Serunya Penampilan Drama Musikal Anak Berkebutuhan Khusus Sekolah Spectrum Drama Musikal Sekolah Spectrum (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

KELIMA orang itu berada di atas panggung menyanyikan beberapa lagu. Mereka tampak apik memainkan alat musik. Basis, pemain gendang, drummer, pemain cajon dan sang vokalis menyatu menghibur penonton yang minggu (13/5) sore itu memenuhi ruang auditorium Titan Center, Bintaro, Tangerang Selatan. Mereka adalah grup Band Next Journey, sekaligus alumni sekolah anak berkebutuhan khusus (ABK), Spectrum.

Penampilan mereka adalah bagian pembukaan pementasan drama musikal bertajuk 'Kebo Iwa'. Di atas panggung salah satu pengajar sekolah Spectrum turut meramaikan penampilan sebagai pemain kibor. Acara tersebut merupakan acara tahunan yang dihelat Sekolah Spectrum dalam rangka mewadahi para ABK untuk menyalurkan bakatnya melalui pertunjukkan seni drama musikal.

Next Journey Band ABK (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Dengan demikian selain menggali potensi, tujuan acara ini agar masyarakat luas mengenal kemampuan luar biasa ABK. Serta menjadi inspirasi untuk para ABK dan sekolah berkebutuhan khusus lainnya bahwa ABK memiliki banyak bakat yang terpendam.

"Tujuan acara ini yang paling penting untuk anak-anak itu sendiri. Jadi kita gali potensinya," kata Dra, Psi, Tisna Chandra, Direktur Utama Program Spectrum Treatment & Education Centre sekaligus owner sekolah Spectrum kepada merahputih.com.

Usai Next Journey membawakan 4 lagu, acara tidak langsung tertuju ke pementasan drama musikal. Masih ada lagi beberapa penampilan untuk menghibur penonton.

Di antaranya adalah penampilan solo vokal, penampilan solo angklung, dan penampilan solo drum. Ya, benar sekali semua penampil adalah anak berkebutuhan khusus.

Tari Pandet Bali (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Mereka memang memiliki kekurangan, namun tidak perlu diragukan bakat mereka dalam penampilan seni. Tidak lupa sebelum acara pembukaan, ada pembacaan doa yang juga dipimpin oleh salah satu murid Sekoah Spectrum. Penonton pun tidak pernah berhenti memberikan tepuk tangan kepada para penampil. Mereka sangat terhibur.

Akhirnya yang paling ditunggu telah tiba. Usai penampilan pembuka, ruang auditorium pun langsung gelap. Tirai besar menutupi seluruh panggung. Pertanda drama musikal akan segera dimulai. Suasana auditorium langsung hening. Penonton sangat antusias dan tidak sabar untuk menyaksikan pertunjukkan itu. Terlihat jelas dari raut wajah mereka.

Setelah itu tirai langsung dibuka. Terlihat dua orang anak memakai pakaian adat Bali. Mereka menampilkan tari Pandet Bali sebagai pembuka cerita. Tarian mereka sangat lemah gemulai. Kekompakan mereka selalu terjaga. Meski berkebutuhan khusus keluwesan gerakan mereka bak penari profesional. Tidak ada salah gerakan sedikitpun.

Monolog (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Barulah pementasan drama musikal dimulai. Pementasan ini dibagi dalam dua babak. Dua anak berdiri di atas panggung melakukan monolog. Mereka berdua berperan sebagai orangtua dari Pahlawan Kerajaan Bali, Kebo Iwa. Mereka terlihat sangat polos. Tapi tidak ada satu pun dialog dubbing yang terlupa oleh mereka. "Ya Tuhan karuniakan kami seorang anak," kata dialog anak itu.

Sesekali penonton tertawa. Betapa tidak kelucuan mereka tidak bisa disembunyikan. Apalagi saat adegan lahirnya Kebo Iwa. Karakter Kebo Iwa kecil diperankan oleh siswa yang perawakannya sangat polos dan lucu. Saat melihat adegan itu tawa penonton pun menghiasi ruangan.

Babak pertama menceritakan perjalanan hidup Kebo Iwa dari kecil hingga besar. Babak pertama diakhiri dengan adegan Kebo Iwa diundang oleh Kerajaan Majapahit untuk bertamu. Karakter Kebo Iwa yang diperankan oleh anak bernama Gregorius Andhika Mediyanto memang sangat menghibur. Penampilan anak yang akrab disapa Taha itu layaknya pemain teater profesional. Setiap ekspresi wajah dan dialog selalu diperagakan dengan baik.

Banyak kejadian lucu dalam pementasan itu. Mungkin bagi drama musikal kelucan tersebut adalah kesalahan. Namun tidak bagi pementasan Sekolah Spectrum. Inti pementasan ini adalah pembelajaran untuk membangun rasa percaya diri. Semua kesalahan menjadi suatu hiburan ringan.

Misalnya saat pergantian adegan. Ada anak yang tidak sabar untuk tampil. Mereka malah muncul di tengah adegan anak lain. Sontak hal itu mengundang lagi tawa penonton. Kemudian ada pula anak yang sangat serius dengan penampilannya. Anak itu menyuruh penonton diam. Lagi-lagi penonton tertawa.

Selingan menyanyi dan menari (Foto: MP/Ikhsan Didgo)

Ada pula anak yang selalu menatap orangtuanya di bangku penonton. Saking asyiknya ia lupa adegannya telah usai. Karena terburu-buru keluar dari panggung anak tersebut menabrak temannya yang ada di atas panggung. Sungguh kejadian yang menghibur. Tapi, bukan berarti acara tersebut menjadi penampilan komedi.

Para pemeran tetap tampil dengan profesional. Mereka tetap fokus dengan setiap scene yang ada. Mereka memang hebat. Sebab pertunjukan itu bukan sekadar drama, namun drama musikal. Artinya Setiap adegan selalu diselingi dengan menyanyikan lagu bersama, lengkap dengan tarian.

Lebih hebatnya lagi para pengajar yang selalu siap membantu anak didik mereka di atas panggung. Para pengajar selalu membantu saat ada kesalahan yang dilakukan. Misalnya saat beberapa anak tampil kurang ke depan saat berada di atas panggung. Kesigapan para pengajar selalu ada untuk mengarahkan para pemeran. Tapi jangan salah, mereka yang tampil selalu gembira dan antusias.

Babak kedua dimulai dengan adegan Kebo Iwa yang mengarungi lautan menuju kerajaan Majapahit. Perahu tersebut sudah dirusak atau dibuat bocor oleh Patih Majapahit, Gajah Mada. Tujuan Kerajaan Majapahit Mengundang Kebo Iwa memang untuk menyingkirkannya. Namun, Kebo Iwa Berhasil lolos, ia berhasil sampai ke tanah Jawa dengan cara berenang.

Para pengajar dan terapis ABK menutup acara dengan menyumbangkan lagu (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Drama musikal itu diakhiri dengan kematian Kebo Iwa. Meskipun awalnya Kebo Iwa sudah ditimbun batu di dalam sumur oleh Gajah Mada, ia berhasil lolos. Akhirnya pertarungan sengit pun terjadi antara Kebo Iwa dan Gajah Mada. Karena alasan Gajah Mada menyingkirkan Kebo Iwa agar nusantara dapat bersatu, Kebo Iwa pun tidak keberatan. "Aku rela berkorban demi persatuan Nusantara," kata Kebo Iwa.

Kebo Iwa memberitahu kepada Gajah Mada kelemahannya adalah dikubur dengan bubuk kapur. Kebo Iwa pun tutup usia demi terjadinya persatuan Nusantara Indonesia. Drama musikal berdurasi lebih kurang dua jam itu sukses menghibur penonton dengan kisah legendaris dari Propinsi Bali.

Acara tersebut tidak ditutup begitu saja. Masih ada penampilan musik dari para pengajar Sekolah Spectrum bersama para terapis Klinik Spectrum. Mereka menyanyikan beberapa lagu dan ditutup dengan lagu 'Don't Give Up', seraya megatakan mereka tidak akan pernah menyerah memberikan yang terbaik kepada anak berkebutuhan khusus. (Ikh)

Baca juga artilel menarik lainnya di sini Drama Musikal adalah Bentuk Antusiasme Anak Berkebutuhan Khusus

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH