Sidang Penyiraman Air Kopi, Hakim dan Pengacara Saling Adu Argumentasi Suasana persidangan. (MP/Amsal)

MerahPutih.com - Sidang lanjutan penyiraman air kopi yang dilakukan terdakwa Elyana kepada mertuanya Carissa berlangsung panas.

Ketika sidang digelar di ruang Kartika, Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (10/1), tampak majelis hakim yang dipimpin oleh Riana Pohan beradu argumentasi dengan Tim Penasehat Hukum terdakwa.

Dalam keterangannya di persidangan, dr Rudi Ganda Winata yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nur Ainun mengatakan, visum et repertum yang dikeluarkannya berdasarkan permintaan saksi korban Carissa tanpa ada rekomendasi dari penyidik kepolisian terlebih dahulu.

Hal itu pula yang membuat Tim Penasehat hukum terdakwa bertanya apakah seperti itu prosedurnya.

Mendengar pertanyaan seperti itu, dr Rudi terdiam. Belum lagi menjawab, majelis hakim langsung memotong pertanyaan tersebut.

"Ya, memang seperti itu prosedurnya. Dikeluarkan visum dulu baru ke kantor polisi. Tidak mesti harus ada surat pengantar dari polisi," kata majelis hakim.

Selanjutnya, Tim Penasehat Hukum terdakwa tampak tidak terima dikarenakan jawaban dari saksi belum seluruhnya dijawab.

"Mohon maaf sebelumnya yang majelis. Saya bertanya kepada saksi ahli. Biarkan saksi ahli yang menjawab bukan majelis hakim. Jangan dipotong-potong. Harusnya majelis hakim bersikap objektif," tegas Tim Penasehat Hukum terdakwa.

Tim Penasehat Hukum terdakwa juga merasa ada kejanggalan dengan pernyataan majelis hakim mengenai masalah visum et repertum tersebut.

"Oh, simple saja yang mulia. Berarti kalau besok ada orang berantam di jalan. Dia visum dulu ke rumah sakit yang mana saja. Baru ke kantor polisi melapor. Tidak perlu surat pengantar untuk visum dari polisi. Begitu baru benar, ya," kata Tim Penasehat Hukum terdakwa.

Dengan tegas majelis hakim menyebutkan memang seperti itulah prosedurnya.

"Seperti yang saya bilang tadi. Tidak perlu pengantar dari polisi. Visum dulu baru ke kantor polisi. Memang itulah prosedurnya," jawab majelis hakim.

Selama persidangan dari pantauan wartawan, Tim Penasehat Hukum terdakwa juga menegaskan ragu dengan kapastitas dr Rudi yang disebut majelis hakim sebagai saksi ahli.

"Menurut hemat kami. Saksi ahli itu harus memiliki sertifikat kemudian punya pengalaman sebagai ahli. Bukan seperti dr Rudi yang mengaku baru pertama kali ke persidangan. Bahkan dalam mengeluarkan visum pun baru pertama kali yaitu dalam perkara ini," tandasnya.

Usai mendengarkan keterangan saksi ahli, majelis hakim menutup persidangan dan melanjutkannya pekan depan. (Sal)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH