XX Tahun Reformasi-Segenggam Refleksi, lewat Foto Mengingat  20 Tahun Pembaruan Galeri Foto Jurnalistik Antara bekerjasama dengan Antara Foto, Pewarta Foto Indonesia, Grafisosial Indonesia menggelar pameran bertema peringatan 20 tahun reformasi. (foto: ANTARA/Wahyu Putro)

SEBANYAK 24 poster foto, 10 foto, dan 1 mural terpasang rapi di ruang pamer Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) di Pasar Baru, Jakarta. Sejumlah orang sibuk berkoordinasi, berlalu-lalang, Jumat (11/5) sore, tim GFJA memang tengah sibuk bersiap membuka pameran foto. Gedung bersejarah tempat penyiaran proklamasi kemerdekaan RI itu memang jadi tempat berpameran foto.

Sore itu, pameran yang dipersiapkan bertemakan peringatan 20 tahun Reformasi. Mengangkat tajuk XX Tahun Reformasi-Segenggam Refleksi, pameran foto itu menampilkan sejumlah karya foto jurnalistik seputar gerakan Reformasi yang berhasil menumbangkan rezim Orde Baru tersebut.

Sebagai sebuah ruang pajang imaji pergerakan, pameran itu layak disebut sebagai pengingat agar sejarah Reformasi tidak menguap begitu saja ditelan waktu. Sudah sepantasnya lembaga pers menjadi pengingat akan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Republik ini. "Tugas pers untuk meneruskan pesan-pesan yang seolah terlupakan," ujar Oscar Motuloh dalam pengantar kuratorial yang diterima Merahputih.com.

Sejumlah pengunjung menyaksikan karya foto yang dipamerkan dalam pameran XX Tahun Reformasi-Segenggam Refleksi. (foto: ANTARA/Wahyu Putro)

Karya pewarta foto Antara Saptono dijadikan ikon omega dari klimaks drama tumbangnya pemimpin tertinggi Orde Baru. Sementara itu, imaji seorang mahasiswi yang terkapar di Jalan Kyai Tapa Grogol pada 12 Mei 1998 ialah ikon alfa dari gerakan Reformasi menuju titik didihnya. Peristiwa yang dipetik pewarta foto Kompas Julian Sihombing tersebut menjadi simbol perlawanan mahasiswa dan pemuda yang kemudian kita ketahui berhasil menumbangkan rezim Soeharto, tapi gagal memusnahkan baksil dan amubanya. Alfa dan omega gerakan Reformasi secara fotografi jurnalistik itu memang dapat dipetakan mewakili suatu periode zaman.

Seorang pengunjung menyimak karya pewarta Antara, Saptono. Karya itu menjadi ikon omega pergerakan Reformasi. (foto: ANTARA/Wahyu Putro)

Oscar menyebut peringatan 20 tahun Reformasi menjadi momentum yang tepat untuk kembali menjejakkan langkah dalam meneriakkan amanat gerakan Reformasi yang belum tertuntaskan atau rampung. "Boro-boro amanat Reformasi bisa berangsur dipecahkan serta diatur dalam regulasi yang mewujud nyata. Fenomena yang kasatmata justru memperlihatkan kepada khalayak, roda berputar semakin kencang menuju disintegrasi bangsa yang gembar-gembornya menyebut diri sendiri sebagai bangsa majemuk yang 'religius' sekaligus berjiwa gotong royong," ujarnya.

Sumarsih, ibu dari Wawan, mahasiswa yang menjadi korban tragedi Semanggi I, mengunjungi pameran XX Tahun Reformasi - Segenggam Refleksi, Sabtu (12/5). (foto: ANTARA/Oscar Motuloh)

Sebagai penanda akan masih menggeloranya seruan untuk menuntaskan tujuan pembaruan tersebut, pameran XX Tahun Reformasi-Segenggam Refleksi menampilkan foto-foto hasil kerja bareng dengan Pewarta Foto Indonesia (PFI), komunitas desain Grafisosial Indonesia, serta FSRM Untar. Meski digagas dalam waktu singkat, para pewarta foto harian dan majalah berita Indonesia memberikan respons positif dengan menyumbangkan karya mereka untuk proyek dalam momentum yang penting tersebut.

Pameran bersama itu menyajikan karya foto jurnalistik dalam tampilan khas ala gerakan sosial. Selain itu, komunitas Grafisosial dan FSRP Universitas Tarumanegara yang pada masa Reformasi telibat sebagai pelaku membuat produksi video Agent of Change. Video pendek itu diputar perdana dalam gelaran pameran tersebut. Dalam durasi 16 menit, video itu menampilkan perwakilan aktivis yang membeberkan harapan mereka terhadap gerakan yang dulu mereka inisiasi itu. Kamerawan Kantor Berita Associated Press, Andi Jatmiko, juga merangkum sebuah video tentang gerakan Reformasi. Video Road to Democracy berdurasi 2,5 menit itu berisikan perjalanan politik RI di era Reformasi dan setelahnya.

Ibu Sumarsih menyaksikan pameran XX Tahun Reformasi - Segenggam Refleksi. (foto: ANTARA/Fanny Octavianus)

Saat malam pembukaan, Jumat (11/5), digelar juga pertunjukan musik Blues 4 Freedom. Oscar menyebut blues sebagai medium ungkapan suara hati. Tony Q Rastafara dan Marjinal yang aktif juga dalam gelaran Reformasi tempo hari tampil menyuarakan pergerakan yang belum rampung. Ada juga Stokvis, Rhacun, dan Koboi Dijital yang hadir mewakili generasi baru dalam menggaungkan ekspresi mereka.

Pameran akan berlangsung hingga 11 Juni 2018 mendatang di GFJA, Jalan Antara No 59, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Kamu bisa menyaksikan imaji-imaji menggugah dari pergerakan aktivis Reformasi di galeri tersebut tanpa dipungut bayaran.(dwi)

Kredit : dwi


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH