SOS: PSSI Biarkan Mafia Kuasai Sepakbola Indonesia Pertandingan babak 8 Besar Liga 2 antara PSS Sleman vs Persita. Foto: LIB

MerahPutih.com - Secara hakikat sepakbola mengajarkan fair play dan sportivitas. Tapi, tangan jahat yang membuat nilai sepakbola menjadi kotor dan beracun.

Di saat negara lain sudah bicara prestasi dunia, sepakbola Indonesia masih berkutat dengan kanker dan tumor ganas yang mematikan prestasi dan harga diri sepakbola. Penyakit yang harus diamputasi. Sepakbola Indonesia harus bersih dari tangan mafia yang mengotori dan merusaknya.

Save Our Soccer sejak lama gencar mengampanyekan sepakbola tanpa mafia dan sepakbola tanpa rekayasa. Bahkan, menantang PSSI untuk membongkar kartel mafia yang merusak tatanan kompetisi sepakbola nasional.

PSMP v Semen Padang FC. Foto: LIB

"Sejak era Nurdin Halid, Djohar Arifin, La Nyalla Mattalitti sampai kini Edy Rahmayadi, SOS selaku mengajak agar sepakbola Indonesia dikembalikan ke khittahnya: prestasi, bukan industri kotor yang menguntungkan sekelompok orang dengan cara kotor. Matchacting, matchsetting, dan matchfixing harus diperangi. Ketika tiga penyakit ini tumbuh dan dibiarkan jangan harap prestasi dan tropi akan datang," kata Koordinator SOS, Akmal Marhali dalam rilisnya di Jakarta, Selasa (20/11).

Pengurus PSSI yang ada saat ini sejatinya tahu betul dan memahami kartel "kejahilan" di kompetisi. Sayangnya, semua dibiarkan. Tak ada antisipasi. Bahkan terkesan Tahu Sama Tahu (TST) saja. Inilah yang membuat setiap akhir kompetisi selalu antiklimaks. Bahkan, seringkali meninggalkan noda dan dosa

Di era La Nyalla, PSSI bekerja sama dengan RadarSport untuk memerangi pengaturan skor. Kali ini giliran Genius Sport yang digandeng. Sayangnya, olahan data mereka hanya ditaruh di bawah meja.

PSS Sleman v Persita Tangerang. Foto: LIB

Kini, setelah laga pamungkas Grup A babak 8 besar Liga 2 meninggalkan noda hitam. Tidak mustahil, laga terakhir Grup B antara PSS Sleman melawan Persiraja dan Madura FC kontra Persita Tangerang juga akan menghasilkan hal yang sama. Madura FC sudah membukanya dengan menyatakan sempat ada yang menghubungi untuk mengalah. Mereka merasa dikerjai dan menyatakan akan balas dendam. Sampai kapan sepakbola kita mau begini?. (*)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH