Keren! Media Eropa Sebut Silat Kopassus Seni Beladiri Militer Paling Mematikan Pasukan Kopassus sedang unjuk kebolehan beladiri. (imgrum)

SITUS seni beladiri terkemuka di Eropa, martialtribes.com, merilis tiga beladiri militer paling mematikan di dunia. Pada rilisan pertengahan tahun 2017 tersebut, tersua seni beladiri khas Indonesia, Silat pada urutan bontot atau peringkat 3 beladiri untuk kebutuhan militer. Benarkah Silat pernah digunakan di dunia militer tanah air?

Pada pembuka tahun 1996, kabar penculikan gabungan peneliti asing dan Indonesia di Papua sampai ke telinga Panglima TNI Jendral Edi Sudrajat. Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik menjadi biang keladi penculikan 26 orang peneliti Tim Ekspedisi Lorentz 1995, Unesco, WWF, dan penduduk, di desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Jayawijaya, Papua.

TNI bergerak cepat. Jendral Edi Sudrajat langsung memerintahkan Pangdam Trikora Mayor Jendral TNI Dunidja D melakukan operasi gabungan dan menetapkan Komando Distrik Militer Wamena, Papua, sebagai markas komando operasi pembebasan sandera.

Di markas komando operasi, nampak bergabung Batalyon 742 (Trikora), Kostrad Yon 330, 328, dan 327 (Jawa Barat), Bataylon 514 (Brawijaya), Penerbad, TNI AU, dan tentara baret merah Komando Pasukan Khusus. Para petinggi militer asal Jakarta pun turut hadir, semisal Brigadir Jendral Prabowo Subianto, Komandan Kopassus, Brigadir Jenderal Zacky Anwar, Direktur A Badan Intelijen TNI, dan Birgadir Jendral Suadi Marasabessy, Wakil Asisten Operasi TNI Angkatan Darat.

Selain pria-pria tegap berbaju loreng, di Kodam Wamena, nampak pula tiga orang sipil berpakaian serbahitam. Mereka, antara lain; H Tubagus Zaini, Tubagus Yuhyi Andawi, dan Sayid Ubaydillah Al-Mahdaly. Ketiganya merupakan jawara asal Banten.

Mereka pemilik ilmu adikodrati tiba di Papua untuk misi khusus, menangkal serangan ilmu hitam pihak musuh di pedalaman Jayawijaya. “Waktu itu kami diminta membantu. Tugas kami memberikan perlindungan spiritual para anggota pasukan. Termasuk menangkal ilmu gaib nan mungkin dipakai para penyandera,” kata Sayid Ubaydillah, salah seorang dari 3 Jawara Banten seturut laporan harian Kompas, 9 November 1998.

Operasi pembebesan sandera di Mapenduma merupakan tugas berat bagi TNI. Selain mendan nan terjal, pihak TNI pun tak memiliki peta wilayah dengan skala paling 1:25.000. Tak heran bila cara-cara unik, salah satunya dengan mendatangkan 3 jawara Banten, acap menjadi solusi.

Selain menghalau ilmu gaib musuh, tiga pendekar tersebut dianggap perlu terlibat operasi pembebasan sandera penuh bahaya, karena memiliki ilmu kanuragan, dapat melihat, mengendus, dan meraba bahaya tanpa pancaindera sanggup melakukannya.

Kolaborasi militer, terutama Kopassus dengan kelompok jawara asal Banten, menurut Ian Douglas Wilson asal Murdoch University pada buku The Politics of Inner Power: The Pratice of Pencak Silat in West Java, telah terjalin lama melalui kelompok pencak silat Satria Muda Indonesia (SMI) binaan Prabowo Subianto.

Saat operasi Timor-Timur pada 1988-1989, Prabowo sebagai komandan Batalyon 328, menurut Douglas Wilson, telah aktif memperkenalkan SMI kepada para pemuda lokal. Seorang instruktur senior SMI bercerita pernah ada pelatihan anggota SMI di Timor-Timur.

Pada tahun 1993, lanjut Douglas Wilson, instruktur-instruktur SMI telah melatih para anggota Grup III Kopassus di Batujajar, Bandung. Lantas dua tahun melatih Korps Marinir, Korps Brigade Mobil (Brimob), Paskhas AU, dan Batalyon 321, 315, 328, dan 330 Kostrad.

Prabowo menganggap pencak silat merupakan antara sipil dan kehidupan militer. “Pendidikan Pencak Silat dapat menjadi aspek penting memperkenalkan pertahanan negara Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Melalui Pencak Silat, kita dapat membuat masyarakat bersiap menjadi pertahanan negara dan Sishankamrata,” ungkapnya.

Ide tersebut, kolaborasi grup Silat dan militer, kemudian diterapkan saat operasi pembebasan sandera Mapenduma, Papua. Tiga pendekar atau jawara asal Banten ikut pada operasi. “Prabowo beranggapan memperkuat antara grup Pencak Silat dan militer sangat penting untuk pertahanan negara,” tulis Douglas Wilson.

Banten merupakan tanah bagi seluruh pendekar silat. Tak heran bila sejarah sosial di Banten sering berisi kisah tentang para jawara dan para jago silat dari pelbagai aliran serta paguron atau perguruan.

Di senatero Banten, tak kurang 50 perguruan silat tersebar, antara lain Gagak Lumayung, Pacar Putih, dan Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TTKKDH). Meski dasar pencak sama, masing-masing kelompok telah mengembangkan kekhasan teknik silatnya.

Di Banten, anggota SMI mencapai 9000, banyak di antaranya juga merupakan anggota Persatuan Persilatan dan Seni Budaya Banten Indonesia (PPSBBI) Chasan Sochib.(*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH