Sindrom Asperger Bagian dari Autisme Autis tidak berbeda dengan orang kebanyakan. (Foto: americanpregnancy)

KONON dari seratus orang ada satu autis. Namun para pakar kesehatan dalam World Autism Awareness Week 2018 menyebutkan jumlah itu bisa saja lebih. Mereka menyebutkan jumlahnya sudah sampai titik yang mengkhawatirkan.

Sayangnya orang dengan autisme yang berusia dewasa menjalani kehidupannya tanpa diagnosis pasti. Dalam artian mereka sendiri tidak sadar bahwa diri mereka sindrom autisme.

Bulan April ini dicanangkan oleh badan kesehatan dunia (WHO) sebagai bulan Peduli Autisme yang mendorong orang untuk peduli dengan autisme ini.

Orang dengan autisme biasanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dan menghadapi lingkungannya. Kondisi itupun beragam, tidak setiap autis memiliki kesamaan pada kendala yang harus mereka hadapi.

Sebagian orang dengan autisme dapat hidup normal dalam masyarakat. Namun sebagian lagi mengalami kesulitan menghadapi perubahan dan pembelajaran dalam kehidupannya. Albert Einstein, Wolfgang Amadeus Mozart atau Dan Aykroyd adalah autis yang hidup mandiri di masyarakat.

Bagian dari autisme adalah sindrom asperger, meskipun dibedakan dengan gejala autisme lainnya. Dari laman Wikipedia dituliskan bahwa sindrom asperger ini melihat pada kemampuan linguistik dan kognitif autis yang tidak berbeda dengan orang kebanyakan.

autisme
Biasanya orang sindrom asperger akan terfokus pada satu hal saja. (Foto: theodysseyonline)

Hanya saja pada sindrom asperger ini, seseorang memiliki kesulitan untuk dapat memahami komunikasi non verbal, seperti bahasa tubuh. Begitu juga dengan arti dari satu kata yang memberikan makna yang berbeda. Namun bukan berarti mereka terbatas dalam kosa kata, justru mereka ini sangat banyak memiliki kosa kata. Pun demikian yang mereka pahami seperti yang ada pada kamus.

Sindrom Asperger merupakan hasil penelitian dari Hans Asperger, seorang dokter anak di Austria, di tahun 1914. Sindrom ini menjadi kajian ilmiah di tahun 1980an. Biasanya orang yang sindrom asperger ini akan terfokus atau menunjukan minat pada satu hal saja. Hans Asperger sendiri sebenarnya salah satu orang dengan sindrom ini.

Entah mengapa para sindrom ini cenderung menjadi jenius atau lebih pintar dari usia sebenarnya. Mereka mampu berpikir seperti orang dewasa di usia balita. Jenius? Mungkin saja. Namun secara pergaulan sosial, anak-anak ini menemukan kesulitan.

Padahal mereka menunjukan perkembangan mental dan fisik yang baik pula. Pada laman Mirror disebutkan anak-anak seperti ini agak kesulitan untuk mencerna komunikasi pada kawan-kawan sebayanya. Seperti guyonan, bahasa pergaulan atau ungkapan sarkastik. Kencenderungannya selalu tampil formal dan kaku. Tak sedikit yang kemudian jadi korban perundungan di sekolah atau lingkungannya.

Untuk mengetahui apakah seseorang autisme, butuh konsultasi dengan dokter. Tentunya dokter-dokter yang berasal dari berbagai spesialis. Dengan demikian diagnosis yang dibuat akan lebih lengkap dan jelas. (psr)

Kredit : paksi

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH