Selain Penutupan Taman Nasional, Solusi Ini Cukup Efektif Tingkatkan Populasi Komodo Rumah penetasan komodo solusi lain selain penutupan. (Foto: Pixabay/skeeze)

PENELITI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menawarkan solusi lain dibandingkan hanya menutup kawasan Taman Nasional Komodo dari kegiatan wisata. Sebelumnya, wacana penutupan tersebut disampaikan Gubernur NTT Victor Laiskodat karena alasan perbaikan ekosistem.

Peneliti zoologi pada Pusat Penelitian Biologi LIPI Evy Arida mengatakan fasilitas rumah penetasan akan lebih efektif untuk membantu meningkatkan populasi komodo selain menutup Taman Nasional Komodo (TNK) selama setahun.

"(Kalau untuk) menaikkan populasi (komodo) secara langsung dalam kurun waktu satu tahun sepertinya tidak mungkin. Kecuali memang sudah ada telur-telur biawak komodo (Varanus komodoensis) yang siap ditetaskan," kata Evy dihubungi di Jakarta, seperti dilansir Antara.

1. Komodo bisa dilepaskan ketika masa rentan sudah lewat

Taman Nasional Komodo. (Foto: Pixabay/opickamikom)
Taman Nasional Komodo. (Foto: Pixabay/opickamikom)

Selain menutup taman nasional yang berada di Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut selama setahun perlu juga dilakukan penetasan telur dan dipelihara selama setahun di rumah penetasan.

"Ketika ukuran anak-anak komodo sudah melewati masa rentan predasi oleh jantan dewasa spesies biawak besar ini, baru dilepaskan ke habitatnya," kata Evy.

Adanya rumah penetasan ini bertujuan untuk memaksimalkan presentase penetasan telur dan melindungi anak komodo yang baru menetas dari predator atau aksi kanibalisme seperti di kebun binatang.

2. Hanya 25 persen telur komodo berhasil menetas

Rumah penetasan komodo efektif perbanyak populasi. (Foto: Pixabay/5477687)
Rumah penetasan komodo efektif perbanyak populasi. (Foto: Pixabay/5477687)

Perlu klarifikasi apakah niat melakukan penutupan taman nasional selama satu tahun itu harapannya memang menambah individu biawak komodo atau memaksimalkan periode kawin saja.

"Kalau untuk menambah individu, barang kali maksudnya untuk melindungi telur yang sudah ditaruh di sarang burung megapoda dari keusilan turis," kata Evy.

Reproduksi biawak komodo, menurut Evy, relatif lambat. Musim kawin sekitar lima bulan dan betina bertelur sekitar 20 butir saja. "Delapan bulan baru menetas telurnya dan ada kemungkinan hanya 25 persen saja yang berhasil menetas," lanjut Evy.

Bahaya kanibalisme hewan jantan cukup tinggi. Komodo sudah menjadi dewasa di usia delapan tahun dan dapat hidup hingga lebih dari 25 tahun. (zul)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Lima Jalan Pesisir Laut Paling Indah di Eropa, Surga Para Pejalan Kaki

Kredit : zulfikar

Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH