Sejarah Disko, Musik Perlawanan Idola Muda-Mudi Jakarta! DJ Vincent berdiri di bekas gedung diskotek Tanamur. (Foto: Rizky Fitrianto)

SEBULAN selang pesta pergantian tahun 1971, Rushdy Hoesein beranjangsana menemui seorang sahabat satu liftingnya. Mereka bertukar cerita. Macam-macam. Di ujung pertemuan, sahabatnya sempat berapi-api memperkenalkan satu tempat hiburan baru di Jakarta, bernama Tanamur, akronim Tanah Abang Timur. Rusdhy penasaran. “Kayak apa sih Tanamur itu?,” ungkap Rushdy kepada merahputih.com.

Usai beroleh alamat lengkap dan ancar-ancar, malam berikutnya mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut tancap gas menuju lokasi. Setiba di depan gedung Jalan Tanah Abang Timur Nomor 14, Rushdy disambut riuh-rendah para tamu, kendaraan-kendaraan meluberi tempat parkir, dan dentuman keras musik funk.

Dia agak canggung ketika memasuki Tanamur, melihat para tamu ‘kesetanan’ meningkahi musik di antara kabut tebal asap rokok dan kerlap-kerlip lampu. “Sama sekali beda dengan Nigth Club,” kata sosok nan di kemudian hari lebih dikenal sebagai sejarawan ketimbang dokter.

Halaman muka diskotek Tanamur. (Foto: Dokumen Tanamur)

Kecanggungannya terpecah ketika seorang lelaki berdarah Arab menemuinya. Lelaki bertubuh tinggi besar itu Ahmad Fahmi Alhady, salah seorang pemilik diskotek pertama di asia tenggara, Tanamur. Mereka saling kenal. Fahmi masih terhitung kerabat jauh Rushdy. “Saya manggil ayahnya, Ami (bahasa Arab, berarti paman) Zein,” ungkap Rushdy saat ditemui di restoran De Proklamasi.

Perlahan-lahan Rushdy mulai kerasaan. Dia sanggup berlama-lama, meski telinganya belum terbiasa dengan musik nan di kemudian hari dikenal sebagai Disko. “Saya asing dengan musiknya. Tapi beberapa lagu macam The Beatles masih bisa dinikmatin biarpun musiknya agak beda,” ungkapnya. Meski sempat canggung, dia tak kapok berkunjung ulang untuk menikmati suasana Tanamur.

tanamur
Riuh-rendah pengujung Tanamur saat pesta kostum. (Foto: Dokumen Tanamur)

Rushdy, serupa gambaran kebanyakan muda-mudi Indonesia tahun 1970-an, terhadap musik Disko. Mereka masih terlalu canggung mendengar campuran rhythm and blues, motown, jazz, dan swing dengan irama menghentak tersebut. Memang bukan perkara mudah memahami musik Disko. Disko lahir untuk melawan tekanan fasis, namun berkembang dengan stigma sebagai musik kaum homoseksual.

Musik Bawah Tanah

Keasingan Rushdy dan beberapa muda-mudi tahun 1970-an terhadap musik Disko juga mula-mula menimpa DJ Vincent. Ketika tiba di Jakarta pada Januari 1970, Vincent tercekat saat kali pertama mendengar lagu Disko diputar di siaran radio-radio komunitas. Pendengarannya beroleh nuansa berbeda, selain musik koor gereja dan lagu-lagu tradisional Merauke, Papua, daerah asalnya.

“Pertama sih aneh,” kata Vicent sembari mengerutkan dahi. Lalu membuang pandang ke atas. “Tapi lama-lama asyik juga buat joget. Ajojing,” ungkapnya diselangi tawa.

Makin hari, pergaulan Vincent meluas. Dia mulai kenal para operator radio dan orang-orang Tanamur. Dari situ impiannya sekolah militer Angkatan Laut bubar, berganti keinginan menjadi Disc Jockey. Lelaki nan sehari-hari gemar makan buah segar tersebut mulai mengutak-atik turn table dan piringan hitam. Vincet belajar otodidak. Tahun 1982 merupakan kali pertama dia bermain di Tanamur, dan terus memandu musik hingga diskotek itu tutup.

vincent tanamur
DJ Vincent saat bercerita tentang masa kejayaan Tanamur. (Foto: Rizky Fitriant/MP)

Meski bukan jebolan sekolah DJ, bukan berarti Vincet buta sejarah kelahiran musik Disko. “Kalau enggak salah, disko muncul di Perancis. Jadi musik bawah tanah selama Perang Dunia II,” papar lelaki berambut panjang memutih kini hidup sederhana di bekas diskotek Tanamur.

Laku hidup Vincet dan perjalanan sejarah Disko nampak bertalian, terutama berkait kontradiksi dan keironisan. Ketenaran Vincent sebagai DJ bergeliat seiring menanjaknya masa keemasan diskotek tempatnya bekerja, dan merangkak sepi seturut merosotnya pamor Tanamur.

disko
Infografis Sejarah Disko. (Bayu Samudro/MP)

Sementara sejarah kemunculan Disko justru sebaliknya, lahir di tengah masyarakat hampir punah di bawah bayang-bayang fasis, lalu melonjak menjadi hiburan paling gemerlapan, kehura-huraan, dan penuh goyangan gadis-gadis sexy. “Disko dan ketidakpuasaan bersatu seperti glitterballs dan rhinestones,” tulis Peter Saphiro pada Turn the Beat Around: The Secret History of Disco.

Disko tak lain kependekan Diskotek, berasal dari bahasa Perancis, Dischotheque. Terdapat dua kata pembentuk, Disque berarti piringan hitam dan Bibliotheque berarti perpustakaan. Dari perpustakaan piringan hitam, makna Dischotheque kemudian berkembang menjadi gedung atau tempat menyimpan dan memutar piringan hitam. Disko dan Diskotek, lanjut Saphiro, dapat ditelusuri lebih jauh pada masa NAZI mengokupasi Perancis saat berlangsungnya Perang Dunia II.

NAZI
Tentara NAZI memasuki kota Paris, Perancis. (Sumber: wwiipict)

Di Perancis, jauh sebelum NAZI mengokupasi, terjalin kontak panjang para pemuda-pemudi dengan musisi dan kultur Jazz Amerika. Kontak tersebut pada perkembangannya melahirkan subkultur baru. Mereka sering disebut Les Zazous. Mereka berasal dari masyarakat kelas menengah dan bawah.

Para Zazous mudah dikenali lantaran berbusana khas. Bagi laki-laki, acap mengenakan celana baggy, baju lengan panjang dengan kerah tinggi, berkacamata hitam. Sementara para perempuan memakai rok pendek, sweater baggy, mencat kuku jari, rambut melengkung sebahu, dan gincu merah menyala.

Zazous menjadi gerakan penentang okupasi NAZI paling gencar. Mereka biasa berkumpul pada hari minggu di cafe atau restoran kecil memutar piringan hitam sembari menari. Saat NAZI memaksa orang Yahudi mengenakan Bintang David warna kuning untuk menandai mereka, para Zazous pun menentang dan beraksi menggunakan Bintang David sebagai bentuk keberpihakannya pada kaum Yahudi. NAZI bereaksi keras, menangkapi dan mengirim mereka ke kamp pekerja.

Zazous
Bintang Daud Zazous

Perburuan pihak NAZI, membuat para Zazous bergerak di bawah tanah. Salah satu tempat pertemuan mereka tak lain, Les Discotheque, sebuah basement club kecil di Rue de la Huchette, Paris, satu blok sebelah selatan Seine Arrondissements. Mereka merundingkan strategi perjuangan sembari tetap memutar piringan hitam dan menari. Discotheque kemudian terekam sebagai tempat perjuangan bawah tanah kelompok radikal Perancis terhadap NAZI.

