Selain Masalah Kesehatan, Ini Kerugian Yang Lebih Besar Dari Kebakaran Hutan Kebakaran hutan bukan hanya masalah kesehatan saja. (Foto: business insider)

KEBAKARAN hutan masih menjadi permasalahan utama bangsa Indonesia. Tragedi tersebut tak hanya terjadi di satu dua titik saja tetapi di berbagai regional yang tersebar di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan. Pembakaran hutan dianggap sebagai cara paling efektif dan cepat dalam pembukaan lahan untuk membudidayakan vegetasi tertentu misalnya kelapa sawit.

Padahal, tanpa disadari, keuntungan yang didapat tidak sebanding dengan kerugian yang akan dialami oleh negara maupun pihak swasta. Associate Director, Yayasan Climate Policy Initiative (CPI), Tiza Mafira menuturkan selama ini orang hanya fokus pada internal cost yang meliputi pembukaan lahan. Sementara yang tidak terlihat yaitu akibat-akibat yang muncul dari pembebasan hutan atau external cost nyaris luput dari perhatian.

Baca Juga:

Jembatan Gantung di Tengah Hutan ini Jadi Objek Wisata Favorit Sukabumi

kebakaran
Tiza Mafira bersama rekannya, Muhammad Ery Wijaya selaku senior analyst dan penasihat CPI Mahua Acharya. (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Tiza menguraikan, aset external cost meliputi aset pohon yang hilang karena kebakaran dan nilai aset tersebut kalau di kuantifikasi, jumlah orang yang mengalami penyakit sehingga harus dirawat di rumah sakit serta biaya pengobatan, jumlah orang yang tidak bisa pergi ke kantor sehingga tidak bisa bekerja dan tidak terjadi kegiatan ekonomi. "Selain ke kantor juga berapa banyak anak yang tidak bisa belajar dan guru yang tidak bisa mengajar di sekolah dan melakukan kegiatan ekonomi," jelas Tiza saat ditemui di JW Marriot, Jakarta Selatan, Rabu (16/10).

"Banyak sekali hal-hal yang bisa menjadi variabel untuk mengkuantifikasi kerugian negara. Itu yang harus kita tunjukkan kepada mereka untuk menjadi bahan pertimbangan," lanjutnya. Menurutnya, jika kerugian yang dihasilkan lebih besar pemerintah dan swasta bisa melakukan investasi yang lebih untuk mitigasi.

"Investasi tersebut dilakukan bukan hanya karena mereka ingin mengeruk keuntungan di masa depan tetapi juga untuk mencegah kerugian yang lebih besar," ujarnya. Lebih lanjut Tiza menilai, orang-orang tidak memberi investasi lebih untuk pengembangan ekonomi berkelanjutan karena tidak semua orang tahu bahwa cara tersebut juga bisa dinilai sebagai investasi.

Baca Juga:

5 Fakta Meresahkan Terkait Kebakaran Hebat di Hutan Amazon Brasil

hutan
Aset external cost meliputi aset pohon. (Foto: Pexels/David Riano Cortes)

"Biasanya orang hanya memikirkan keuntungan jangka pendek bukan jangka panjang," cetusnya.

Berdasarkan external cost yang diuraikan Tiza jelas dapat dilihat bahwa itu merupakan kerugian bukan keuntungan.

Untuk mengatasi hal tersebut, perempuan yang pernah menjadi pembicara di Asia-Europe Meeting SMEs Eco-Innovation Center (ASEIC) tersebut merekomendasikan pendekatan preventif.

"Kita lihat apakah pendanaannya tidak cukup sehingga mitigasi tidak efektif. Lihat juga siapa yang membiayai upaya-upaya penanggulangan kebakaran hutan, bujetnya dari mana, apakah ada kontribusi sektor swasta, apakah ada dana kompensasi yang dibayarkan perusahaan sawit yang ditemukan melanggar dan dananya bisa dikelola untuk pembangunan yang lebih ramah lingkungan. Kita tidak akan membahas dampak sosial tetapi lebih konsekuensi keuangannya agar semua pihak concern untuk menanganinya," bebernya. (avia)

Baca Juga:

4 Hutan Terindah di Dunia, Salah Satunya Ada di Indonesia

Kredit : iftinavia


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH