Kesehatan Mental

Sering Marah-Marah karena Hal Kecil? Bisa Jadi Gejala Intermittent Explosive Disorder (IED)

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Kamis, 13 April 2023
Sering Marah-Marah karena Hal Kecil? Bisa Jadi Gejala Intermittent Explosive Disorder (IED)
IED ditandai oleh seringnya ledakan amarah yang tidak sebanding dengan peristiwa yang memicunya. (Pexels/Pixabay)

SEORANG laki-laki tinggi besar tengah viral di media sosial. Dia terlihat kerap bikin onar di beberapa tempat di Indonesia. Dari mall, stasiun kereta api, hotel, kafe, sampai bandara.

Lelaki itu bernama Yudo Andreawan. Video viralnya sebermula dari kemarahannya di Stasiun Manggarai, Jakarta, 11 April lalu. Dia tersenggol penumpang lain dan mengejar penumpang itu. Bahkan mau memukulnya.

Setelah video itu viral, video tindakan Yudo yang tak terkendali lainnya menyebar di Twitter. Lantas, mengapa reaksinya bisa berlebihan gitu, ya?

Tindakan lepas kendali seperti itu kemungkinan termasuk kategori intermittent explosive disorder (IED) atau yang biasa disebut anger issue.

Mengutip Cleaveland Clinic, ini kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh seringnya ledakan amarah atau agresi impulsif yang tidak sebanding dengan peristiwa yang memicunya.

Ledakan amarah ini bisa sampai mengakibatkan kerusakan fisik pada orang dengan IED, orang lain, bahkan hewan.

Baca juga:

Mengapa Orang Mudah Marah di Jalanan?

ied anger issue
Seorang pria marah-marah hingga mengejar perempuan yang tak sengaja menyenggolnya di stasiun kereta. (Foto: Twitter/@txtdrijkt)

Orang dengan anger issue memiliki toleransi yang rendah terhadap frustrasi dan kesulitan. Episodenya bisa berupa amukan, argumen verbal, menyerang, hingga perkelahian fisik.

Saat episode berlangsung, orang-orang dengan IED menyadari bahwa ledakan kemarahan mereka tidak pantas, tetapi mereka tidak dapat mengontrolnya.

Secara garis besar, IED terbagi dua jenis: ledakan agresif dan kemarahan bermanifestasi. Ledakan agresif ditandai oleh perilaku impulsif (tidak terencana), terjadi dengan cepat setelah diprovokasi, bertahan tidak lebih dari 30 menit, menyebabkan penderitaan yang signifikan, dan menyebabkan masalah di sekolah, tempat kerja, dan rumah.

Sedangkan kemarahan bermanifestasi memiliki tanda amarah; argumen verbal termasuk berteriak dan/atau mengancam orang lain, menyerang orang atau hewan secara fisik seperti mendorong, menampar, meninju, atau menggunakan senjata untuk menyakiti; merusak harta benda seperti melempar, menendang atau memecahkan benda dan membanting pintu; kekerasan dalam rumah tangga; dan kemarahan di jalan.

Para peneliti masih berusaha menemukan penyebab pasti anger issue ini. Sejauh ini, mereka menemukan faktor genetik, biologis, dan lingkungan yang berkontribusi dalam gangguan ini.

Dari segi faktor genetik, IED lebih sering terjadi diturunkan oleh keluarga. Studi menunjukkan bahwa 44% hingga 72% kemungkinan perilaku agresif impulsif berasal dari genetik.

Baca juga:

Ekspresikan Kemarahan dengan Cara yang Benar

anger issue
Orang dengan IED sebenarnya sadar bahwa tindakannya berlebihan, tetapi mereka tetap tidak bisa mengontrolnya. (Foto: Freepik/Racool Studio)

Sementari sudut biologis menerangkan bahwa struktur dan fungsi otak orang dengan IED berbeda dari orang normal.

Studi pencitraan resonansi magnetik otak (MRI) menunjukkan bahwa itu memengaruhi amigdala, bagian otak terlibat dalam fungsi emosional.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa tingkat serotonin (neurotransmiter dan hormon) lebih rendah pada orang dengan IED.

Terakhir faktor lingkungan. Biasanya bersumber dari pengalaman pelecehan verbal dan fisik di masa kanak-kanak.

Bisa pula karena menyaksikan pelecehan selama masa kanak-kanak. Selain itu, ada pula pengalaman satu atau lebih peristiwa traumatis di masa lampau. Semua berperan dalam terbentuknya anger issue.

Terdapat dua jenis episode yang dialami oleh pengidap anger issue : episode frekuensi tinggi/intensitas rendah dan episode frekuensi rendah/intensitas tinggi.

Episode frekuensi tinggi/intensitas rendah berupa agresi verbal (marah, pertengkaran atau pertengkaran verbal) atau agresi fisik terhadap properti, hewan, atau manusia, terjadi rata-rata dua kali seminggu, selama tiga bulan. Agresi tidak mengakibatkan kerusakan fisik pada orang atau hewan atau perusakan properti.

Sedangkan episode frekuensi rendah/intensitas tinggi terbagi atas tiga episode yang melibatkan kerusakan atau perusakan properti dan/atau penyerangan fisik. Semuanya melibatkan cedera fisik terhadap hewan atau orang lain yang terjadi dalam periode 12 bulan.

Jika kamu mengalami satu di antara kedua episode tersebut, ada baiknya kamu mengunjungi psikolog atau psikiater terdekat untuk melakukan tes diagnosis agar bisa ditangani secara profesional. (kmp)

Baca juga:

Lampiaskan Kemarahan dengan Cara Sehat dan Produktif

#Kesehatan Mental
Bagikan
Bagikan