Secuplik Riwayat: Djamaludin Malik Cahaya Baru untuk Film Indonesia Djamaludin Malik (kiri) dan Umar Ismail (kanan). (Istimewa)

SEBELUM menjadi tokoh sineas nasional, Djamaludin Malik merupakan seorang pegawai di perusahaan pelayaran Belanda Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Lelaki yang lahir di Padang, Hindia Belanda pada 13 Februari 1917 itu juga sempat mendirikan perusahaan pada dekade 1940, dengan nama Djamaludin Malik Concern yang bergerak di bidang perdagangan komoditi.

Tak disangka, perusahaan Djamaludin terus mengalami perkembangan yang cukup pesat, sehingga menambah di berbagai sektor; perdagangan tekstil, kayu, pelayaran, dan kontraktor.

Pada Masa Revolusi (antara 1945 dan 1949), Djamaludin membentuk kelompok sandiwara Bintang Timoer dan membeli kelompok sandiwara Pantjawarna dari Njoo Cheong Seng. Hal tersebut bertujuan untuk menghibur para pejuang yang sedang menghadapi agresi militer kolonial Belanda.

Kepala Bidang Sandiwara, Pusat Kebudayaan Nippon (Jepang) K Yasuda pada masa itu mengatakan, sandiwara dan tari-tarian dalam zaman peperangan modern merupakan senjata yang tajam dalam melakukan peperangan-pikiran.

"Dunia sedang mengalami perubahan besar. Dalam waktu seperti ini, tidak boleh dunia kesenian sandiwara dan tari-menari tertinggal di belakang, seperti siput bersembunyi dalam kerangnya," kata K Yasuda seperti dikutip dari buku Peran Pemuda Dalam Kebangkitan Film Indonesia (2009).

Namun, pada tahun 1947 kondisi dunia sandiwara menjadi terpuruk. Bintang Timoer dan Pantjawarna diambang kehancuran. Atas saran Andjar Asmara, Djamaludin bersama rombongan sandiwara melakukan pertemuan di Solo.

Pertemuan itu membahas langkah yang mesti diambil Djamaludin dan para orang panggung, yakni memproduksi sebuah film, bukan lagi melakukan pertunjukan sandiwara.

Sementara, mereka yang hadir pada pertemuan tersebut ialah Rempo Urip, Astaman, Abdul Hadi, Mohammad Said HJ, Darussalam (pimpinan Bintang Timoer), M Budhrasa (pimpinan Pantjawarna), S Taharnunu, dan Rd Mochtar (Alam Surawidjaja, Cine Drama Atelier, 1952).

Akan tetapi, dikarenakan kondisi Indonesia masih dalam kekisruhan revolusi, tiga tahun kemudian rencana tersebut terwujud. Untuk pertama kali dalam sejarah perfilman, barulah sejak tahun 1950 berdiri perusahaan-perusahaan film milik pribumi.

Misbach Yusa Biran dalam bukunya Peran Pemuda Dalam Kebangkitan Film Indonesia mencatat, pada tahun itu mulai berdiri dua perusahaan besar milik Djamaludin Malik, Perseroan Artis Film Indonesia (Persari) dan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) yang didirikan Usmar Ismail pada 30 Maret 1950.

Dua perusahaan itu merupakan tonggak dalam sejarah perfilman Indonesia. Djamaludin Malik, yang merupakan seorang pengusaha muda membawa secercah harapan di dalam keterpurukan. Meski Djamaludin tidak mengerti akan bidang perfilman, tetapi ia memiliki keberanian yang luar biasa dalam mengambil risiko yang selalu digerakkan oleh pikiran-pikiran besar.

Setelah mendirikan Persari, Djamaludin langsung membeli tanah di Kebayoran untuk dibangun sebuah studio dari bambu dan atap rumbia. Dua tahun kemudian, pada 1952, Persari sudah memiliki studio besar di belakang Studio Produksi Film Indonesia (PFN).

"Setahun kemudian, studio tersebut dilengkapi dengan bangunan studio yang sesuai dengan kebutuhan shooting," kata Misbach.

Studio Persari, kata Misbach, bukan saja luas, tapi juga penampilannya amat mewah untuk kondisi waktu itu. Bahkan, Misbach menduga bahwa studio milik Djamaludin Malik ini adalah yang terbesar dan termewah di Asia Tenggara saat itu. (*)


Tags Artikel Ini

Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH