Secuplik Riwayat: Sebuah Memoar, antara Kopi dan Taktik Perang Teuku Umar Pahlawan Nasional Teuku Umar. (Istimewa)

BAGI masyarakat Aceh, kalimat beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid (besok pagi kita akan minum kopi di Meulaboh atau aku akan mati syahid), mungkin sangat familier dan berkesan.

Pasalnya, pernyataan tersebut merupakan keinginan salah satu pahlawan nasional asal bumi rencong, Teuku Umar kepada Pang Laot, tangan kanannya. Namun sayang, harapan tinggal kenangan.

Pada Sabtu dini hari, 11 Februari 1899, di Meulaboh, Aceh Barat, NAD, beliau bersama pasukannya termasuk Pang Laot tewas di tangan kolonial Belanda. Puluhan peluru bersarang di dadanya. Teuku Umar gugur sebagai pahlawan ketika baru berusia 45.

Malam sebelumnya, suami dari Cut Meuligou (istri pertama) itu hendak mencegat serta menangkap Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz. Sebagai seorang gubernur, Van Heutsz tampil di saat pemerintah kolonial Belanda hampir kehilangan akal akibat kerugian dari Perang Aceh (1873-1914).

Bersama pasukannya, Teuku Umar datang dari arah Lhok Bubon menuju pinggiran Kota Meulaboh. Namun, rencana itu ternyata diketahui oleh mata-mata Van Heutsz.

Keadaan pun berbalik. Pasukan kolonial justru menyerang rombongan Teuku Umar di perbatasan Kota Meulaboh, Ujong Kalak. Meski demikian, selama menjadi pemimpin dalam Perang Aceh, sejarah mencatat beberapa taktik Teuku Umar membuat kolonial Belanda kewalahan.

Mardanas Safwan dalam buku Teuku Umar menjelaskan, taktik yang dilakukan oleh Teuku Umar kerap menuai pujian. Sebagai contoh, dalam peristiwa penyerangan kapal Nicero dan Hoc Canton yang terbukti membuahkan kesuksesan.

Hasilnya, banyak senjata kolonial Belanda yang berhasil dirampas para pejuang Aceh di bawah komando Teuku Umar. Meski, di sisi lain menimbulkan korban jiwa dari para pejuang dan juga rakyat Aceh.

Selain itu, taktik lain Teuku Umar yang mengejutkan adalah ketika beliau bersama 13 panglima bawahan dan 250 pasukan menyerahkan diri kepada Belanda pada 30 September 1893.

Di hadapan pemerintah kolonial Belanda, Teuku Umar mengucapkan sebuah prasetia. Sumpah tersebut diucapkannya di depan Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh pada waktu itu, Jenderal Christoffel Deykerhoff.

Pada 1 Januari 1894, beliau dinobatkan serta diberi gelar Panglima Perang Besar oleh Gubernur van Teijn. Tidak hanya itu, Teuku Umar pun diberi izin untuk membentuk legiun pasukan dengan jumlah 250 tentara.

Persenjataan untuk pasukan Teuku Umar dilengkapi oleh pemerintah kolonial. Sebanyak 380 senapan kokang modern, 800 senapan jenis lama, 250.000 butir peluru, 500 kilogram mesiu, 120.000 sumbu mesiu, dan lima ton timah untuk persediaan mesiu.

Bahkan, kolonial Belanda juga memperindah rumahnya di Lampisang agar layak menjadi tempat tinggal seorang Panglima Besar. Di halaman rumahnya dilengkapi dua meriam kecil.

Mendengar kabar tersebut, rakyat Aceh dan istri ketiga Teuku Umar, Cut Nyak Dien marah. Mereka mengira sosok yang merupakan panutan rakyat, malah berbalik mendukung penjajah.

Akan tetapi, kekecewaan itu pun berubah. Anthony Reid dalam bukunya Asal Mula Konflik Aceh dari Perebutan Pantai Timur Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19 menjelaskan, ternyata hal tersebut sengaja dilakukan Teuku Umar guna memperoleh senjata, logistik, dan juga mempelajari siasat Belanda.

Setelah merasa tercukupi, Teuku Umar kembali mengangkat senjata bersama rakyat Aceh dan Cut Nyak Dien. Kolonial Belanda pun mengalami banyak kerugian.

Untuk mengenang jasanya, berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973, Teuku Umar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional bersama istrinya, Cut Nyak Dien.

Taktik atau strategi perang Teuku Umar merupakan tamparan keras bagi kolonial Belanda. Beliau tidak hanya melawan secara frontal, tetapi juga menggunakan taktik mengelabui dengan berpura-pura bekerja sama dengan kolonial Belanda. (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH