Singapura Dipilih Jadi Tempat Pertemuan Pertama Trump dan Kim Jong Un Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan ibu negara Melania Trump, saat kedatangan warga AS yang ditawan Korut di Joint Base Andrews, Maryland, Amerika Serikat, Kamis (10/5). ANTARA FOTO/REUTERS/Jona

MerahPutih.Com - Tawaran Presiden Jokowi kepada Donald Trump dan Kim Jong Un untuk menggelar pertemuan di Indonesia tampaknya tidak bisa terwujud. Presiden Donald Trump dan Kim Jong Un lebih memilih Singapura sebagai tempat pertemuan puncak pertama kedua kepala negara tersebut.

Rencananya, pertemuan puncak Donald Trump dan Kim Jong Un akan berlangsung pada tanggal 12 Juni di Singapura. Penentuan waktu dan lokasi pertemuan itu disampaikan Presiden Trump melalui akun twitternya.

"Pertemuan yang sangat ditunggu-tunggu antara Kim Jong Un dan saya sendiri akan dilakukan di Singapura pada 12 Juni. Kami berdua akan berusaha membuat (pertemuan) itu sebagai momen yang sangat spesial bagi Perdamaian Dunia!" tulis Trump di Twitter.

Pada pertemuan tersebut, AS akan membujuk Pyongyang menghentikan program nuklirnya.

Mike Pompeo dan Kim Jong Un
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berjabat tangan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo, dalam foto yang disiarkan Pusat Agensi Berita Korea Utara, Kamis (10/5), di Pyongyang. (ANTARA FOTO/KCNA/via REUTERS)

Keterangan itu diumumkan Trump hanya beberapa jam setelah tiga warga negara Amerika Serikat yang ditahan di Korea Utara tiba di pangkalan militer AS di luar Washington. Ketiganya dibebaskan oleh Kim sebagai isyarat baik menjelang pertemuan puncak.

Sebagaimana dilansir Antara dari Reuters, saat kedatangan ketiga warga Amerika itu, Trump mengatakan ia percaya bahwa Kim, yang telah memimpin Korea Utara selama tujuh tahun dan diyakini berusia pertengahan 30 tahunan, ingin membawa Korea Utara "ke dunia nyata." "Menurut saya, kita punya kesempatan sangat baik untuk melakukan sesuatu yang sangat berarti," kata Trump.

"Pencapaian saya yang paling membanggakan nantinya adalah, ini adalah bagian dari itu, ketika kita menghapuskan penggunaan senjata nuklir di seluruh semenanjung (Korea, red)." Menteri luar negeri AS yang baru, Mike Pompeo, telah mengunjungi Pyongyang dua kali dalam beberapa minggu terakhir ini, satu kali ketika ia masih menjabat sebagai kepala CIA. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menangani pertanyaan utama, yaitu apakah Korea Utara akan bersedia melepaskan program senjata nuklir, yang telah sekian lama dianggap para pemimpin negara itu sebagai aspek yang sangat penting untuk bertahan.

Kim Jong Un dan Xi Jinping
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bertemu dengan Presiden Cina Xi Jinping, di Dallan, Cina dalam foto tanpa tanggal yang disiarkan Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) (ANTARA FOTO/KCNA/via REUTERS/djo)

Trump dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada Rabu berbicara melalui telepon dan Gedung Putih mengatakan kedua pemimpin "menegaskan tujuan bersama agar Korea Utara menghentikan senjata terlarang pemusnah massal dan program peluru kendali balistik" serta tetap teguh untuk bekerja sama dengan Korea Utara.

Kim baru-baru ini berjanji akan menghentikan uji coba nuklir serta menutup lokasi uji coba bom nuklir.

Secara teknis, Korea Utara masih berperang dengan Amerika Serikat dan sekutunya, Korea Selatan, karena Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian.

Pemilihan Singapura sebagai tempat pertemuan Trump-Kim akan memberikan suasana bersahabat bagi Trump karena negara pulau itu merupakan sekutu kuat AS dan Angkatan Laut Amerika kerap berkunjung ke pelabuhan negara itu.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Kemenangan Mahathir Mohamad dan Dampak Bagi Perekonomian Indonesia



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH