Sokong AS, Inggris Segera Gempur Suriah dengan Rudal Storm Shadow Rudal Storm Shadow yang dipakai Inggris di Suriah (Foto: Screenshot youtube.com)

MerahPutih.Com - Konflik Suriah selain melibatkan peperangan antarfaksi yang bertikai juga memicu pertempuran antara sekutu seperti AS, Inggris dan Prancis melawan Rusia yang berada di belakang pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Serentak dengan itu, pertikaian di Suriah justru menjadi ajang perlombaan senjata antara Sekutu kontra Rusia. Sejumlah persenjataan canggih dipakai dalam menyerang kelompok-kelompok militan yang terlibat perang di Suriah. Puncaknya, sekutu melalui Amerika Serikat menginisiasi serangan ke Suriah. Serangan itu langsung mendapat sokongan dari sekutunya Prancis dan Inggris.

Tak perlu menunggu waktu lama, Perdana Menteri Inggris Theresa May langsung memerintahkan pasukan Inggris untuk menembakkan rudal Strorm Shadow ke kantong-kantong pemberontak di Suriah. Rudal yang terkenal dengan daya jelajah dan presisi tinggi itu ditembakan untuk memusnahkan senjata kimia di sejumlah wilayah konflik.

Pada Sabtu (14/4) Theresa May menyatakan bahwa pihaknya tidak ada pilihan lain selain mengambil opsi serangan militer ke Suriah.

Empat jet "Royal Air Force Tornado" yang menggunakan rudal "Storm Shadow" telah ambil bagian dalam serangan terhadap sebuah fasilitas militer dekat Homs, di mana pihaknya menilai Suriah telah menimbun bahan kimia di sana, menurut Departemen Pertahanan Inggris (MoD).

Perdana Menteri Inggris Theresa May

PM Inggris Theresa May (Foto tmay.co.uk)

Serangan, yang dilakukan dengan Amerika Serikat dan Prancis merupakan serangan "terbatas dan ditargetkan," yang dirancang untuk meminimalkan korban sipil, kata May. MoD mengatakan indikasi awal adalah bahwa senjata presisi dan perencanaan target yang teliti telah "menghasilkan serangan yang sukses." "Ini bukan tentang campur tangan dalam perang saudara. Ini bukan tentang perubahan rezim," demikian May dalam sebuah pernyataan sebagaimana dilansir Antara dari Reuters.

PM May mengatakan serangan tersebut merupakan tanggapan terhadap bukti signifikan, termasuk bukti intelijen yang menunjukkan pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad bertanggung jawab atas serangan yang menggunakan senjata kimia di Douma, Suriah Sabtu lalu, yang menewaskan hingga 75 orang termasuk anak-anak.

May menambahkan, Inggris dan sekutunya telah berusaha menggunakan setiap sarana diplomatik untuk menghentikan penggunaan senjata kimia, tetapi telah berulang kali digagalkan, menyebut veto Rusia dari penyelidikan independen terhadap serangan Douma di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pekan ini.

"Jadi, tidak ada pilihan praktis untuk penggunaan kekuatan demi menurunkan dan menghalangi penggunaan senjata kimia oleh Rezim Suriah," katanya.

Serangan misil Barat menunjukkan langkah puncak mereka dari perang saudara Suriah, yang dimulai pada Maret 2011 sebagai pemberontakan anti-Assad, tetapi sekarang menjadi konflik proksi yang melibatkan sejumlah kekuatan dunia dan regional dan kelompok-kelompok pemberontak yang tak terhitung jumlahnya.

Sementara itu, menanggapi serangan militer yang massif ke Suriah, Rusia yang selama ini berada di belakang Presiden Suriah Bashar al-Assad tindakan sekutu telah melanggar kedaulatan Suriah dan mengacaukan proses perdamaian di wilayah tersebut.

Rusia, yang ikut campur dalam perang pada 2015 untuk mendukung Assad, membantah ada serangan kimia dan menuduh Inggris membantu melancarkan insiden Douma untuk memicu histeria anti-Rusia.

Rudal jelajah dengan presisi tinggi
Rudal yang dipakai Inggris untuk gempur Suriah (Foto: ukdefense.org)

Anggota parlemen Rusia Vladimir Dzhabarov pada Sabtu mengatakan, Rusia kemungkinan akan meminta pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membahas serangan udara Amerika Serikat, Inggris dan Prancis di Suriah, demikian laporan kantor berita RIA.

"Situasi sedang dianalisis sekarang. Rusia akan meminta pertemuan Dewan Keamanan PBB, saya pikir, pasti," kata Dzhabarov, wakil kepala komisi urusan luar negeri Rusia, sebagaimana dikutip oleh RIA.

Semalam, pasukan AS, Inggris dan Prancis meluncurkan lebih dari 100 misil dari kapal dan pesawat berawak, menargetkan tiga fasilitas senjata kimia utama Suriah.

Serangan itu merupakan tanggapan terhadap serangan yang diduga menggunakan senjata kimia di Kota Douma, Suriah akhir pekan lalu yang menewaskan puluhan warga sipil.

Suriah dan sekutunya Rusia membantah serangan semacam itu terjadi, dan Moskow menuduh Inggris membantu melancarkan insiden Douma untuk memicu histeria anti-Rusia.

Ketua komite urusan internasional dari majelis tinggi parlemen Rusia, Konstantin Kosachev, mengatakan serangan tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional dan mungkin dirancang untuk mencegah para penyelidik dari pengawas senjata kimia global melakukan pekerjaan mereka.

"Ini ... kemungkinan besar upaya untuk menciptakan sebuah situasi sulit bagi misi Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) yang baru memulai pekerjaannya di Douma, Suriah, atau upaya untuk menggagalkannya," kata Kosachev dikutip Interfax.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH