Selamatkan Dirimu dari 'Abusive Relationship' Segera selamatkan dirimu sendiri dari abusive relationship. (Foto Unsplash/Noah Buscher)

TERJEBAK dalam abusive relationship merupakan hal yang bisa dialami semua orang tanpa mengenal ras, kelas, tingkat pendidikan, atau status sosial. Hubungan yang melibatkan kekerasan baik secara verbal maupun nonverbal ini pun sangat sulit untuk ditinggalkan begitu saja.

Jika ingin lepas dari abusive relationship, para pakar mengatakan bahwa harus ada tekad serta rencana yang jelas kedepannya. Perpetua Neo, psikolog klinis mengatakan kepada Greatist bahwa korban kekerasan biasanya sudah diisolasikan atau digaslight sehingga mereka berpikir bahwa mereka gila.

Baca Juga:

Waspada Gaslighting, Taktik manipulatif untuk Memutarbalikkan Fakta

Cari dukungan

Abuser suka membuatmu merasa bahwa kamu sudah kehilangan akal.  (Foto: Pexels/fauxels)
Abuser suka membuatmu merasa bahwa kamu sudah kehilangan akal. (Foto: Pexels/fauxels)

Neo mengatakan bahwa langkah pertama yang bisa dilakukan adalah terhubung kembali dengan keluarga dan teman-teman. Cobalah untuk menghubungi teman lama atau anggota keluarga dan ceritakan keadaan yang sebenarnya. Tanpa ada dukungan, sangatlah sulit untuk bisa meninggalkan abusive relationship.

Jika kamu mengalami kekerasan, mintalah bantuan. Kamu tidak harus selalu bercerita kepada teman baikmu atau anggota keluarga. Kamu bisa bercerita pada teman kantor, dokter, bahkan polisi. "Selalu rekam kejadiannya. Kepolisian bisa jadi tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bukti, jadi terkadang dokumentasi dibutuhkan," ungkap Neo.

Jean Otto Ph.D, seorang psikolog klinis berlisensi juga mengatakan bahwa para korban abusive relationship harus benar-benar merencanakan segalanya jika ingin pergi dari hubungan tersebut, baik secara emosional maupun fisik.

Baca Juga:

3 Tanda Pacar Sedang Gaslighting Kamu

Bertahan hidup

Keluar dari abusive relationship membutuhkan tekad kuat. (Foto evolyst.com)
Keluar dari abusive relationship membutuhkan tekad kuat. (Foto: Pexels/Odonata Wellnesscenter)

Jika ingin meninggalkan pasanganmu, sebaiknya rencanakan dimana kamu akan tinggal. Kamu bisa menyewa apartemen, menginap di rumah teman untuk sementara, atau menghubungi keluarga terdekat. Otto juga mengatakan bahwa kamu harus mempersiapkan uang yang setidaknya cukup untuk bertahan hidup selama satu atau dua bulan kedepan.

Yang terpenting, tetap jaga kesehatan mental dan fisikmu. Meninggalkan abuser merupakan tindakan yang sangat pantas untuk dibanggakan. Otto mengatakan bahwa sangatlah normal jika para korban merasa tidak stabil secara emosional ketika meninggalkan pasangan yang abusive. Maka dari itu, cobalah untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa meningkatkan kepercayaan diri serta membangun self-love dan penghargaan diri yang selama ini terkubur.

Bantuan profesional

Korban abusive relationship bisa terjadi kepada perempuan dan laki-laki.  (Foto- Unsplash/Daniel Mingook Kim)
Korban abusive relationship tidak memandang gender. (Foto- Unsplash/Daniel Mingook Kim)

Setelah berhasil meninggalkan abusive relationship, 'bekas luka' dan trauma dalam diri seseorang juga tidak akan langsung menghilang. Vikki Zeigler, pengacara perceraian dan ahli hubungan mengatakan kepada Greatist bahwa korban abusive relationship cenderung mengalami PTSD (Post-traumatic stress disorder).

Dilansir dari Mayo Clinic, PTSD merupakan kondisi mental yang dipicu oleh peristiwa yang menakutkan, bisa jadi karena terlibat dalam peristiwa tersebut atau menyaksikannya. Gejala-gejala PTSD meliputi flashback, mimpi buruk, kecemasan akut dan overthinking.

Secara ideal, Zeigler menyarankan para pejuang yang berhasil keluar dari abusive relationship untuk meraih bantuan dari para profesional seperti terapis berlisensi, psikolog, atau psikiater. (SHN)

Baca Juga:

Hati-hati! Ini 5 Teknik yang Biasa Digunakan Para Gaslighter Untuk Memanipulasimu!

Kredit : shenna

Tags Artikel Ini

shenna