Sembuhkan Trauma Pascaterorisme dengan Tetap Bersosialisasi Diperlukan penanganan pascaterorisme. (Foto: Pexels/Kat Jayne)

TERORISME merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Secara internasional, bentuk kejahatan yang satu ini masuk kategori kejahatan luar biasa. Motif terorisme selalu “dibungkus” dengan agama. Padahal sesungguhnya aksi terorisme dilatarbelakangi oleh ambisi berkuasa atas kelompok lain atau ingin menggulingkan kekuasaan yang sah.

Tindakan terorisme meliputi memusnahkan atau menghilangkan nyawa orang lain, merusak wilayah lawan. Para pelaku teror biasanya menjadikan golongan tertentu sebagai targetnya. Kendati demikian, tindakan mereka tak hanya merugikan satu golongan tetapi seluruh lapisan masyarakat.

Begitu banyak kerugian yang dialami masyarakat karena bencana buatan manusia tersebut. Psikolog, Adityana Kassandra Putranto menuturkan kerugian aksi terorisme meliputi kerusakan moril maupun materil. Terorisme juga menyebabkan cedera atau bahkan dapat menghilangkan nyawa pihak lain. “Itu tentu saja merugikan korban dan keluarga korban baik secara fisik ataupun psikologis,” ucap perempuan yang kerap disapa Adit ini.

pascaterorisme
Trauma secara fisik dan psikis. (Foto: Pexels/Nathan Cowley)

Dirinya menambahkan, aksi terorisme tak hanya merugikan pihak-pihak yang terlibat langsung di aksi tersebut tetapi merugikan masyarakat luas. “Secara luas terorisme menanamkan rasa takut dan mengintimidasi masyarakat sehingga kehidupan sehari-hari akan terganggu,” paparnya. Akibatnya masyarakat akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang akhirnya mempengaruhi kondisi ekonomi.

Bagi korban selamat atau keluarga korban tewas dalam tragedi teror bom tentu meninggalkan luka mendalam. Mereka akan selalu terbayang-bayang dengan kejadian menakutkan tersebut. Hal tersebut dapat meninggalkan trauma bagi mereka yang terlibat dalam aksi teror. Adit menyarankan mereka untuk mengikuti serangkaian trauma healing.

Bentuk trauma healing pascakejadian beragam. Namun, model penanganan trauma yang sering dilakukan adalah eye desensitization and reprocessing, cognitive behaviour, atau hipnoterapi.

Teknik eye desensitization and reprocessing (EMDR) merupakan teknik nontradisional yang dirancang khusus untuk pasien yang memiliki memori traumatis. EMDR hanya sedikit fokus pada peristiwa traumatis tersebut dan lebih banyak difokuskan pada emosi mengganggu yang dihasilkan saat peristiwa tersebut.

Langkah EMDR mengayunkan tangannya dan pergerakan mata pasien harus mengikuti arah tangan psikolog. Gerakannya hampir serupa dengan ayunan pendulum. Selanjutnya, sang psikolog akan mengarahkan pasien untuk melakukan proses desensitization. Di proses ini, pasien aakan mengingat memori menyakitkan dari kejadian traumatis sembari mengikuti arah jari psikolog ke depan dan ke belakang. Teknik ini dilakukan untuk membantu pasien memproses seluruh perasaan negatifnya dan mulai menyadari bahwa pasien tak lagi perlu berpegang pada trauma tersebut. Dengan demikian, secara perlahan pasien akan terlepas dari trauma.

pascaterorisme
Berbicara dengan ahli adalah jawaban yang tepat. (Foto: Pexels/Kat Jayne)

Cognitive behaviour atau terapi kognitif dan perilaku bertujuan untuk mengubah pola pikir serta perilaku. Dalam terapi tersebut, pasien akan bertatap muka dengan terapis untuk menggali akar permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya, pasien dan terapis akan bekerja sama mengubah pola pikir dan perilaku pasien sesuai target yang diharapkan. Cognitive behaviour biasa dilakukan untuk menangani depresi dan gangguan stres pascatrauma.

Selain korban dan keluarga korban, trauma dan kecemasan juga bisa dialami oleh masyarakat. Psikolog Rena Masri menjelaskan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan masyarakat agar bisa lebih tenang dan rileks pascakejadian teror. “Ketika panik, relaksasi sejenak dengan mengambil napas dalam-dalam supaya lebih tenang,” ucap Rena.

Jika kecemasan yang dirasakan lebih mendalam, bicarakan kekhawatiran yang kita rasakan kepada orang lain. Dengan demikian, perasaan was-was yang tersimpan di dada menjadi berkurang. Apabila bicara dengan orang di sekitar kita terasa kurang, kita bisa berbicara dengan ahli seperti psikolog. Sebagai seorang pakar, mereka akan menuntun kita melakukan langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi ketakutan kita.

Rena menyarankan kita untuk tetap bersosialisasi dengan keluarga dan teman serta menjalankan rutinitas sehari-hari. Hal tersebut perlu dilakukan agar kecemasan kita teralihkan dan perlahan-lahan memudar.

“Jangan lupa makan-makanan yang sehat dan bergizi dan olah raga secara tertatur agar badan lebih fit,” tambah Rena. Tubuh yang sehat dan bugar membuat pikiran kita jauh lebih positif. (avia)

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH