Si Jatayu Tak Lagi Menderu, Obituarium Maestro Seni Lukis Nyoman Gunarsa Maestro lukis, Nyoman Gunarsa bersama istri, mempersembahkan lukisan 'Jokowi Minum Jamu' kepada Presiden Jokowi di Istana Negara, 4 April 2017. (balipost.id)

JATAYU, sang putra Aruna pada epos Ramayana dikisahkan sebagai burung petualang pembawa berita. Sesaat menemukan Sita sedang diculik Rahwana, sang burung mencoba menolong namun menderita kekalahan berujung kematian.

Di masa kritis, Jatayu berusaha sekuat tenaga mengabarkan kepada Rama mengenai penculikan Sita. Rama mampu menemukan Sita, lewat bimbingan lokasi kematian Jatayu.

Si Jatayu, menurut Argo Pratomo pada Nyoman Gunarsa Si Jatayu, serupa dengan Nyoman Gunarsa karena sama-sama seorang tualang dan pembawa berita.

Nyoman Gunarsa memang memilih hidup bertualang selaik Jatayu. Merasa mampu melukis semasa usia dini, berbekal ijazah SMP Negeri Klungkung tahun 1959, Nyoman memulai tualang menjelajah tanah Jawa.

Pria kelahiran Desa Banda, Klungkung, Bali 15 April 1944, memang ingin sekali menjadi pelukis, selain karena senang menggambar, juga karena inspirasi para pelukis-pelukis Barat berdomisili di Bali, seperti Le Mayeur, Rudolf Bonnet, Walter Spies, dan Arie Smit. Pelukis-pelukis “itu mendorong saya berbuat harus lebih hebat dari mereka,” ungkap Nyoman, dikutip Kompas, Minggu, 16 Januari 1994.

Dia kemudian menggelandang selagi menempuh sekolah seni pada Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta. Nyoman sering tidak naik kelas, malah butuh waktu 16 tahun untuk lulus, karena kehidupan juga kesibukan menjadi asisten pelukis Affandi. Dari situ dia mempelajari cara, tehnik, dan kebiasaan Affandi melukis.

Tempat tinggal Nyoman pun nomaden. Berpindah dari satu pembaringan menuju pembaringan lain. “Saya tidur di sembarang tempat,” ungkapnya. Dari mulai Balai Budaya, Museum Nasional, juga Pasar Seni Ancol menjadi pondok sementara.

Suatu hari Winneke de Groot mengajak beberap seniman, termasuk dirinya, untuk demonstrasi melukis dan menjadkan Ancol pusat kegiatan kesenian. Di sana, Nyoman menjajakan lukisan wajah bagi pengujung seharga Rp 2.000 per kepala selama lima menit.

Teman-teman sesama pelukis, Harijadi dan Otto Djaya, menganggap Nyoman gila karena mereka bahkan butuh setengah jam melukis satu wajah. Sementara Nyoman melukis dengan cepat, dan saking cepatnya, teman-teman pelukis menjulukinya “pelukis monyet”. Dia pun mampu menghasilkan 20 lukisan sehari dan uang hasil lukisan bisa untuk makan di restoran sekenyang-kenyangnya.

Para teman seprofesi menganggap Nyoman memiliki kelebihan untuk membuka jaringan dan berpikir jauh melampaui masa. Setidaknya, jika para seniman sedang meributkan bentuk dan isme, Nyoman justru berani membuat museum Seni Lukis Kontemporer Nyoman Gunarsa, menghabiskan dana pribadi sekira Rp 400 juta pada tahun 1989.

Lalu, membangun sebuah tempat spektakuler, Museum Seni Lukis Klasik Bali Nyoman Gunarsa di areal seluas 5.000 m2, di Bali, menyimpan 200-an koleksi lukisan klasik Bali. Pembangunan museum-musem tersebut, menurut Nyoman, merupakan bentuk pendokumentasian seorang pelukis agar posisi pelukis menjadi ajeg.

“Saya ingin sekali melihat seni lukis di Indonesia mantap posisinya,” ungkap Nyoman sebagai dikutip Kompas, Minggu, 16 Januari 1994.

Lukisan-lukisan Nyoman memang laris-manis di pasaran internasional. Dia bahkan menjadi brand bagi seni lukis Indonesia. Di Eropa dan Amerika, bahkan dia memiliki semacam perwakilan khusus menangani karya-karyanya.

Kekuatan seni lukis Nyoman, menurut Hardi, seorang pelukis ekspresionis, juga mejadi murid selama di ISI Yogya, sebagaimana dikutip Kompas, Minggu 24 Januari 1999, mampu melahirkan suatu metode tehnik melukis sketsa, seperti teman seangkatannya seperti Suwaji dan Subroto.

Garis merupakan induk kesenian Nyoman. “Bentuk bagi Nyoman sudah merupakan sego jangan (nasi dan lauk),” tulis Hardi.

Nyoman pun, lanjut Hardi, memiliki keistimewaan cepat menangkap karakter untuk dibuat skesta atau lukis, karena itu tampilan lukisannya selalu atraktif dan spontan.

Begitu luas daya jelajah Nyoman, sehingga beragam pujian juga penghargaan acap hinggap di dirinya. Tak heran bila dunia kesenian menabalkan Nyoman sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia.

Lebih sebulan, paska-kunjungan balasan Presiden Jokowi sembari meresmikan museumnya, Nyoman Gunarsa tutup usia lantaran serangan jantung pada 10 September 2017. “Si Jatayu” memulai petualangan baru menuju nirwana. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH