Senjata RPKAD Bikinan Amerika Macet Sintong Panjaitan, sempat memimpin Peleton 1 RPKAD mengejar sepasukan Dewan Revolusi. (suratkabar.id)

Desember 1965, RPKAD menggelar Komando Operasi Merapi untuk mengejar kelompok Kolonel Sahirman, perwira Intel Kodam VII/DIponegoro pendukung Dewan Revolusi, di sekitar gunung Merapi dan Merbabu.

Peleton 1 pimpinan Sintong menyusuri lereng timur gunung Merapi ke Klaten melalui desa Tjokrotulung dan daerah lain.

Satu ketika, mereka memasuki sebuah desa. Para penduduk desa lari ketakutan. Mereka terkena hasutan disebarkan PKI bahwa kedatangan tentara akan menindas rakyat.

Sintong memerintahkan anak buahnya untuk mencegah penduduk telah terkena hasutan keluar dari desa. Salah satu anggota peleton 1 pun menyerukan dengan menggunakan bahasa Jawa kepada penduduk desa melalui pengeras suara.

Ampun sami mlajeng, mboten menopo-menopo, ampun ajrih! (Jangan lari, tidak apa-apa, jangan takut -terj),” seperti dikutip dari Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Para penduduk abai atas seruan itu. Mereka tetap berlari berbondong-bondong keluar desa.

Sintong pun hilang kesabaran. Dia melepaskan tembakan peringatan ke udara, sebagai tembakan peringatan. Sintong semakin geregetan, ketika setelah letusan pertama, senapannya macet. Hal itu pun dialami semua anggotanya.

Belakangan diketahui bahwa seluruh kemacetan senjata berjenis senapan serbu AR-15 tersebut terjadi karena pengait gagal menarik selongsong dari kamar peluru. Mereka pun kesal. Senjata dari Amerika itu ternyata tak sesuai harapan. Mereka lebih menyukai AK-47.(*) Achmad Sentot



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH