Sejarah Valentine, dari Tradisi Romawi hingga Pembunuhan Pastor Hari valentine (Sumber: Pixabay/PlushDesignStudio)

APA yang kamu pikirkan pertama kali saat mendengar kata hari valentine? Sebagian besar dari kita mungkin langsung mengatakan "hari valentine adalah hari kasih sayang, setiap orang bisa mengungkapkan rasa cintanya ke pasangan masing-masing".

Hal tersebut tidak salah, karena memang itulah pengertian dari hari valentine. Perayaan valentine sendiri jatuh setiap tanggal 14 Februari. Biasanya para pasangan saling bertukar kado untuk membuktikan rasa sayangnya.

Hari valentine dipopulerkan oleh Amerika Serikat dan menyebar ke berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Di negeri Paman Sam itu, Hari Valentine menjadi perayaan terbesar selain Natal. Sekitar 190 juta kartu ucapan valentine dikirim setiap tahunnya.

Ada beberapa versi yang menjelaskan tentang kemunculan hari valentine ini. Salah satunya sangat berkaitan erat dengan sebuah festival bernama Lupercalia di masa Romawi Kuno. Dilansir dari stvalentinesday.org, festival yang diadakan setiap tanggal 15 Februari ini didedikasikan untuk Dewa Pertanian Lupercus dan Faunus.

Perayaan bangsa Romawi Kuno

Patung peninggalan bangsa Romawi (Sumber: Pixabay/Eirym)
Patung peninggalan bangsa Romawi (Sumber: Pixabay/Eirym)

Tradisi yang diadakan tanggal 15 Februari ini dimulai dengan menyembelih seekor kambing untuk kesuburan dan seekor anjing untuk pemurnian. Kemudian remaja pria akan mengiris kulit kambing menjadi beberapa potong dan menyelumkannya ke darah. Sambil memegang kulit tadi, remaja pria kemudian berkeliling jalan Roma.

Ketika bertemu seorang perempuan mereka kemudian mencambuknya dengan kulit kambing. Para perempuan tidak menghindar bahkan berebut untuk dicambuk. Mereka percaya sentuhan kulit kambing membuat seorang perempuan berbuah dan membawa persalinan yang mudah.

Tradisi lainnya dari Feast of Lupercalia adalah memasangkan setiap pemuda dengan lawan jenis. Para remaja perempuan menuliskan nama mereka dan memasukannya ke dalam guci besar. Setelah itu remaja laki-laki menuliskan nama perempuan yang ingin dipasangkan dengannya. Tradisi ini mirip dengan lotre. Tak jarang mda mudi yang dipasangkan jatuh cinta dan berujung pernikahan.

Tradisi ini kemudian lenyap setelah agama Kristen menyebar ke seluruh Roma, kebiasaan menemukan jodoh melalui lotre dianggap tidak Kristen dan dilarang. Orang merasa bahwa pasangan harus dipilih berdasarkan penglihatan dan bukan keberuntungan.

Mengenang Santo Valentine

Valentine punya sejarah yang simpang siur (Sumber: Pixabay/Nietjuh)
Valentine punya sejarah yang simpang siur (Sumber: Pixabay/Nietjuh)

Kisah lain dari hari valentine datang dari petinggi agama Kristen Roma bernama St. Valentine yang hidup di abad ke-2 akhir. Ia dipenggal oleh Kaisar Claudius II karena sebuah pelanggaran yakni menikahkan pasangan Kristen menikah.

Kaisar Claudius II memang memiliki pendapat aneh. Ia percaya kalau tentara akan berperang lebih baik daripada sudah menikah. Hal itu karena tentara berstatus menikah takut dengan apa yang mungkin terjadi pada mereka atau istri dan keluarga jika mati.

Keputusan itu ditentang oleh St. Valentine. Ia kemudian secara diam-diam menikahi pasangan di dalam gereja. Naas, pernikahan itu diketahui oleh kaisar hingga berujung ke penangkapan Valentine. Dilansir dari CBN, Valentine akhirnya dijatuhkan hukuman mati pada tahun 270 M.

Berdasarkan ensiklopedi katolik, nama Valentine atau Valentinus merujuk pada tiga orang, pertama pastur dari Roma, Uskup Interamna dan martir di provinsi Romawi Afrika. Ketiganya punya cerita berbeda, namun Paus Gelasius I di tahun 496 menetapkan hari valentine sebagai perayaan untuk Santo valentine.

Meski demikian, ada juga yang mengatakan kalau Paus Gelasius I sengaja membuat perayaan valentine tanggal 14 Februari untuk menandingi perayaan Lupercalia. Hari raya valentine juga sempat dihapus dari kalender gerejawi di tahun 1969. Alasannya asal usul St. Valentine masih dipertanyakan.


Tags Artikel Ini

Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH