SMRC: Publik Puas dengan Kinerja Jokowi Peneliti SMRC, Jayadi Hanan (paling kanan). (MP/Ponco Sulaksono)

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menempatkan elektabilitas Joko Widodo dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di posisi teratas dalam hasil survei terbaru terkait kondisi politik nasional pasca-pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Meski pasangan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dan Djarot Syaiful Hidayat kalah di Pilkada DKI Jakarta, mengapa Jokowi dan PDI-P masih diatas semua pesaingnya?

Peneliti SMRC, Djayadi Hanan mengungkapkan, hal itu disebabkan oleh berbagai indikator yang berbasis pada evaluasi massa nasional secara umum menunjukkan grafik positif dan stabil.

"Tingkat kepuasan publik pada kinerja Jokowi masih stabil, yakni 67 persen. Bahkan, sebanyak 69 persen yakin akan kemampuan Jokowi memimpin," kata Djayadi saat merilis hasil survei di Kantor SMRC, Jalan Cisadane, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (8/6).

Djayadi memaparkan alasan lainnya, yakni penilaian atas kondisi ekonomi, politik, dan keamanan yang relatif stabil. Dimana, 44.4 persen merasa ekonomi rumah tangga lebih baik dibandingkan tahun lalu.

"Bahkan 62.3 persen optimis keadaan ekonomi keluarga akan lebih baik tahun depan," paparnya.

Sejalan dengan itu, kata Djayadi, penilaian atas kondisi ekonomi nasional juga cenderung positif, yakni sebesar 57.1 persen.

Menurut dia, kepercayaan pada lembaga-lembaga publik juga tidak banyak mengalami perubahan di bawah kepemimpinan Jokowi-Jusuf Kalla pasca-Pilkada DKI.

"Urutan teratas masih ditempati TNI sebesar 90 persen, presiden 86 persen, dan KPK di angka 86 persen, kemudian Polri 77 persen, pengadilan 76 persen, dan kejaksaan 74 persen," jelasnya.

Djayadi menyebut, walaupun mendapat kepercayaan mayoritas massa, namun tingkat kepercayaan pada partai dan DPR paling rendah dibanding pada lembaga-lembaga yang lain.

Djayadi pun menambahkan, menurutnya, berbeda dengan spekulasi yang beredar di sejumlah kalangan, survei opini publik ini justru menemukan bahwa semua indikator politik tidak menunjukan perubahan berarti, sebelum dan sesudah Pilkada DKI.

“Pilkada DKI tak punya efek pada politik nasional" tandasnya.

Diketahui, survei ini dilakukan pada 14-20 Mei 2017 melibatkan 1350 responden yang dipilih dengan teknik multistage random sampling dari total populasi nasional yang sudah memiliki hak pilih pada pemilihan umum. Margin of error survei ini rata-rata +/2.5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (Pon)

Baca berita terkait survei SMRC lainnya di: RUU Pemilu, Gerindra Pertimbangkan Ubah Pencalonan Presiden



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH