Sering Minder Lantaran Pernah Diteriaki Cina Seraya Ditimpuki Batu! Chrisye saat masih kanak-kanak. (foto: dokumen keluarga)

CHRISYE mendadak gemar bercermin. Bisa berjam-jam lamanya. Matanya melahap tiap lekuk tubuhnya mulai ujung kaki hingga kepala. Begitu seterusnya. Dia berkaca memang tidak untuk ke pesta, tetapi sedang mencari luka, mengapa sebagian teman memandang lain dirinnya. Seakan bukan bagian mereka.

“Saya dapati sepasang mata sipit dan kulit kuning terang. Memang beda dengan teman-teman sepermainan saya di luar. Mereka berkulit sawo matang bahkan hitam legam,” ungkap Chrisye dikutip Alberthiene Endah pada Chrisye Sebuah Memoar Musikal.

Dia memang tidak sengaja mengundang pencarian asal-usul kesukuannya. Orang tuanya pun tak pernah secara lantang mengingatkannya dan dua saudaranya kalau mereka berdarah peranakan Tionghoa.

Papi dan maminya tak pernah memasang ornamen lampion, naga, dekorasi berwarna merah berteman emas, dan patung Dewa Djai Sen atau Long Fung lengkap dengan dupa sebagaimana lazimnya rumah keluarga Tionghoa.

Mereka lebih senang berbicara bahasa Belanda dan Indonesia serta gemar memutar piringan hitam melagukan tembang Frank Sinatra, Bing Crosby, dan James Dean.

Kelimbungan Chrisye terhadap kesukuannya terjadi ketika seorang teman berceletuk mengenai perbedaan fisiknya. “Chrisye, kulit lu putih banget dan mata lu sipit!” sejurus kemudian temannya masih menyambar. “Lu Cina, ya!”.

Chrisye terpana. Perkataan sang teman bak petir di siang bolong. Dia bingung mengapa temannya memperkarakan perbedaan fisiknya. Kata-kata itu sempat membuatnya gelisah.

Perlahan rasa gelisahannya mulai memudar. Dia tak lagi wasawas dan mulai berani keluar rumah untuk bermain lagi. “Pikir saya, siapa sih yang mikirin itu kecuali diri saya sendiri”.

Masa tumbuhnya rasa percaya diri Chrisye ternyata berlangsung singkat. Satu insiden menakutkan justru membangkitan kengeriannya terhadap identitas kesukuannya.

Di satu siang, sepulang Sekolah Dasar GIKI, Jalan Probolinggo, Jakarta Pusat, Chrisye berpisah jalan dengan teman-temannya. Dia berjalan sendirian. Di antara suara derap langkah sepatunya, tiba-tiba terselip teriakan keras, “Cina lo!”.

Chrisye berhenti. Dia menoleh ke segala arah namun tak ada satu batang hidung pun muncul. Langkahnya melaju. Tiba-tiba dari balik semak-semak muncul segerombalan anak. Mereka meneriaki “Cina! Cina! Cina!” Begitu riuh dan ramai.

Selagi meneriaki, sebagian gerombolan melempar batu ke arahnya. Chrisye setengah berlari menjauh menghindari timpukan. Tanpa sadar kepalanya basah, berdarah. Dia terus berlari sembari memegang kepalanya.

“Sampai di rumah, saya tak menceritakan kejadian tadi kepada mami. Saya cepat-cepat membersihkan luka di kepala dan menutupinya agar mami tidak tahu,” kenangnya.

Insiden itu begitu menancap di benak Chrisye. Dia tak lagi betah berkaca dan merasa terancam ketika melihat kulit putih dan mata sipitnya di cermin. “Tak urung ini sempat membuat saya sangat minder dan tertekan”.

Setelah kejadian itu, Chrisye selalu menolak tawaran menjadi ketua atau koordinator apa pun di sekolahnya. Dia menghindar. “Saya takut menjadi sorotan dan orang menyadari bahwa saya Cina,” singgungnya.

Butuh masa cukup lama agar rasa percaya dirinya bangkit lagi. Chrisye beruntung memiliki keluarga dan teman-teman dekat bisa mengerti kebiasaan dan menghargai perbedaannya. Dia tetap mudah bergaul meski terkadang masih suka minder (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH