Soetan Sjahrir, Diplomat Ulung yang Tak Beruntung Penandatanganan Perjanjian Linggarjati yang dilakukan di Istana Merdeka Jakarta 15 November 1946 oleh Sutan Sjahrir (kiri), Prof Schermerhorn. (Istimewa)

NAMA dan kisah Soetan Sjahrir memang tak terlalu banyak disebut dalam buku pelajaran sejarah Indonesia. Namun, perannya yang paling menonjol adalah ketika lelaki kelahiran 5 Maret 1909 di Padang Panjang, Sumatera Barat itu menjadi perdana menteri era Presiden Sukarno. Meski sangat berjasa bagi Indonesia, Sjahrir wafat dalam pengasingan sebagai tawanan politik pada 9 April 1966 di Zurich, Swiss.

Sjahrir menyelesaikan pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS, setara sekolah dasar) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setara SMP) terbaik di Medan pada 1926. Selain menggemari berbagai buku-buku asing, Sjahrir remaja juga senang seni, di mana kadangkala ia mengamen di Hotel de Boer, hotel khusus untuk tamu-tamu kulit putih.

Setamat dari MULO, ia melanjutkan pendidikan Algemene Middelbare School (AMS, setara SMA) di Bandung. Di sekolah tersebut, bakat seninya makin berkembang setelah Sjahrir bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis). Pada saat itu, Sjahrir berperan sebagai sutradara, penulis skenario, dan aktor.

Adapun hasil yang diperoleh Sjahrir dari pementasan itu, ia gunakan untuk membiayai sekolah yang didirikannya, Tjahja Volksuniversiteit (Cahaya Universitas Rakyat).

Tak heran jika di kalangan siswa AMS Bandung, Sjahrir menjadi seorang bintang. Dia seorang siswa yang sangat sibuk dengan buku-buku pelajaran, sekaligus aktif dalam berbagai kegiatan seni dan klub debat di sekolahnya. Bahkan ia juga masih menyempatkan waktu dalam aktivitas pendidikan melek huruf secara gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu dalam Tjahja Volksuniversiteit.

Lalu Sjahrir mulai memasuki dunia politik. Pada 20 Februari 1927, Sjahrir merupakan satu dari sepuluh orang penggagas pendirian Himpunan Pemuda Nasionalis, Jong Indonesie, yang kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia. Perhimpunan ini menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.

Masih saat belajar sebagai siswa sekolah menengah, Sjahrir juga sudah aktif sebagai pemimpin redaksi majalah Himpunan Pemuda Nasionalis. Sebagai Pemred, Sjahrir sering dicari polisi karena memuat berita pemberontakan PKI 1926.

Setamat AMS, Sjahrir melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden, Belanda. Di sana, ia mendalami teori-teori sosialisme. Ia akrab dengan Salomon Tas, Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kemudian dinikahi Sjahrir. Pernikahan dengan Maria memang hanya sebentar. Kemudian Sjahrir menikah kembali dengan Poppy, kakak tertua dari Soedjatmoko dan Miriam Boediardjo.

Demi lebih mengenal dunia proletar dan organisasi pergerakannya, Sjahrir pun bekerja pada Sekretariat Federasi Buruh Transportasi Internasional. Selain itu, Sjahrir juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh Mohammad Hatta.

Akhir tahun 1931, Sjahrir kembali ke tanah air dan terjun dalam pergerakan nasional. Ia bergabung dalam organisasi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru), yang kemudian pada Juni 1932 dipimpinnya.

Ia pun mempraktikkan dunia proletar di tanah air. Ia terjun dalam pergerakan buruh. Juga banyak menulis tentang perburuhan dalam Daulat Rakyat. Juga sering berbicara perihal pergerakan buruh dalam forum-forum politik. Kemudian, Mei 1933, Sjahrir didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.

Hatta menyusul kembali ke tanah air pada Agustus 1932. Hatta tampil memimpin PNI Baru bersama Sjahrir. Organisasi ini berhasil mencetak kader-kader pergerakan. Bahkan pemerintahan kolonial Belanda menilai, gerakan politik Hatta dan Sjahrir dalam PNI Baru itu justru lebih radikal daripada gerakan Soekarno dengan PNI-nya yang mengandalkan mobilisasi massa.

Menurut polisi kolonial, PNI Baru cukup setara dengan organisasi Barat. Meski tanpa aksi massa dan agitasi, tetapi secara cerdas, berhasil mendidik kader-kader pergerakan yang siap bergerak ke arah tujuan revolusionernya.

Sehingga, pada Februari 1934, pemerintah kolonial Belanda memenjarakan dan membuang Sjahrir dan Hatta, serta beberapa pemimpin PNI Baru ke Boven Digul. Setelah hampir setahun Sjahrir dan Hatta dipindahkan ke Banda Neira, di sini mereka menjalani masa pembuangan selama enam tahun. (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH