Selasa Wagean Malioboro dalam Nuansa Batik Kegiatan seni dan budaya meramaikan Selasa Wagean Malioboro. (Foto: MP/Teresa Ika)

KEGIATAN Selasa Wagean Malioboro kembali digelar pada Selasa 1 Oktober 2019. Selasa Wagean kali ini terasa lebih meriah dengan nuansa batik yang terasa kental. Para seniman dan masyarakat turut merayakan hari Batik Nasional dalam gelaran Selasa Wagean.

Para peserta dan sejumlah komunitas beraksi sembari mengenakan batik. Atraksi kebudayaan yang bernuansa batik turut digelar disepanjang jalan Malioboro. Adapula pertunjukan seni di luar budaya Jawa.

Baca Juga:

Hati-Hati Terbang dari Bandara Yogyakarta

selasa
Selasa Wagean di maliboro penuh dengan kegiatan kreatif dan budaya. (Foto: instagram@ingekhanti)

Dalam gelaran Selasa Wagean itu ada bebrapa kemeriahan yang mengundang perhatian publik. Seperti Flash Mob Kebaya yakni ibu-ibu yang tergabung dalam komunitas Perempuan Berkebaya menari dengan gemulai di depan kantor DPRD Malioboro. Mereka melenggak lenggokkann tubuh dengan kompak. Uniknya mereka menari menggunakan kebaya tradisional, dipadu kain batik dan sanggul gulung tenguk di belakang kepala.

Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya Margareta Tinuk mengatakan ia sengaja menampilkan flashmob untuk mempopulerkan kembali kebaya tradisional. "Kami ingin mengkampanyekan agar kebaya dikenakan kembali sebagai busana sehari-hari," ujar Tinuk.

Tak hanya itu saja adapula fashion show dan pawai batik yang uniknya fashion show ini diikuti oleh ratusan masyarakat Yogyakarta dari berbagai umur. Ibu-ibu, bapak-bapak dan anak muda bersama-sama mengenakan batik berjalan santai dari depan Kantor UPT Malioboro menuju benteng Vredeberg. Mereka turut membawa spanduk berisi ajakan untuk berbatik ria.

Kemudian tak ketinggalan para seniman mengajak masyarakat untuk belajar budaya Adi luhung bangsa melalui seni fotografi. Pameran foto berlangsung di beberapa titik di antaranya di depan kantor DPRD dan Kepatihan. foto-foto ditampilkan adalah foto-foto kegiatan budaya yang selalu diadakan di Yogyakarta seperti Grebeg Sekaten, Ngalap Barkah dan Yogyakarta tempo dulu.

Baca Juga:

4 Prosesi Budaya Seru di Keraton Yogyakarta

selasa
Selasa Wagean di Malioboro tertutup untuk arus lalu lintas. (Foto: instagram@bernadettakrizma)

Kemeriahan pertunjukan tari Angguk dan penampilan gamelan juga membuat suasana Malioboro semakin kental dengan atmosfir budaya. Tari Angguk berasal dari kabupaten kulon Progo. Tarian ini unik, karena gerak dan alunan musik para penari lebih dinamis dan energik. Padahal tarian Yogyakarta pada umumnya memiliki alunan dan gerakan yang gemulai dan lembut. Pakaian para penari seperti prajurit perang. Tari Angguk berlangsung di depan kantor Gubernur Yogyakarta. Usai tarian, dilangsungkan penampilan pertunjukan musik gamelan yang memadukan antara irama tradisional dengan irama modern.

Selasa Wage an kali ini juga membuka kesempatan bagi budaya di luar Jawa untuk beraksi. Masyarakat Bali yang tinggal di Yogyakarta unjuk gigi menampilkan tarian kecak di titik nol kilometer. Tari kecak berlangsung sekitar pukul 16.00 di dekat benteng Vredeburg. Para penari mulai bergerak dengan dinamis sambil berteriak kata-kata "Kecak" dan seketika suasana titik nol kilometer pun berubah serasa di Bali. tidak hanya pada kecak ditampilkan pula sejumlah tari tarian tradisional seperti tari dari Baduy.


Kegiatan Selasa Wagean adalah sebuah kegiatan dimana para pedagang kaki lima di wilayah Malioboro beristirahat dan tidak berjualan. Selain itu kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat dilarang melintas di sepanjang Malioboro.

Selasa Wagean berlangsung setiap 40 hari sekali dan jatuh pada hari Selasa. Kegiatan ini akan terus diadakan hingga akhir tahun 2019. (*)


Baca Juga:

5 Kebiasaan di Jogja yang Harus Dipahami Traveler


Tulisan dari Teresa Ika, kontributor merahputih.com untuk wilayah DI. Yogyakarta dan sekitarnya.

Kredit : patricia


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH