SEJARAH HARI INI: Mengenang Peristiwa Tanjung Priok 1984  Menpan Harmoko, Kapolda Metro Jaya Mayjen Soedjoko, Pangdam V Jaya Mayjen Try Sutrisno, Panglima Kopkamtib Jenderal LB Moerdani, memberi keterangan pers Peristiwa Tanjung Priok. (Kompas).

SEJARAH Hari Ini, 33 tahun silam, terjadi kerusuhan melibatkan umat muslim dengan aparat keamanan di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kejadian bermula ketika pada 7 September 1984, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Sersan Hermanu, mendatangi Ahmad Sahi, Ketua Musahala Assa`adah di Gang IV, Tanjung Priok, memimnta agar poster dan pamflet berisi kata-kata menghujat pemerintah dicopot di dinding mushala.

Sehari berselang, Sersan Hermanu masih melihat poster bergambar Soeharto dengan mulut terbuka dan disuap uang dollar. Dia berusaha mencopot poster. Beredar desas-desus, sang sersan masuk ke mushala tanpa membuka sepatu, dan menggunakan air comberan untuk menghilangkan coretan di dinding mushala.

“Karena pamflet-pamflet itu ditulis dengan pilox yang tidak bisa dihapus, dan tidak ada peralatan di tempat itu untuk dipakai menghapusnya, maka tidak ada cara lain kecuali menyiramnya dengan air combera,” terang Hermanu pada persidangan bertindak sebagai saksi, sebagaimana dikutip Irfan S Awwas dkk, Bencana Umat Islam di Indonesia Tahun 1980-2000.

Kabar desas-desus itu cepat merambat mengundang reaksi masyarakat. Para tokoh dan pengurus, semisal Syawan bin Sulaeman dan Syarifuddin Rambe bersepakat menemui Hermanu mencoba membahas desas-desus.

Ketika pertemuan berlangsung pada Senin, 10 September 1984, tiba-tiba massa membakr sepeda motor milik Hermanu. Syawan dan Rambe saat hendak menenangkan masa justru diangkut petugas keamanan bersama kedua tokoh lain, Ahmad Sahi dan Mohammad Nor.

Penahanan keempat tokoh muslim Tanjung Priok malah membuat situasi semakin memanas. Keesokan hari, Amir Biki, salah seorang tokoh ternama Tanjung Priok mendatangi Kodim setempat dan meminta agar keempat tokoh dibebaskan seperti kehendak masyarakat. Permintaan gagal.

Malam hari diadakan pertemuan akbar mengundang seluruh umat muslim se-Jakarta. Selama lebih-kurang 3 jam acara berlangsung. Amir Biki pun sempat memberi semacam pidato berisi kecaman terhadap penangkapan keempat tokoh tersebut.

Pagi hari, 12 September 1984, sekira 1.500 orang bergerak memecah dua arah, satu rombongan menuju Polres Tanjung Priok, sementara sebagai lagi menuju Kodim.

Masa menuju Polres kemudian dihadang aparat keamanan bersenjata lengkap termasuk alat berat. Keadaan memanas, aparat kemudian melepaskan rentetan tembakan ke arah masa. Korban pun berjatuhan.

Tak jauh berbeda, masa bersama Amir Biki menuju Kodim pun mendapat sambutan peluru tajam. Korban lagi-lagi berjatuhan.

Tidak diketahui secara pasti angka korban tewa, luka-luka, dan hilang pada Peristiwa Tanjung Priok. Pada 13 September 1984, didampingi Menpan Harmoko, Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Soedjoko, Pangdam V Jaya selaku Laksusda Kopkamtib Mayjen Try Sutrisno, Panglima Kopkamtib Jendral LB Moerdani memberikan keterangan pers merilis jumlah korban tewas 18 orang, dan 53 orang luka-luka pada insiden tersebut.

Sementara, Solidaritas untuk Korban Peristiwa Tanjug Priok (SONTAK) mengungkapkan sebanyak 400 orang tewas dan beberapa orang ditangkap dan disiksa aparat pada Peristiwa Tanjung Priok.

Sejarah mencatat bahwa Peristiwa Tanjung Priok menjadi salah satu dari sekian catatan hitam pemerintahan Orde Baru. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH