Sri Sultan HB X Ikut Ambil Gunungan Grebeg Sekaten Sri Sultan mengambil hasil bumi dari gunungan Grebeg Bromo. (MP/Teresa Ika)

PROSES Grebeg Sekaten Maulud tahun ini berbeda dibandingkan tahun lainnya. Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X ikut mengambil gunungan Grebeg. Ia mengambil Gunungan Bromo yang diletakkan di dalam Gedong Jane, Keraton Yogyakarta.

Gunungan Bromo diletakkan di depan Gedong Jane usai diarak keluar dari dalam keraton dan didoakan bersama tujuh gunungan grebeg lainnya di Masjid Gede Kauman.

Sri Sultan yang mengenakan batik berwarna hijau dipadu dengan kain batik motif parang berwarna coklat segera mengambil dua batang isi gunungan Bromo. Tak lama kemudian putri dan menantunya ikut berebut mengambil diikuti oleh sentana (kerabat dan keluarga) serta abdi dalem.

Penghageng Tepas Tandha Yekti (Kepala Humas dan Bagian IT) Keraton Yogyakatya Gusti Kanjeng Ratu(GKR) Hayu menjelaskan Grebeg Maulud 2017 terasa istimewa karena bertepatan dengan tahun Dal 1951. "Dalam tanggalan Jawa, tahun Dal hanya berlangsung delapan tahun sekali. Maka prosesi grebeg tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya," ujar GKR Hayu usai rebutan Gunungan di Kraton Yogyakarta, Jumat (1/12).

Putri ke empat Sultan HB X ini menjelaskan, Gunungan Bromo hanya dikeluarkan delapan tahun sekali. Biasanya dalam grebeg lainnya, hanya dikeluarkan tujuh gunungan yakni Gunungan Kakung, Putri, Darat, Pawuhan, Gepak.

Bentuk Gunungan Bromo pun berbeda dengan gunungan lainnya. Gunungan berbentuk seperti jam pasir besar. disisi kanan dan kiri ditutupi kayu berwarna kuning. Hasil bumi yang diletakkan terbuat dari ketan warna warni yang dikeringkan. Uniknya di tengah-tengah gunungan diberi kemenyan yang beraroma khusus.

Hanya Gunungan Bromo yang diperebutkan keluarga dan abdi dalem Keraton. "Mereka percaya yang bisa mendapatkan gunungan ini akan mendapatkan keberuntungan dan berkah dari gusti allah," ujar Gkr Hayu.

Prosesi Grebg Maulud dimulai sekitar pukul 09.00 wib dimulai dari prosesi arak-arakan delapan gunungan dibawa keluar dari Keraton Yogyakarta menuju Masjid Gede Kauman. Kemudian Gunungan dikirab ke kantor Kepatihan Yogyakarta, Puro Pakualaman dan dalam Keraton. Masyarakatpun antusias berebut hasil bumi seperti kacang panjang, cabai dan ketan kering yang dipasang di dalam gunungan.

Selain gunungan, diadakan pula beberapa upacara adat spesial yang tak dijumpai pada Grebeg Maulud lainnya antara lain upacara Mbusanani, Pusoko, Bethak dan Pesowanan Garebeg. (*)

Berita ini merupakan laporan Teresa Ika, kontributor Merahputih.com, untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.



Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH