Seragam Militer akan Seperti Kulit Bunglon Seragam kamuflase untuk personil militer akan memakai teknik bunglon. (Foto: Pexels/pixabay)

BAJU loreng atau kamflase yang dipakai tentara sangat beragam jenis, warna dan bentuknya. Tujuannya hanya satu agar personil militer yang tengah bertugas dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Tentunya tidak mudah dideteksi kehadirannya oleh musuh.

Teknik pembuatan baju kamuflase ini menghasilkan beragam bentuk seragam kamuflase. Pengembangan dengan pendekatan ilmu pengetahuan terus dilakukan seperti penelitian yang mengarah pada adaptasi teknik kulit bunglon yang mampu berubah-ubah dengan seketika menyesuaikan lingkungan.

Baca Juga:

R80, Warisan Terakhir BJ Habibie untuk Indonesia

seragam
Material bunglon untuk seragam kamuflase militer. (Foto: ACS Nano 2019, DOI: 10.1021/acsnano.9b04231)

Penelitian yang dimuat pada jurnal ACS Nano ini yang dilansir dalam Mirror, tengah diujicoba material yang nantinya akan seperti kulit bunglon yang dapat berubah-ubah dengan sendirinya menyesuaikan dengan lingkungan. Material kain tersebut akan membaca kondisi lingkungannya dengan mengandalkan matahari dan panas.

Ide pembuatan material itu berasal dari bunglon dan ikan neon tetra. Dua hewan ini mampu menyamarkan diri di tengah lingkungannya salah satunya untuk menghindari diri dari predator. Fungsi pengubahan warna pada dua hewan itu adalah untuk menarik lawan jenisnya. Tapi untuk kondisi yang kedua sepertinya tidak mungkin dilakukan oleh personil milter. Kecuali untuk pamer.

Para ilmuwan tengah berusaha mewujudkan kemungkinan meniru kemampuan berubah-ubah seperti bunglon. Material yang disebut kulit pintar itu terus dikembangkan. Para pakar terus terang mengakui masih belum mencapai hasil yang maksimal.

Penelitian mereka masih berkutat pada pengembangan kemampuan fleksibel kulit pintar yang akan berubah warna pada respon bila terkena panas dan sinar matahari.

Kelompok pakar yang diwakili oleh Dr Khalid Salaita dari Emory University, Amerika ini mengatakan bahwa rona dari kulit bunglon tak hanya semata-mata bergantung pada warna atau pigmennya saja. Namun juga bergantung pada struktur mungil yang disebut photonic crystals.


Baca Juga:

Radio Analog Vs Radio Digital Vs Radio Daring, Apa Sih Bedanya?

bunglon
Bunglon yang menjadi inspirasi seragam militer kamuflase. (Foto: Pexels/George Lebada)

Jadi refleksi cahaya akan terpantul dari permukaan mikroskopik ini dan bercampur dengan refleksi cahaya lainnya yang nantinya menghasilkan beragam warna. Rona akan berubah-ubah karena pergerakan jarak antar photonic crystals, seperti ketika bunglon menlemaskan atau menegangkan kulitnya.

Untuk meniru kemampuan alami itu, Dr Salaita dan timnya menanamkan photonic crystal pada bahan yang lentur. Seperti pada bahan bernama hydrogels dan mengubah warna dengan menekan atau melebarkannya seperti pada instrumen musik akordion. Sayangnya fluktuasi yang terlalu besar dapat membuat bahan menjadi kaku dan terlipat-lipat.

Untuk itu para pakar kemudian mengamati kulit bunglon menggunakan teknik pencitraan perekam waktu. Mereka menemukan kalau bunglon melakukan perubahan warna dengan hanya menekan sebagian kecil sel kulit yang mengandung photonic crystal, sementara sebagian besar tidak mengeluarkan warna.

Dengan demikian mereka kemudian memasukan photonic crystal dalam hydrogel dan memasukan yang kedua tanpa warna yang berfungsi sebagai lapisan pendukung. Maka ketika terkena panas, bahan akan berubah warna namun tidak mengubah ukuran. Bila penelitian ini berhasil, bisa jadi kelak personil milter akan lebih mampu beradaptasi dengan lingkungannya. (psr)


Baca Juga:

Teknologi dari Film Lawas yang Telah Diwujudkan Jadi Kenyataan

Kredit : paksi

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH