Selain Soal Politik, Hoaks Kesehatan juga Makin Meningkat Acara Forum Group Discussion (FGD) Divisi Humas Polri dengan tema Milenial Dalam Pusaran Hoax dan Masa Depan Bangsa, di Jakarta, Rabu (16/10/2019). (ANTARA/ Anita Permata Dewi)

MerahPutih.com - Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) menyebut angka peredaran hoaks melonjak ketika mendekati momen politik.

Lalu, hoaks tentang kesehatan juga menunjukkan peningkatan. Hoaks tersebut bisa berisi bahaya konsumsi bahan makanan.

Baca Juga:

Kapolda Papua: Penyebar Hoaks Kerusuhan Wamena Belum Tertangkap

"Angka penyebaran hoaks, tiap bulan begitu mendekati pemilu makin banyak. Tapi saat ini, hoaks banyak terkait kesehatan, isinya 'hati-hati, makanan ini mengandung ini' atau 'jangan pakai makan ini', ternyata hoaks," tutur Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan, kepada wartawan dalam sebuah diskusi di Jakarta Selatan, Rabu (16/10).

Acara FGD Polri bertajuk Milenial dalam Pusaran Hoax dan Masa Depan Bangsa, di Jakarta, Rabu (16/10/2019). ANTARA/Anita Dewi
Acara FGD Polri bertajuk Milenial dalam Pusaran Hoax dan Masa Depan Bangsa, di Jakarta, Rabu (16/10/2019). ANTARA/Anita Dewi

Saat konten hoaksyang diciptakan atau disebar akhirnya viral, biasanya pelaku menghapus postingan tersebut.

"Apa yang kita posting belum bisa 100 persen dihapus. Misalnya (unggahan) soal kontainer Priok (7 kontainer surat suara tercoblos) hilang (di laman media sosial), yang capture sudah banyak, ada archives yang mengumpulkan," ujar Semuel.

"Paling banyak kerja sama dengan Polri untuk melakukan penegakan hukum," imbuh dia.

Baca Juga:

PSI Kembali Diserang Hoax, Pernyataan Grace Natalie Soal "Bakmi" Diplesetkan Jadi "Babi"

Semuel pun menerangkan Kominfo menyediakan situs stophoax.id sebagai sarana masyarakat mengecek kebenaran berita atau informasi yang diterima.

Ia menegaskan, pembuat maupun penyebar hoaks tak dapat bersembunyi. Bahkan, meski telah berupaya menghilangkan jejak digital, misalnya dengan cara menghapus konten yang telah diunggah di media sosial, mereka tetap dapat diburu.

Jejak digital membuat pelaku penyebar hoaks dengan mudah diketahui. (Foto: Pixabay/geralt)
Jejak digital membuat pelaku penyebar hoaks dengan mudah diketahui. (Foto: Pixabay/geralt)

"Kita harus sadar, di ruang digital kita enggak bisa bersembunyi. Mau pakai nama palsu, fotonya siapa, kami (Kominfo) bisa temukan," kata Samuel.

Semuel mencontohkan kasus seorang paedofil yang menggunakan identitas palsu di media sosial dan mengaku sebagai dokter kandungan. "Laki-laki mengaku dokter kandungan, ketangkap juga. Enggak bisa sembunyi di ruang digital," tutup Semuel. (Knu)

Baca Juga:

Facebook akan Berlakukan Hukuman bagi Grup Penyebar Hoax


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH