Secuplik Riwayat: Kisah Heroik Robert Wolter Mongisidi, Menolak Grasi dan Pilih Mati MA Kamah, Robert Wolter Mongisidi, dan Djoeritman (Makassar, c.1948)

BERADA dalam tekanan penjajah Belanda membuat generasi muda terbakar gairah untuk angkat senjata. Pekik kemerdekaan terus bergejolak di setiap penjuru daerah. Hal itu juga yang membuat Robert Wolter Mongisidi, pahlawan muda asal Manado bersama para pejuang begitu semangat menggelorakan perang terhadap Belanda.

Berdasarkan catatan sejarah, Mongisidi lahir di Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, 14 Februari 1925. Ia gugur di depan moncong senapan kolonial Belanda, saat dieksekusi di Pacinang, Makassar, Sulawesi Selatan, pada 5 September 1949. Ketika tewas, usia Mongisidi baru menginjak 24 tahun jalan.

Berhenti Sekolah dan Pilih Berjuang

Dikarenakan Perang Pasifik (1937-1945), pendidikan Mongisidi di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO/setara sekolah menengah pertama) hanya sampai kelas 2. Ia juga sempat memasuki Sekolah Bahasa Nippon sampai penyerahan tanpa syarat Jepang kepada pasukan sekutu.

Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan ketika Mongisidi berada di Makassar. Namun, setelah berakhirnya Perang Dunia II, kolonial Belanda justru berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Indonesia. Mereka pun datang dengan membawa pasukan Administrasi Sipil Hindia Belanda (NICA).

Di Ujungpandang, Makassar, Mongisidi bergabung dalam barisan pejuang kemerdekaan dan terlibat perang dengan pasukan NICA. Namun, keunggulan jumlah dan profesionalisme tentara kolonial menjadikan pejuang harus menggunakan taktik gerilya.

Untuk mengonsolidasikan kekuatan, pada tanggal 17 Juli 1946, Mongisidi bersama Ranggong Daeng Romo dan lainnya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi Selatan (Lapris). Ia pun terpilih sebagai sekretaris jenderal.

Agar memudahkan langkahnya masuk ke kota dan mengintai kekuatan lawan, Mongisidi kerap kali menyamar sebagai Polisi Militer Belanda. Akibat penyamaran itu, pihak kolonial pun dibuat kesulitan dan mengalami kerugian besar. Pasukan Lapris menyerang di sekitar kawasan Polombangkeng.

Untuk mematahkan gerakan para pejuang kemerdekaan, kolonial Belanda mengadakan razia besar-besaran pada 28 Februari 1947. Mongisidi yang sedang menyamar akhirnya tertangkap. Namun, pada 27 Oktober 1947 dia berhasil meloloskan diri sehingga menimbulkan keributan di kalangan tentara.

JB Soedarmanta dalam buku Jejak-Jejak Pahlawan mengatakan, pembersihan pun diperketat kolonial Belanda. Sembilan hari kemudian, Mongosidi kembali ditangkap dan ditahan. "Belanda sempat mengajukan kerja sama. Namun, ditolak. Hal itu membuat Mongisidi diadili dan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer Belanda," kata Soedarmanta dalam bukunya.

Pada saat tanda-tanda perdamaian mulai tampak dengan dimulainya perundingan Konferensi Meja Bundar (5 September 1949), bangsa Indonesia dikejutkan dengan kabar eksekusi mati terhadap Robert Wolter Mongisidi di hadapan regu tembak.

"Hukuman itu dihadapinya dengan tenang, bahkan ia menolak untuk ditutup matanya dengan kain saat diesksekusi. Sebuah Injil digenggam di tangan kiri, dan tangan kanan mengepalkan tinju dengan begitu kuat," kata Soedarmanta di dalam buku yang sama.

Pada saat peluru mengarah kepadanya, bukannya gentar justru ia tetap tenang sambil memekik, 'merdeka'. Pemuda nan gagah berani itu pun tewas. Di dalam sel, secarik kertas ditinggalkan dengan berisikan tulisan, "Setia hingga terakhir dalam keyakinan."

Pada 6 November 1973, Robert Wolter Mongisidi dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia. Empat hari kemudian, ia juga mendapatkan penghargaan tertinggi negara, Bintang Mahaputra (Adiprana). (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH