Soal KKB di Papua, Eks Dan Korps Marinir: Hancurkan, Lumat Habis Baru Laporkan Mantan Komandan Korps Marinir Letnan Jenderal TNI Mar (Purn) Suharto (Ist)

MerahPutih.Com - Mantan Komandan Korps Marinir Letnan Jenderal TNI Mar (Purn) Suharto buka suara terkait pembantaian yang dilakukan oleh KKB (kelompok kriminal bersenjata) di Papua yang menyebabkan terbunuhnya 31 pekerja BUMN PT Istaka Karya.

Mantan Wakil Gubernur Akademi Angkatan Laut (AAL) ini menegaskan, penanganan penyerangan di Nduga, Papua itu menjadi tugas pokok TNI sebagai penjaga kedaulatan, bukan Polri.

"Masihkah kalian menunggu perintah dari atasan kalian yang menganggap itu tugas kepolisian? Jangan menunggu perintah pemimpin yang tidak paham tugas pokok TNI. Hancurkan, lumat habis baru laporkan," kata Suharto dalam keterangannya, Minggu (9/12).

Menurut Suharto peristiwa itu adalah tugas TNI. Meskipun itu direkayasa menjadi tugas Polri dengan cara membuat istilah kelompok kriminal bersenjeta, namun sejatinya itu merupakan tugas pokok TNI sebagai penjaga kedaulatan.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bertemu para pekerja Istaka Karya di Papua
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menghadiri penyerahan jenazah karyawan PT Istaka Karya di Hanggar Airfast, Bandara Mozes Kilangin, Timika, Papua, Jumat (7/12) (puspen TNI)

"Jangan menunggu hal itu menjadi santapan "politik" dalam debat yang tak berujung, atau diseret ke ranah polisi. Itu tugas pokok kalian. Jangan biarkan diseret ke ranah politik yang ujungnya adalah pelemahan TNI sebagai benteng terakhir kedaulatan kita," ujar dia.

Mantan Komandan Detasemen Mabes ABRI ini menekankan apabila sudah menyangkut perlawanan bersenjata, penyerangan bersenjata terhadap pos atau instansi TNI, itu berarti penyerangan terhadap kedaulatan negara.

"Lumat jangan ditunda. Baru kemudian laporkan "tugas selesai". Pangdam dan seluruh jajaran dan institusi TNI lainnya bersatu lawan separatisme. Jangan tunggu masalah "makar" itu digoreng secara politik yang ujung-ujungnya dipolisikan. Negara kita bukan negara polisi," tegas Suharto.

"Panglima kita bukan Wakapolri. Maaf saya sedikit tajam, karena ini sudah menjadi wacana di ranah prajurit-prajurit TNI. Bumi Tidar, bumi Moro dan bumi Maguwo menciptakan "Warrior dan Guardian" yang tidak perlu menunggu nunggu panggilan," kata Suharto menambahkan.

Sebagaimana diketahui, Wakapolri Komjen Ari Dono Sukmanto yang memimpin pencarian kelompok separatisme yang mereka sebut Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang tega menghabisi nyawa para pekerja Trans Papua di Nduga.

"Bila perlu adik dan anakku TNI aktif, kami para Purnawirawan TNI siap memakai helm kami, mengangkat SS I kami kembali untuk melaksanakan tugas pokok TNI menjaga NKRI. Selamat berjuang anak-anakku dan adik-adikku TNI aktif untuk menjaga Tanah Air bagi anak cucu kita. Tuhan bersama kita," pungkas Suharto.(Pon)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Kecewa Dengan Regulasi Pemerintah, Komunitas Ojol Curhat ke Prabowo

Kredit : ponco


Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH