Sejarah Kelam di Balik "Genjer-genjer" Sebagai Lagu PKI Foto: jejakandromeda.com

MerahPutih Budaya - Indonesia memiliki berbagai catatan secarah kelam, mulai dari masa penjajahan Belanda dan Jepang, hingga masa pasca kemerdekaan.

Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi salah satu sejarah kelam yang dimiliki bangsa ini. PKI dituding sebagai otak di balik pembunuhan para Jendral pada tragedi 30 September 1965.

Tragedi itu pun diakhiri dengan pembantaian seluruh anggota PKI hingga akar-akarnya oleh Jendral Soeharto yang kemudian diangkat sebagai Presiden menggantikan Soekarno.

PKI menjadi hal yang sangat tabu dibicarakan pada masa pemerintahan Orde Baru, segala hal yang berhubungan dengan PKI dimusnahkan, disembunyikan dan dihilangkan dari publik.

Lagu "Genjer-Genjer" salah satunya. "Genjer-genjer" adalah lagu populer yang diciptakan oleh seniman asal Banyuwangi, Muhammad Arief, pada tahun 1940-an.

Syair lagu Genjer-Genjer dimaksudkan sebagai sindiran atas masa pendudukan Jepang ke Indonesia. Pada saat itu, kondisi rakyat semakin sesangsara dibanding sebelumnya. Bahkan ‘genjer’ tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa sebelumnya dikosumsi itik, namun menjadi santapan yang lezat akibat tidak mampu membeli daging.

Menurut Suripan Sadi Hutomo (1990: 10), upaya yang dilakukan M Arif sesuai dengan fungsi Sastra Lisan, yaitu sebagai kritik sosial, menyidir penguasa dan alat perjuangan.

Pasca kemerdekaan lagu Genjer-Genjer pun semakin populer dan dinyanyikan oleh penyanyi populer seperti Lilis Suryani dan Bing Selamet.

Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966), Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan popularitas. Lagu ini, yang menggambarkan penderitaan warga desa, menjadi salah satu lagu propaganda yang disukai dan dinyanyikan pada berbagai kesempatan. Akibatnya orang mulai mengasosiasikan lagu Genjer-Genjer sebagai "lagu PKI.

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 membuat rezim Orde Baru yang anti-komunisme melarang disebarluaskannya lagu ini. Menurut versi TNI, para anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat menyanyikan lagu ini ketika para jendral yang diculik diinterogasi dan disiksa. Peristiwa ini digambarkan pada film Pengkhianatan G 30 S/PKI besutan Arifin C. Noer.

Dalam serangkaian peristiwa tragedi pembantaian komunis oleh TNI dan pendukung Orde Baru tahun 1965 - 1966 di Indonesia, Muhammad Arief, pencipta lagu "Genjer-genjer" meninggal dibunuh akibat dianggap terlibat dalam organisasi massa onderbouw PKI.

Setelah berakhirnya rezim Orde Baru pada tahun 1998, larangan penyebarluasan lagu "Genjer-genjer" secara formal telah berakhir. Lagu "Genjer-genjer" mulai beredar secara bebas melalui media internet. Walaupun telah diperbolehkan, masih terjadi beberapa kasus yang melibatkan stigmatisasi lagu ini, seperti terjadinya demo sekelompok orang terhadap suatu stasiun radio di Solo akibat mengudarakan lagu tersebut. pasca kejatuhan soeharto,Genjer-genjer kembali populer bahkan group band reage asal jogjakarta telah mempopulerkan lagu tersebut kembali. Lagu Genjer-Genjer juga digunakan sebagai opening song dan ending song dalam serial dokumenter "40 years of silence" yang memuat sejumlah kesaksian mengenai tahun 1965-1966

 

BACA JUGA:

  1. Makna Lagu Kicir - Kicir dari Betawi
  2. Makna Kepemimpinan dalam Lagu "Gundul-gundul Pacul"
  3. Misteri di Balik Lagu 'Lingsir Wengi', Tembang Pemanggil Kuntilanak
  4. Pantai Cihara Sensasi Deburan Ombak Laut Selatan Banten
  5. Pantai Suka Hujan Objek Wisata Sunyi di Selatan Banten


Ana Amalia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH