SOS Soroti Keganjilan Hukuman Mantan Anggota Exco PSSI Hidayat Mantan anggota Exco PSSI, Hidayat Krisna. Foto: PSSI Jatim

MerahPutih.com - Hidayat Krisna memutuskan mundur dari Exco PSSI setelah namanya diungkap sebagai salah satu pengatur skor di Liga 2 oleh manajer Madura FC, Januar Herwanto.

PSSI memberikan hukuman berlapis kepada Hidayat. Pertama, ia dilarang berkecimpung di dunia sepak bola selama tiga tahun ke depan. Hidayat juga dilarang memasuki stadion di seluruh Indonesia selama dua tahun plus denda sebanyak Rp150 juta.

Mantan anggota Exco PSSI, Hidayat Krisna. Foto: PSSI Jatim

Save Our Soccer (SOS) menyoroti keganjilan sanksi yang diberikan PSSI kepada Hidayat. Menurut koordinator SOS, Akmal Marhali, Hidayat seharunya tidak ditangani Komite Disiplin. Tapi, Komite Etik yang bertugas menjaga moral para pengurus.

"Hidayat adalah pejabat tinggi PSSI. Bukan figur yang terkait pertandingan seperti manajer, pelatih, pemain yang menjadi ranah komdis. Atau wasit bermasalah yang ditangani Komite Wasit," kata Akmal kepada MerahPutih.com, Rabu (5/12)

Akmal menilai seharusnya PSSI belajar dari FIFA yang menjatuhkan hukuman kepada para pejabatnya seperti Sepp Blatter, Jerome Valcke, Mohammad Bin Hammam, Jack Warner, Aaron Davidson, Costas Takkas, dan Miguel Trujillo lewat Komite Etik. Presiden UEFA, Michel Platini juga dijatuhi hukuman tak boleh aktif di sepakbola selama 8 tahun melalui putusan Komite Etik.

Bahkan, dua wakil presiden FIFA Aofredo Hawitt (juga Presiden CONCACAF) dan Juan Angel Napout (Presiden CONMEBOL), ditangkap di hotel mewah Baur au Lac, Zurich, karena menerima suap.

"Ada hukuman yang sifatnya football family via Komite Etik. Ada pula penangkapan dan penjara karena melanggar hukum pidana (hukum negara). Sejatinya kasus Hidayat bisa dimasukkan di dua hukum tersebut," ujarnya.

Logo PSSI

Jangan sampai kasus ini deja vu kasus serupa 2007. Ketika itu Ketua Komdis Togar Manahan Nero dan Wasekjen PSSI Kaharudinsyah yang terlibat suap dengan Penajam Medan Jaya memutuskan mengundurkan diri. Kasus keduanya ditutup. Tapi, Arismen Badawi dan Syawal Rifai'i pengurus Penajam Medan Jaya dihukum seumur hidup.

"Sangat bagus kalau Hidayat mau menjadi justice collaborator atau whistle blower terhadap darurat match fixing di bola kita. Bila itu dilakukan, dia akan menjadi pahlawan, bukan menutup kiprah di sepakbola sebagai pesakitan. Butuh martir untuk membongkar mafia bola yang sudah menggurita," pungkasnya. (*)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH