Sel Keluarga Diprediksi Jadi Pelaku Penyerangan Pada Polisi Densus 88 (Foto: Polri)

MerahPutih.com - Serangan terhadap kantor Kepolisian dan anggota yang terjadi belakangan adalah bukti kelompok teroris di Indonesia yang berafiliasi dengan ISIS seperti JAD dan MIT menganggap polisi sebagai musuh yang harus diperangi,

Pengamat intelijen Stanislaus Riyanta menilai, mengingatkan, Polisi telah diberi stigma sebagai thaghut. Hal ini terjadi karena polisi terutama Densus-88 berada di garis terdepan untuk memberantas terorisme.

"Aksi Densus-88 dalam memberantas terorisme tidak hanya penangkapan tetapi karena dinamika di lapangan termasuk adanya perlawanan dari kelompok terduga teroris maka Densus-88 melakukan tindakan hingga tembakan yang berakibat tewasnya terduga teroris," jelas Stanislaus kepada merahputih.com di Jakarta, Selasa (23/6).

Stanislaus menambahkan, kelompok teroris saat ini semakin terdesak terutama sejak kewenangan pencegahan dalam penanggulangan terorisme diperkuat dengan UU Nomor 5 Tahun 2018.

Baca Juga:

[HOAKS atau FAKTA]: Dokter di Surabaya Telanjang Bulat Stres Suami dan Anaknya Meninggal karena COVID-19

Polri melalui Densus-88 mempunyai landasan hukum yang kuat untuk melakukan berbagai tindakan yang perlu untuk mencegah terjadinya aksi terorisme.

"Hal ini menjadi salah satu penyebab kelompok teroris menjadikan polisi sebagai musuh, sehingga banyak aksi teror yang sasaran utama."

Ia menjelaskan, prediksi kedepan serangan terhadap polisis akan didominasi oleh serangan lone wolf, aksi yang dilakukan oleh pelaku tunggal, dan sel-sel keluarga.
Fenomena ini diperkirakan akan masih terus terjadi, mengingat aksi terorisme belum dapat dipastikan berhenti saat ini.

"Terdesaknya ISIS di Timur Tengah justru akan menguatkan aksi-aksi di dalam negeri mengingat kelompok teroris di Indonesia yang berafiliasi dengan ISIS justru akan memusatkan aksinya di tanah air," katanya.

Ia mengingatkan, Polri harus waspada terhadap ancaman dari kelompok teroris. Kerjasama dengan masyarakat sipil perlu dilakukan untuk menciptakan kemampuan deteksi dini dan cegah dini terorisme. Hal ini penting dilakukan karena para pelaku ini akan bersembunyi di tengah-tengah masyarakat dan yang paling memungkinkan untuk mendeteksi keberadaan mereka pertama kali adalah keluarga terdekat atau masyarakat.

"Tanpa kerja sama yang erat antara aparat penegak hukum, pemerintah, dan masyarakat maka terorisme sangat sulit ditanggulangi," tutup Stanislaus.

tkp penyerangan polisi
Polisi berjaga di pintu masuk Cemoro Kandang, Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (21/6). (MP/Ismail)

Seperti diketahui, anggota Polri kembali menjadi korban aksi teror. Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni dan anggota Polres Karanganyar Bripda Hanif Ariyono diserang oleh seseorang dengan senjata tajam. Aksi tersebut terjadi di jalur pendakian Gunung Lawu Pos Cemara Kandang, Kabupaten Karanganyar.

Akibat aksi tersebut Kompol Busroni mengalami luka sayat di tangan, Brida Hanif Ariyono mengalami luka sobek di leher dan punggung, dan seorang masyarakat yang berada di lokasi kejadian mengalami luka sobek di lengan kanan dan pungung. Setelah melakukan aksinya pelaku diringkus dan terpaksa diberi tindakan tegas sehingga meninggal dunia.

Satu hari sebelumnya, Mako Brimob Polda Sulawesi Tenggara dimasuki oleh seorang pria dengan berteriak-teriak (20/6/2020). Beberapa anggota Brimob berupaya menghentikan laki-laki tersebut, bahka terdengar beberapa kali tembakan peringatan. Akhirnya laki-laki tersebut dapat diringkus oleh anggota dan diamankan.

Aksi teror sebelumnya yang menyerang anggota Polri terjadi di Markas Polsek Daha Selatan, Kab Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Aksi yang menyebabkan 1 anggota Polri gugur ini terjadi pada 1 Juni 2020. Pelaku menyerang sekitar pukul 02:15 Wita dengan menggunakan atribut yang menyerupai dengan simbol ISIS. (Knu)

Baca Juga:

KPK Dalami Kedekatan Istri Nurhadi dengan PNS MA


Tags Artikel Ini

Alwan Ridha Ramdani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH