Serba-Serbi Misteri 5 Pendekar Perempuan Tionghoa di Jakarta Mai Du Kungfu. (Foto: sampan.org)

TAK selamanya kungfu Tionghoa jadi milik kaum pria. Di antara nama-nama kondang jago-jago kungfu pria, terselip sosok-sosok jelita perempuan Tionghoa nan mahir bermain pukulan dan menguasai beragam jurus.

Sosok perempuan semisal, Tan Tjin Tjoe, Hiang Souw Hun, Hiang Souw Hian, Lo Lee Hwa Lie Lian Hwam Lie Heng Hoa, Nyonya Pek Siong, dan A Malianti (Acie Siu) tampil sebagai pendekar kungfu perempuan Tionghoa di Nusantara.

Di samping nama-nama tersebut, ada pula sosok lain nan begitu kondang bahkan menjadi buah bibir bagi masyarakat Jakarta di masa lalu. Kehadiran sosok-sosok tersebut amat misterius karena tidak tercatat pada dokumen sejarah maupun sumber pendukung lainnya. Mereka justru tersohor lantaran berkembang dari cerita tutur masyarakat.

Broer-broer Sahabat MP penasaran? Simak ulasannya berikut ini:

Pendekar Perempuan Jari Sakti

Di daerah Cengkareng, Jakarta Barat, di masa lalu tersimpan cerita tutur mengenai sosok pendekar perempuan ahli jurus totok jari. Kehebatan ilmu pendekar tersebut tersiar hingga daerah luar Cengkareng.

Hanya saja, tak mudah untuk melacak sosok tersebut lantaran tidak bernama. Dia hanya terkenal sebagai murid Sinshe Loo Tjouw Yun.

“Dari penelusuran silsilah dan jurus-jurus totokan yang dikuasai, ternyata pendekar perempuan ini masih merupakan saudari seperguruan dengan Empek Tjee Kim Siong (Jari Sakti),” tulis Alex Cheung dkk, pada Melacak Jejak Kungfu Tradisional di Indonesia.

Ilutrasi salah satu gerakan kungfu perempuan. (sumber: masterfile.com)

Sosoknya, seturut Empek Tjee Kim Siong, sebagaima dikutip Alex Cheung, sehari-hari hidup sederhana sebagai peternak babi dan kerap menggunakan celana kain sutra berwarna hitam.

Terbatasnya informasi mengenai sosok tersebut, membuat kehadirannya begitu samar. Benarkah dia sosok historis atau legenda?

Jago Cambuk Asal Kota

Sekira tahun 1940, masyarakat di Kota Tua Jakarta akrab dengan kisah pendekar perempuan pengampu kungfu dengan senjata cambuk. Dia jago cambuk tersohor.

Menurut cerita tutur masyarakat Kota Tua, seturu Alex Chueng, pendekar perempuan tersebut menggunakan sabuk kain berwarna putih. “Sabuk kain ini difungsikan sebagai senjata seperti cambuk,” tulis Cheung.

Ilustrasi permainan pedang pada kungfu. (sumber: epcohtimes.com)

Sosoknya lagi-lagi sangat misterius. Tak ada nama apalagi asal-usul. Dia bak hantu. Masyarakat pun sering menebak-nebak siapa sosok tersebut.

Menurut para sesepuh di Kota Tua, pendekar perempuan jago cambuk tersebut tinggal di sebuah kampung dengan patung batu berwarna putih untuk tempat sembahyang berada persis di depan rumahnya.

Si Jago Sentilan

Di Jakarta sekira tahun 1960, tersua cerita mulut ke mulut tentang seorang perempuan Tionghoa nan mahir melumpuhkan lawan dengan menggunakan kelerang dan batu.

Dia menggunakan juru sentilan. Batu dan kelereng tersebut diletakan pada ruas jari kemudian dilontarkan tepat ke sasarannya. Hantaman batu dan kelerang bukan saja merepotkan namun juga melukai sang lawan.

Helen Liang sedang memperagakan jurus kungfu. (sumber: shouyuliang.com)

Sosok si jago sentilan ini pun misterius. Dia, seturut Alex Cheung, menurut cerita tutur masyarakat merupakan anak seorang pedagang batik bermarga Thio di daerah Karet.

Pendekar Perempuan Tanah Abang

Sinshe Hiang Kim Le semasa hidup pernah berkisah kepada Alex Chueng tentang seorang pendekar perempuan asal Tanah Abang. Dia hidup sederhana sebagai penjual besi.

Kim Le, menurut Cheung, pernah menyaksikan kehebatn kungfu perempuan tersebut saat mengangkat peles-peles makanan berbahan kaca seberat 13 kilogram dengan hanya menempelkan bagian terdalam telapak tangannya.

Pergaan kungfu salah seorang perempuan. (sumber: agkskmnd)

Toples-toples makanan itu bisa tampak seakan-akan melekat di tangan pendekar perempuan ini,” tulis Cheung. Selain itu, pendekar anonim tersebut juga mampu mematahkan sumpit-sumpit menggunakan leher.

Jago Perempuan Asal Senen

Di daerah Kaca Piring, Senen, Jakarta Pusat, terdapat cerita tutur tentang seorang perempuan jago kungfu bernama San Niang pada tahun 1950-an.

San Niang merupakan jago kungfu Thit Kun. Dia murid perempuan satu-satunya Encek Thio Seng Peng. Segala jurus Thit Kun berhasil dipelajari hingga tamat.

Seorang perempuan menerapkan kuda-kuda kungfu. (sumber: alicdn.com)

Kehebatan San Niang bermain pukulan tersohor lantar membuat terkapar para bergundal-bergundal di Senen lantaran berbuat kurang ajar kepadanya. Pria-pria tersebut berjatuhan tak mampu meladeni kungfu San Niang.

Hingga saat ini, menurut Cheung, di kalangan sesepuh Senen cerita tentang kemahiran kungfu San Niang masih terdengar. (*)



Yudi Anugrah Nugroho