Zazous
Ilustrasi penangkapan tentara NAZI terhadap Zazous. (Sumber: lewebpedagogique)

“Zazous juga melakukan perlawanan kultural dengan memutar piringan hitam musik Jazz selagi NAZI membuat propaganda musik klasik terhadap lembaga Parisian semisal Moulin Rouge, One Two Two, dan Maxims,” tulis Saphiro.

Usai masa okupasi NAZI, bahkan setelah PD II berakhir, Basement Club Zazous semakin kondang dan menjamur di berbagai belahan Eropa hingga Amerika. Di negeri Paman Sam, konsep Disko atau Diskotek sebagai alat perjuangan berubah wajah.

Stigma Musik Homoseksual

Diskotek mulai muncul di Amerika, menurut Michael Campbell pada Popular Music in America: The Beat Goes On, pada sekira tahun 1950-an ditandai dengan sebuah Whisky Go Go di Chicago. Kaum jetset Amerika juga mulai mengadakan pesta-pesta di rumah dengan menari twist berteman musik funk menghentak.

Musik Disko kemudian semakin marak. Dan mendapat sorotan luas ketika sebuah grup bernama The Village People tampil mencolok menggunakan busana ketat di atas panggung, dan berani mempesembahkan sebuah lagu tentang pertemuan kaum homoseksual di asrama YMCA, dengan judul lagu YMCA (1978). Empat dari enam lelaki personel Village People secara terang-benderang mengaku sebagai homoseksual. Mereka pun sering tampil di klub-klub gay.

Whisky Go Go
Bekas plang nama Whisky Go Go Chicago.

Komposer asal Perancis, Jacques Moreli dan rekan bisnisnya Henri Belolo merupakan inisiator pendirian Village People. Album perdana mereka bertajuk Village People terbit pada Juli 1977 mencetak hits besar. Permintaan tampil secara langsung pun berdatangan. Kemunculan mereka sontak menuai polemik.

Kemasyhuran Village People mengusung musik Disko justru memancing masyarakat luas di Amerika mengidentifikasi Disko sebagai musik kaum homoseksual. Stigma tersebut begitu kuat terpancang. “Musik Disko, dengan gaya kabaret anti-rock, merupakan lambang sonic gay, ” tulis John Rockwell, jurnalis New York Times pada artikel bertajuk “Who Won, Rock or Disco?” pada 1990.

village people
Aksi panggung The VIllage People. (Billboard)

Anggapan Disko sebagai musik gay pun sayup-sayup sempat mengusik perkembangan Diskotek dan musik Disko di kota-kota besar Indonesia. Para orang tua justru memiliki fokus ekstra terhadap gelombang Disko pada soal seks bebas. “Orang tua khawatir seks bebas di masa itu sih wajar. Tapi kami enggak pernah sih. Paling banter minum-minum. Asyik-asyikan aja lepas penat,” ungkap Elly, salah seorang pengujung berkala Tanamur.

Persepsi negatif orang-orang terhadap Disko sempat jadi peringatan bersama. Elly juga banyak pengunjung Tanamur coba menepis pandangan miring tersebut. “Kami tetap bekerja. Dan tamu di sana juga bukan orang sembarang,” tukasnya.

Para pengujung Tanamur memang beragam, mulai para pekerja di kedutaan besar negara asing, manajer di perusahaan besar, hingga para para ahli di masing-masing bidang.

Kebangkitan musik Disko dan kemunculan beragam diskotek di Jakarta tak terlepas dari berbagai momentum, mulai dari kebijakan pemerintah terhadap budaya Barat, boom oil, hingga demam film Saturday Night Fever pada tahun 1977.

John Travolta berperan sebagai Tony Manero si raja disko pada film Saturday Night Fever 1977.

Pengujung diskotek meningkat pesat. Gairah melantai semakin membuncah. Tiap lelaki seolah berlomba-lomba serupa Tony Manero, diperankan John Travolta pada Saturday Night Fever. Cap sebagai Raja Disko menjadi barang rebutan. Para penggila disko pun ramai-ramai mendengengunkan slogan, “Jangan tidur sore-sore!”. (*) Noer Ardiansjah/Yudi Anugrah/Thomas Kukuh


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH