpanjang WFH Sampai Juli 2021

Perjuangan ini diperburuk oleh pandemi COVID-19. Kondisi new normal membuat batasan antara pekerjaan dan kehidupan rumah semakin kabur.

Jajak pendapat yang dilakukan Gallop menunjukkan jam kerja orang dewasa bekerja dari rumah berlipat ganda dibandingkan dengan sebelum pandemi. Data tersebut didapat dari pekerja di 50 negara bagian

Sebuah studi oleh National Bureau of Economic Research terhadap lebih dari 3 juta pekerja di 16 kota di Amerika Utara, Eropa, dan Timur Tengah menguatkan data tersebut.

Studi tersebut mengatakan karyawan yang dapat bekerja dari rumah rata-rata bekerja 48,5 menit lebih banyak per hari sekarang daripada sebelum pandemi.

Tantangan semakin bertambah setelah sekolah anak-anak dipindahkan ke rumah. Bagaimana orang tua dapat menyeimbangkan tanggung jawab mereka yang saling bertentangan dan terkadang membebani? Ikuti beberapa cara ini:

1. Cobalah untuk menetapkan batasan

Buat batasan yang jelas saat bekerja dan bersama keluarga. (Sumber: Pexels/Andrea Piacquadio)

Di penghujung hari bekerja dari rumah, matikan komputer untuk mengurangi godaan terus mengecek email selama waktu keluarga. Jika memungkinkan, buatlah tempat kerja yang ditentukan.

Ruang kerja tersebut idealnya dilengkapi pintu yang tertutup, sehingga anggota keluarga tahu bahwa pekerjaan sedang berlangsung. Sifat pasti dari batasan ini akan bergantung pada logistikmu sendiri.

2. Prioritaskan self care

Self care amat penting. (Sumber: Pexels/Ana Shvets)

Orang tua yang mengalami tingkat stres lebih tinggi lebih cenderung berperilaku tidak konsisten. Misalnya, memperlakukan anak-anak mereka dengan kasar (berteriak atau memukul) daripada orang tua dengan tingkat stres yang lebih rendah.

Meluangkan waktu untuk merawat diri dalam bentuk olahraga, bersosialisasi, atau melakukan hobi yang santai dan menyenangkan penting untuk kesejahteraan orang tua. Pada akhirnya itu juga mempengaruhi kesejahteraan anak-anak mereka.

Baca juga:

Biar Efektif, Jangan Lakukan Ini Saat WFH!

Mungkin sulit bagi orang tua untuk merasa dibenarkan dalam meluangkan waktu untuk diri mereka sendiri ketika pekerjaan dan kewajiban keluarga terasa mendesak. Tetapi perawatan diri penting. Baik untuk performa kerja maupun untuk hubungan keluarga.

3. Libatkan Anggota keluarga

Libatkan seluruh anggota keluarga dalam urusan rumah tangga. (Sumber: Pexels/Gustavo frings)

Pekerjaan rumah tangga dapat dinegosiasikan ulang agar sesuai dengan keadaan yang berubah. Bahkan anak-anak kecil pun bisa dilibatkan membantu pekerjaan rumah tangga sederhana seperti memberi makan hewan peliharaan dan mengatur meja.

Anak-anak yang lebih besar dan remaja dapat mengambil lebih banyak tanggung jawab, termasuk menyiapkan makanan dan mencuci pakaian.

Selama harapan tersebut tidak berlebihan, berkontribusi pada kesejahteraan keluarga dapat menjadi kebanggaan bagi anak. Pada akhirnya ini dapat memberikan mereka keterampilan hidup yang bermanfaat.

4. Katakan tidak

Belajar tegas. (Sumber: Pexels/Andrea Piacquadio)

Bersikaplah realistis tentang apa yang dapat dicapai baik di pekerjaan maupun di rumah. Tentu saja, tidak mungkin untuk mengatakan 'tidak' untuk melaksanakan pekerjaan utama atau tanggung jawab keluarga.

Meski begitu, tetap mungkin untuk mengatakan tidak pada permintaan yang lebih periferal.

5. Memobilisasi jaringan pendukung

Pekerjaan berlangsung tenang saat minta tolong orang terdekat. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Memiliki dukungan sosial adalah salah satu prediktor terbaik dari kesejahteraan individu dalam menghadapi stres. Dukungan dapat berbentuk tugas yang nyata. Misalnya bergiliran dengan teman atau tetangga yang mengawasi pembelajaran jarak jauh anak-anak, dalam pedoman kesehatan dan keselamatan.

Dukungan juga bisa bersifat emosional, seperti sekadar berbagi suka dan duka dengan orang terpercaya. (avia)

Baca juga:

3 Kegiatan Pengisi Waktu Luang yang Produktif Selama WFH

Kredit : iftinavia


Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH