Merancang Proklamasi di Rumah Petinggi Militer Jepang Rumah Laksamana Maeda. (Sumber: jakarta45.files.wordpress.com)

SESAMPAINYA di rumah Laksamana Maeda Jalan Imam Bonjol, Sukarno dan Hatta disambut hangat para tokoh termasuk Shigetada Nishizima. Tak hanya itu, Nishizima juga mendampingi Sukarno dan Hatta ke ruangan depan tempat para pemuda dan golonga tua berada.

Terkait kepulangan Sukarno-Hatta, Ahmad Soebardjo dalam buku Kesadaran Nasional menjelaskan kepada Nishizima bahwa nyawanya dipertaruhkan sebagai jaminan atas kemerdekaan Indonesia terhadap tentara Pembela Tanah Air (Peta). "Tuan tentunya memakluminya," tulis Soebardjo.

Nishizima mengangguk tanda paham, namun tidak bisa berkata apa-apa. Tak lama berselang, Laksamana Maeda tampak menuruni anak tangga rumahnya untuk menghampiri para tokoh nasional. Mereka pun saling bertukar hormat.

Pandangan mata Laksamana Maeda sejenak menatap tajam ke seluruh ruangan depan nan penuh dengan para pemuda berseragam. Sukarno mengucapkan beberapa kata kepada hadirin. Ia juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Laksamana Maeda atas kesediaan serta keikhlasannya mengadakan pertemuan.

"Sambil menunjuk pada diri saya, Nishizima menyatakan sesuatu kepada Maeda dalam bahasa Jepang. Boleh jadi ia menyampaikan apa yang telah kami bicarakan di luar tadi," kata Soebardjo.

Sementara, Sayuti Melik yang juga hadir pada saat itu memasuki ruangan resepsi dan bergabung dengan Dr Buntaran dan Iwa Kusuma Sumantri. "Ia kemudian berbicara dengan Sukarni dan Nishizima," kata Soebardjo. Setelah itu, Sukarni bersama Nishizima pergi keluar bersama-sama menggunakan satu mobil.

Kepergian Nishizima bersama Sukarni, kata Soebardjo, untuk mencegah pemberontakan atas masyarakat di luar. Sekira pukul 1 dini hari, mereka kembali ke rumah Laksamana Maeda. Bukannya senang, Sukarni justru tampak gelisah.

Ia akhirnya menemui Soebardjo sambil berkata, "Bung ikutlah dengan saya. Saya ada janji dengan Sjahrir. Ia ingin ketemu dengan Bung untuk menyampaikan sesuatu yang penting."

Namun, gayung tak bersambut. Soebardjo menolak ajakan Sukarni dengan dalih menunggu para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sukarni pantang menyerah. Ia terus mendesak Subardjo. "Adalah penting sekali bahwa kepergian kita menyangkut proklamasi."

Rayuan Sukarni akhirnya membuat Soebardjo luluh. Mereka pun pergi menemui Sjahrir bersama pula Iwa Kusuma Sumantri. "Jika ada sesuatu yang penting untuk disampaikan, paling tidak ada saksi," kata Soebardjo.

Keputusan Angkatan Darat Jepang

Kurang lebih pukul 2 dini hari, Sukarno, Hatta, dan Maeda kembali dengan ditemani salah seorang petinggi Angkatan Darat Jepang Kolonel Myoshi. Mereka pun duduk di depan meja bundar. Sebelum rapat dimulai, Sukarni justru tampak gelisah. Ia keluar-masuk ruangan seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.

Dari pembahasan rapat tersebut ternyata tak semulus yang diperkirakan Sukarno dan Hatta. Angkatan Darat Jepang tetap bersikiras terhadap pendiriannya terkait kemerdekaan Indonesia. Jenderal Otoshi Nishimura tetap menutup telinga akan alasan-alasan yang dikemukakan untuk mempercepat sidang pertama PPKI.

Perdebatan pun semakin memanas. Golongan muda dan golongan tua sudah bulat tekad untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia. Hingga akhirnya, keputusan telah ditetapkan. "Proklamasi kemerdekaan akan tetap dilaksanakan dengan atau tanpa persetujuan Angkatan Darat Jepang."

Tetapi nasib baik berada di tangan Indonesia. Sesuatu yang pada awalnya dikhawatirkan tidak terjadi. Sebaliknya, para petinggi Jepang perlahan mengundurkan diri tanpa diketahui pada saat para tokoh memperbicangkan redaksional proklamasi kemerdekaan.

Perkembangan selanjutnya berjalan lancar. Tak ada kesulitan yang berarti. Hal tersebut tak lain merupakan lampu hijau pihak Angkatan Laut Jepang untuk Indonesia membacakan teks proklamasi kemerdekaan.

Sukarno kemudian mengambil secarik kertas dan menulis sesuai dengan apa yang telah direncanakan. "Kami, Rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan kami."

Kemudian muncul kembali pertimbangan mengenai rumusan yang tepat untuk melengkapi teks proklamasi. "Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara yang secermat-cermatnya serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya."

Demikianlah pernyataan kemerdekaan yang telah dirancang di rumah Laksamana Maeda sebagai tonggak baru dalam sejarah kebangsaan rakyat Indonesia. (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH