Detik-Detik Proklamasi RI
Sengit Sukarno-Pemuda Berujung "Penculikan". Sukarno di hadapan para pewarta. (Foto: Life Magazine)

WALIKOTA Jakarta Soediro masih tersengal begitu tiba di muka rumah Achmad Soebardjo. Mukanya kecut, pucat, dan terbata-bata melaporkan para pemuda telah menculik "keduanya".

Baca juga: Hatta Belum Juga Tiba, Sukarno Enggan Membacakan Proklamasi

"Keduanya siapa?" tanya Soebardjo setengah membentak dikutip dalam buku Kesadaran Nasional.

"Sukarno dan Hatta," jawab Soediro.

Soebardjo panik. Bersama Sukarno-Hatta, di hari itu (16 Agustus 1945), ia berencana mengadakan pertemuan bersama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). "Ke mana mereka telah pergi?" tanyanya lagi. Soediro menggeleng.

Proklamasi
Pengibaran pusaka merah putih pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Foto: Frans Mendur / IPPHOS.

Sejurus kemudian, Soediro menambahkan informasi tentang keberadaan para pemuda di Jalan Prapatan. "Wikana ada di antara mereka itu," kata Soediro.

Malam sebelumnya, 15 Agustus 1945, Soebardjo dan Soediro sama-sama menyaksikan adu keras Sukarno-Hatta dengan para pemuda diwakili Chaerul Saleh dan Wikana berdebat hingga dini hari tentang pelaksanaan proklamasi.

Para pemuda merasa kecewa dengan Dwi Tunggal. Pun sebaliknya. Bung Karno merasa kesal atas ketidaksabaran para pemuda ingin lekas memproklamasikan kemerdekaan.

Baca juga: Lika-Liku Sejarah Mikrofon Proklamasi

Dalam perdebatan itu, Sukarno bahkan menjamin lehernya kepada para pemuda. Bung Karno, menurut Cindy Adams pada Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, mengungkapkan kemarahan itu secara tegas di hadapan pemuda.

"Jangan dikira saya pengecut. Jika kamu para pemuda tidak usah menunggu sampai esok. Jika kamu ingin leher saya, seretlah saya ke pekarangan depan rumah dan bunuhlah saya!" kata Bung Karno keras.

Chaerul Saleh dan Wikana semula keras kepala perlahan menciut. Nyali keduanya langsung surut. Mereka bergeming melihat kemarahan Bung Karno.

Meski begitu, para pemuda tak mundur terhadap tuntutan secepat mungkin diproklamasikan kemerdekaan. Mereka pun membuat rencana. (*)

Baca juga: Geliat Tan Malaka di Sekitar Proklamasi

Kanal
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Starter Pack Fakboi Ketika Pelesiran
Travel
Starter Pack Fakboi Ketika Pelesiran

Apa kamu sesuai dengan ciri-ciri fakboi?

Ragam Kuliner Khas di Hari Kemerdekaan Indonesia
Kuliner
Ragam Kuliner Khas di Hari Kemerdekaan Indonesia

Beberapa menu ini bisa jadi ide kamu memasak. Intip yuk resep dan cara membuatnya.

Memotret Kampung yang Terkubur
Tradisi
Memotret Kampung yang Terkubur

Lebih dari 500 rumah kondisinya rusakparah tertimbun material dari pengunungan. Tak sedikit pula yang hilang seutuhnya terbawa banjir.

Foto: Bertahan ala Kupu-Kupu Malam
Tradisi
Foto: Bertahan ala Kupu-Kupu Malam

Pandemi Covid-19 membuat para pekerja seks komersial harus mengisolasi diri guna menghindari penyebaran virus. Seperti yang dialami salah satu pekerja seks komersial di Jakarta

Kemendikbud Resmi Luncurkan Website Jalur Rempah
Kuliner
Kemendikbud Resmi Luncurkan Website Jalur Rempah

Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pengembangan dan Permanfaatan Kebudayaan secara resmi meluncurkan website Jalur Rempah

Pengunjung Malioboro Dibatasi, Ini Ketentuan Wajib Masuk ke Sana
Travel
Pengunjung Malioboro Dibatasi, Ini Ketentuan Wajib Masuk ke Sana

Protokol ini dijalankan untuk menekan penyebaran pandemi corona.

5 Desa Adat nan Cantik Destinasi Pelesir Negeri Aing
Travel
5 Desa Adat nan Cantik Destinasi Pelesir Negeri Aing

Keunikannya membuat desa-desa wisata ini tujuan seru untuk pelesiran.

Pangandaran Punya Gunung Bukan Hanya Pantai
Travel
Pangandaran Punya Gunung Bukan Hanya Pantai

Dari atas bukit itu wisatawan dapat melihat panorama deretan gunung dan pepohonan hijau.

Kedamaian Membumi di Danau Sentani
Travel
Kedamaian Membumi di Danau Sentani

Kata Sentani berarti 'di sini kami tinggal dengan damai'.