Simalakama Ultimatum Hawthorn, Arek Surabaya Mengamuk, Posisi Mallaby Kian Terjepit (3) Seorang tentara Inggris sedang melakukan komunikasi. Sumber; Imperial War Museum.

SIANG, sekira pukul 11.00 WIB, 27 Oktober 1945, sebuah pesawat Dakota berputar di atas langit Surabaya. Dari lambung pesawat, ratusan pamflet berhamburan menghujani kota. Isi pamflet bukan sebuah himbauan, melainkan ancaman.

"..seluruh rakyat Surabaya harus mengembalikan semua senjata hasil rampasan dari tentara Jepang. Mereka yang menyimpan akan langsung ditembak ditempat," isi pamflet itu.

Tepat tengah hari, sejam setelah pamflet berhamburan di Surabaya, Residen Soedirman dan Ketua BKR Jawa Timur, Moestopo, mengontak Brigjen Mallaby, Komandan Pasukan Brigade ke-49 Tentara Inggris. Mereka menggelar rapat darurat di Kantor Gubernur Surabaya.

Dalam rapat tersebut, Mallaby terkejut ketika membaca isi pamflet. Ia mengaku tak pernah diajak diskusi atau sekadar berkontak dengan atasannya Mayor Jenderal H.C Hawthorn, Panglima Sekutu di Jawa, Madura, Bali, dan Lombok.

"Sebagai perwira militer British, meski saya sudah menandatangani persetujuan dengan pemimpin Republik di Surabaya, saya harus mematuhi instruksi panglima saya," ujar Mallaby sepertui ditulis Des Alwi dalam buku Pertempuran Surabaya November 1945. Ucapan Mallaby membuat kecewa Moestopo dan Soedirman.

pertempuran surabaya
Pesawat Angkatan Udara Inggris pada Pertempuran Surabaya. Sumber; Imperial War Museum.

Selepas pertemuan, Surabaya pun seperti kota mati. Senyap. Kabar Mallaby bersikukuh terhadap perintah atasannya menyebar luar. Masyarakat pun cemas menanti.

Hari itu juga, Mallaby berkirim surat kepada istrinya. Dalam suratnya, ia menceritakan keadaan Surabaya sudah dalam keadaan kondusif. Namun, keadaan itu berubah menjadi kewaspadaan karena sikap pemimpinnya.

"Panglima merusak segalanya dengan menyebarkan pamflet berisi ultimatum dari pesawat yang tinggal landas dari Batavia tanpa memberitahukan isinya terlebih dahului kepadaku," tulisnya. Ia pun melanjutkan,"Pamflet ini adalah tamparan amat memalukan bagiku sebagai perwira tinggi".

Selembar pamflet lantas mengubah seluruh keadaan di Surabaya. Barikade-barikade dipasang di penjuru jalan Surabaya. Moestopo pun langsung mengantur anak buahnya bersiaga penuh.

Sore hari, insiden-insiden kecil mulai bermunculan. Di daerah Kedungdoro, pasukan India memprovokasi dengan memuntahkan peluru kepada pasukan republik. Baku tembak pun terjadi. Insiden serupa juga terjadi di daerah Keputran.

Saat insiden-insiden kecil meletus, utusan Mallaby, kolonel Pugh datang ke markas Tentara Keamanan Rakyat di jalan Embong Sawo. Ia menyampaikan pesan Mallaby agar republiken bersedia menjaga situasi. Meredam agar tembak-tembakan tak terjadi.

Pesan tersebut direspon komandan TKR karesidenan Surabaya, Jonosewoyo, dan residen Soedirman. Mereka menggelar rapat terbatas. hasilnya, mereka memutuskan sejak saat itu TKR akan menjawab ultimatum Inggris secara militer. Artinya, tak ada kata menyerah! (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH