Silat MS Jalan Enam, antara Cinta dan Perlawanan Salah satu gerakan silat. (Foto: Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

DENGAN balutan kemeja lengan panjang dan celana 'ngatung' di atas mata kaki, sorotan mata lelaki setengah baya itu tajam menatap. Berselempang kain sarung serta kopiah berwarna hitam, lelaki tersebut tampak gagah memainkan jurus silatnya.

Sambil sesekali tersenyum, posisi kuda-kuda yang kuat dengan paduan beberapa jurus lainnya, sontak membuat tim merahputih.com terperana karenanya.

Pembina Perguruan Silat MS (Misar Siban) Jalan Enam Pengasinan, Depok. (Foto: Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

Nama lelaki yang lebih akrab disapa Udin Kusen itu tak lain ialah seorang Pembina Perguruan Silat MS (Misar Siban) Jalan Enam Pengasinan, Depok. Butuh waktu lama baginya untuk bisa menguasai beberapa jurus dari perguruan silat tersebut. "Saya belajar dari kecil. Mungkin ada sekitar 40 tahun," ucap Udin (52) di rumahnya Jalan Pengasinan No. 6 RT 03/03, Depok.

Adapun sejarah perguruan tersebut, kata Udin, berawal dari penindasan dan ketidakadilan pihak kolonial Belanda terhadap masyarakat pribumi, terlebih warga Kota Depok. Sehingga pada tahun 1935, lahirnya sebuah perguruan silat yang melawan kezaliman tersebut, dengan nama Perguruan Silat MS Jalan Enam Pengasinan.

Terkait nama perguruan adalah merupakan paduan nama sang murid, Uwak Misar yang berguru kepada Bapak Siban dengan perpaduan jurus mematikan yang diadopsi dari sebuah ideologi Islam.

Saat itu, masih kata Udin, mencari perguruan silat tidak mudah seperti saat ini. Bahkan para jawara (ahli beladiri), banyak ditangkap tanpa proses hukun dan kemudian hilang tak berbekas.

Seiring dengan waktu, Perguruan Silat MS Jalan Enam Pengasinan tumbuh dan berkembang pesat hingga ke beberapa daerah di Jabodetabek. Bahkan sekitar 5.000 orang total murid yang tersebar di beberapa wilayah. "Alhamdulillah sekarang sudah banyak muridnya," kata Udin.

Meski sudah terbentuk sejak tahun 1935, untuk di Pengasinan sendiri baru lahir sekitar tahun 1996 yang dipelopori oleh Udin Kusen.

"Alhamdulillah, 20 tahun yang lalu, saya mendapatkan izin dari guru (Pak Napa) untuk mendirikan perguruan di sini. Pak Napa merupakan cucu dari Uwak Misar. Karena kecintaan saya terhadap pencak silat ini, akhirnya saya memeloporinya," kata Udin.

Dengan jumlah murid yang sudah ratusan, tentunya Udin tidak sendiri dalam melatih murid. Segalanya semakin mudah ketika dirinya dibantu oleh ketiga anak lelakinya dalam memberikan pengajaran seni bela diri silat.

"Saya berharap, seni beladiri silat lahir dari cinta dan juga perjuangan. Karena itu, ke depannya seni beladiri silat yang asli Indonesia, tidak akan kalah oleh seni beladiri dari luar. Kita harus tetap menjaga budaya asli ini," harapnya.


Tags Artikel Ini

Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH