Staf Khusus Presiden Nilai Pertumbuhan Ekonomi 5,17 Persen Sebuah Prestasi Mengesankan Staf Khusus Presiden Ahmad Erani Yustika (Foto: Dok Sekolah Desa)

MerahPutih.Com - Pemerintahan Jokowi-JK hanya mampu meraih pertumbuhan ekonomi sekitar 5,17 persen dari target 7 persen. Sebagian kalangan menilai kegagalan mencapai target sebagai nilai minus rezim Jokowi.

Berkaca pada situsi ekonomi global, justru pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia dianggap sebuah prestasi yang mengesankan.

Ahmad Erani Yustika menegaskan perekonomian Indonesia yang pada tahun 2018 pertumbuhannya 5,17 persen merupakan prestasi karena dicapai dalam kondisi global yang diliputi ketidakpastian.

"Ombak tinggi ekonomi berhasil dilalui dengan mengesankan," kata Ahmad Erani dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (7/2).

Erani yang juga staf khusus presiden itu menjelaskan bahwa pencapaian angka pertumbuhan di atas lima persen itu diraih ketika negara-negara maju dan berkembang seperti China, Korea Selatan, India, dan Malaysia mengalami penurunan kinerja ekonomi pada akhir tahun.

Guru Besar Ekonomi Pembangunan itu memaparkan pertumbuhan ekonomi China tercatat turun dari 6,9 persen pada 2015 menjadi 6,5 persen pada akhir 2018. Hal serupa juga diikuti pertumbuhan ekonomi India yang turun dari 7,4 persen pada 2015 menjadi 6,7 persen pada akhir 2018.

"Tren pertumbuhan ekonomi Indonesia justru naik, dari 4,88 persen pada 2015 menjadi 5,17 persen pada 2018. Jadi, kita terbang saat negara lain menukik turun," ujar pria yang pernah menjadi ekonom Indef itu.

Ahmad Erani Yustika
Ahmad Erani Yustika (Foto: Twitter @EraniYustika)

Ahmad Erani Yustika sebagaimana dilansir Antara menambahkan pencapaian pertumbuhan ekonomi tersebut juga disertai oleh penurunan tiga indikator yang terkait dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yaitu angka kemiskinan, pengangguran, maupun ketimpangan.

Jumlah penduduk miskin yang tercatat 25,67 juta orang atau setara 9,66 persen, merupakan yang terendah dalam sejarah karena dapat mencapai single digit, dibandingkan periode sebelumnya yang berada pada kisaran 10-11 persen.

"Menekan angka kemiskinan hingga di bawah dua digit bukanlah pekerjaan mudah, karena pemerintah dihadapkan pada struktur kemiskinan kronis. Tapi misi ini tidak boleh gagal," kata Erani.

Tingkat pengangguran terbuka juga menurun dari sebelumnya pada 2014 sebesar 5,94 persen menjadi 5,3 persen di 2018, karena adanya penciptaan lapangan kerja, dengan porsi pekerja formal meningkat dari 40 persen pada 2014 menjadi 43 persen pada 2018.

Selain itu, ketimpangan pendapatan bergerak melandai yang terlihat dari gini rasio pada 2014 mencapai 0,41 menjadi 0,38 pada 2018 yang sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah.

Erani menambahkan pencapaian ini juga didukung upaya dalam mengendalikan laju inflasi, berbagai program untuk menjaga daya beli dan pertumbuhan sektor padat kerja serta pelaksanaan instrumen fiskal yang telah bermanfaat untuk meningkatkan kinerja pembangunan.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Target Pertumbuhan Ekonomi 6-7 Persen, Ekonom Indef Sebut Terlalu Jauh



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH